oleh

Filosofi (Seni) Tarian Danding

Sebuah Refleksi

oleh : Ben Senang Galus

Seni atau tarian Danding dalam realitas kehidupan Ata Manggarai (Orang Manggarai), sejak pra modern, modern, dan berlanjut ke masa postmodern, diperoleh pemahaman bahwa pencarian Seni melalui Seni Tari Danding, Caci, Sanda, Mbata terus berjalan secara dinamis. Namun, seiring dengan perkembang zaman Seni Tari tersebut dikonsepsikan semata-mata sebagai panggung hiburan atau sebagai sebuah tontonan belaka, sementara makna tuntutannya semakin terkikis.

Perjalanan dan perkembangan masyarakat, “Ata Manggarai”, tidaklah berjalan linier dan serentak. Ada kalanya, perjalanan kehidupan itu begitu cepat, melompat, bahkan tak terkendali. Namun tak dapat diingkari bahwa ada perjalanan kehidupan yang begitu lambat(n), sehingga sampai dengan saat ini pun masih berkutat pada kehidupan pemikiran ontologis dan metafisis.

Sungguh sayang, ketika ada sebagian dari saudara kita yang telah merasa puas dengan berbagai capaiannya, sehingga merasa tak perlu berbagi rasa, berbagi cerita, dan pengalaman dengan saudara lain yang berada pada pola kehidupan berbeda.

Pemahaman yang utuh dan menyeluruh atas realitas Seni tari (apapun jenisnya) dan “Ata Manggarai”, elaborasi intensif tentang antropologi seni, serta sosiologi tari, filosofi seni tari Danding dan jenis seni tari lainnya, sangat berpengaruh secara signifikan terhadap jiwa “Ata Manggarai” sehingga muncul pemikiran, sikap, dan perilaku berbeda dan unik dengan warga masyarakat lainnya.

Seni tari Danding mengandung muatan ontologis dan epistemologis serta syarat muatan filsafat (pengetahuan) moral hidup “Ata Manggarai”, seperti: kejujuran, terbuka, egaliter, kerja keras, percaya diri (confidence), motivasi (motivation),  usaha (effort), tanggungjawab (responsibility), inisiatif (initiative), kemauan kuat (perseverence), kasih sayang (caring), kerjasama (team work), berpikir logis (common sense), kemampuan pemecahan masalah (problem solving), serta berkonsentrasi  pada tujuan (focus).

Menurut hemat saya, sekurang-kurangnya terdapat tiga nilai yang diajarkan dalam Seni tari Danding yaitu :1). Moral Knowing.
Terdapat enam hal yang menjadi tujuan dari diajarkannya moral knowing yaitu:
1). Moral awereness (kesadaran moral) 2). Knowing moral values
3). Persperctive taking
4). Moral reasoning
5). Decision making dan
6). Self-knowledge.

2). Moral Feeling. 
Terdapat 6 hal yang merupakan aspek dari emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter yakni :
1). Conscience (hati nurani)
2). Self-esteem (penghargaan diri)
3). Empathy
4). Loving the good
5). Self-control dan
6). Humility (kerendahan hati)

3). Moral Action.
Perbuatan/tindakan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya.  Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu:
1). Kompetensi (competence),
2). Keinginan (will)
3). Kebiasaan (habit).

Dalam Seni tari Danding ataupun seni lainya di Manggarai, di dalamnya terkandung berbagai kebijaksanaan hidup yang tumbuh dan berkembang dalam jiwa “Ata Manggarai”, dan di situlah sumber utama Filsafat Manggarai.   Dimensi ini adalah karakteristik yang dominan dan tidak dapat dilepaskan dengan kecenderungan hidup “Ata Manggarai”.

Pemikiran-pemikiran Manggarai merupakan suatu usaha untuk mencapai kesempurnaan hidup (Ata Nggeluk:orang Kudus/jujur,tulus,lurus, ata cedek: orang yang rajin/giat). Sekadar pengetahuan tentang apa yang hidup dalam “Ata Manggarai”, tidak hanya di antara mereka yang dianggap sebagai pengemban kebudayaan, melainkan bahkan di kalangan rakyat biasa, sudahlah cukup untuk meyakinkan tentang kecintaan mereka terhadap renungan filsafat.

Ketenaran tokoh mitologi Pondik atau Timung Te’e, misalnya, yang dalam mencari air kehidupan untuk memperoleh wahyu dalam ilmu sejati, dapat dipakai sebagai petunjuk betapa pemikiran dalam fisalafat Manggarai telah berakar dalam kehidupan “Ata Manggarai”.

Filosofi hidup orang Manggarai yang tergambar dalam berbagai jenis seni tari tersebut  di atas bisa kita lacak dalam berbagai lakon kehidupan “Ata Manggarai”, seperti Mbata, Danding, Sanda, Caci, Nengkung,  dan seni kerajinan seperti Dedang (Tenun, Songke: kain tradisional orang Manggarai) dan sebagainya. Seni Tari Danding, dan lainnya, tidak sekadar dipahami sebagai seni olah suara, tubuh atau hiburan, namun juga dimaknai sebagai falsafah hidup “Ata Manggarai”. Jiwa dari seni tari Danding diungkapkan ke dalam empat unsur, “konsentrasi (penuh), Semangat, percaya diri dengan rendah hati, dan bertanggung jawab.

Baca Juga :   Uffatisu an Insanin

Konsentrasi adalah ssuatu sikap total(itas) dari penari di atas pentas, akan tetapi konsentrasi tersebut tidak sampai menimbulkan ketegangan jiwa. Konsentrasi adalah suatu kemampuan seseorang penari untuk mengerahkan semua kekuatan pikiran pada suatu sasaran yang jelas. Penari harus dapat atau mampu mentransformasikan dirinya pada suatu peran yang harus dibawakan atau dijalani.

Konsentrasi penari tidak terikat oleh perasaan- perasaan yang aktual. Penari bebas dari kesadaran objektif yang aktual atau praktik perbuatan sehari-hari. Penari tidak mengekspresikan dirinya, tetapi mengkomunikasikan bentuk-bentuk perasaan melalui penyajian simbolis.

Semangat adalah suatu semangat yang membara yang ada pada jiwa penari di atas pentas. Semangat yang dikerahkan itu tidak boleh dilepaskan begitu saja, tetapi harus ditekan atau diarahkan pada suatu yang normal atau wajar. Semangat penari harus dikendalikan, yang pada gilirannya tidak akan berkesan atau kelihatan kasar.

Percaya diri adalah percaya pada diri sendiri yang tidak mengarah pada kesombongan penari di atas pentas. Percaya diri sendiri sangat penting bagi penari. Penari yang telah tampil di atas pentas, harus percaya dengan sepenuh hati bahwa apa yang ditampilkan atau ditarikan adalah baik, dan orang lain atau penonton dapat menikmati dengan baik juga. Jadi seorang penari harus menjadi satu kesatuan dengan tarinya.

Seorang penari tampil di atas pentas bukan sebagai dirinya sendiri, tetapi ia membawakan misi untuk menyampaikan sesuatu kepada penonton atau penikmatnya. Sikap semacam ini harus diyakini, sehingga ia memiliki kepercayaan pada diri penari. Kepercayaan ini dapat menimbulkan sikap yang meyakinkan, pasti, dan tidak ragu-ragu dalam bahasa Manggarai “mberbuntung”.

Bertanggungjawab adalah pantang mundur atau tidak takut menghadapi kesukaran-kesukaran. Penari harus memiliki keberanian dalam menghadapi apa saja waktu pentas. Penari harus menepati janji atau kesanggupan dengan penuh tanggung jawab. Suatu keteguhan hati dalam menarikan suatu tarian atau memainkan suatu peran.

Keteguhan hati “Ata Manggarai” dapat berarti kesetiaan dan keberanian untuk menghadapi situasi apa saja dengan suatu pengorbanan penuh. Suatu contoh apabila seorang penari telah menyanggupi untuk menari, maka walaupun ia dalam keadaan sakit apabila masih dapat menari, ia harus melakukan dengan penuh tanggung jawab.

Harus diakui bahwa sebagian generasi muda masa kini sudah kurang memahami makna berbagai seni tari(an) Manggarai. Karena selama ini banyak generasi muda begitu gandrungan dengan ekspresi (life art) kebudayaan Barat. Sehingga tidak sedikit generasi muda saat ini dalam pengamatan saya telah banyak mengalami erosi (tergerus) apa yang disebut “culture lost generation” atau “Ata Manggarai Mbora Manggarain” (orang Manggarai hilang Kemanggaraiannya).

Dewasa ini banyak aspek penting dari kebudayaan Manggarai mengalami degradasi, karena berbagai faktor, terutama menyangkut nilai, tujuan, latar belakang dan sifat dasar penampilannya. Misalnya dalam kehidupan kebudayaan seni tari. Kebudayaan seni tari menjadi kehilangan local genius-nya yang justeru mendewasakan orang Manggarai dalam berprilaku.

Kebudayaan mulai menampakkan dirinya sekadar slogan murni (panggung hiburan), pada akhirnya kebudayaan akan menjadi transenden dalam kehidupan masyarakat Manggarai, serta spritualitas kebudayaan sekadar sebagai sebuah utopia.

Karena  pada saat ini banyak kalangan generasi muda merasa tidak mempunyai akar sejarah dengan masa lampaunya, mereka menganggap bahwa yang berkaitan dengan tradisional itu adalah kuno, ketinggalan zaman, “out of date”.
Apa pun yang telah ia atau kita lakukan dalam ragam seni tari Danding, atau pun lainnya telah mewartakan prinsip moral:

”Gloria Dei Vivens Homo, Irenius, Adversus Haereses (memancarkan cahaya kemuliaan Allah penciptanya).

Dan kita pun selalu berdoa selalu berdoa, Deus, gratias agimus tibi (Tuhan, kami bersyukur padaMu) atas tana Nunca Lale Kami!

Pasti tidaklah ada sebuah karya yang sempurna, karena “we are no angels”. Tapi dengan kekeliruan itu, pasti kemengadaan manusia menyata atau dalam ungkapan latin dikenal dengan
“Si fallor, sum”, yang artinya “jika aku keliru, maka aku ada’.  Jadi kekeliruan  menjadi cara mengada juga.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed