oleh

Kades Fransiskus Yunsun Minta Maaf di Hadapan Aktivis GMNI Manggarai

RUTENG, SwaraNTT.net ~ Kepala Desa Rengkam Kecamatan Pocoranaka Timur Fransiskus Yunsun, Pelaku kekerasan terhadap korban Theodorus Usman Wanto salah satu aktivis GMNI Cabang Manggarai.

Fransiskus Yunsun mendatangi Mapolres Manggarai pada pukul 11.00 Wita guna menyelesaikan persoalan kekerasan yang dilakukannya terhadap kader GMNI, 18/08/2018.

Kepala Desa Rengkam Fransiskus Yunsun Tunduk dan Mengakui Kesalahannya Di depan Jajaran Kepengurusan DPC GMNI Manggarai atas Arogansinya memukul Salah Satu Kader GMNI, di ruangan loby lantai satu Polres Manggarai.

Yunsun menyatakan kepada perwakilan keluarga dan GMNI Manggarai “saya minta maaf kepada seluruh keluarga besar korban dan kepada seluruh jajaran aktivis GMNI Manggarai karena saya sudah melakukan tindakan kekerasan terhadap saudara Theodorus Usman Wanto sebagai salah satu kader GMNI.

“Saya hilaf karena ringan tangan dan memukul sudara Theodorus hanya karena bermula pada posting tulisan dan foto yang mengkritisi keadaan kantor desa di desa Rengkam di akun Facebook miliknya”, tandas Yunsun

Karena itu, saat ini saya meminta maaf kepada seluruh keluarga besar dari saudara Thodorus dan kepada seluruh aktivis GMNI Cabang Manggarai. Selain itu, saya juga berterima kasih karena pihak keluarga dan organisasi GMNI Manggarai mau menyelesaikan masalah ini melalui prosesi adat budaya Manggarai.

“Saya dan pihak keluarga, pihak kepolisian serta dihadapan teman-teman aktivis GMNI telah menyepakati bahwa penyelesaian masalah diselesaikan melalui prosesi adat dan budaya Manggarai sehingga kemudian saya dibebankan dengan denda satu ekor Babi dan uang senilai satu juta rupiah, lanjut Yunsun.

Baca Juga :   Kronologi Lengkap Peristiwa Naas Yang Menimpa Pegawai Koperasi Di Tengku Romot

Pada hari Senin 20 Agustus 2018, saya dan pihak korban akan lakukan acara damai di Mbaru Gendang (rumah adat) Nengkal desa Rengkam. Semua yang dibebankan kepada saya dan yang telah disepakati secara bersama akan dilunaskan saat acara berlangsung di Mbaru Gendang Nengkal.

Sementara itu, Thodorus Usman Wanto menyatakan bahwa atas nama keluarga “Saya menerima permohonan maaf dari pak Kades. Tapi, dengan catatan pak Kades harus buat perjanjian dengan tanda tangan di atas meterai 6000. Manakala, pak Kades melakukan hal yang sama, baik terhadap saya atau pun siapa saja di desa Rengkam, maka pak Kades akan menanggung sendiri resikonya. Artinya, pak Kades pasti akan berhubungan dengan pihak keamanan lagi, tandas Theodorus.

Perwakilan GMNI Manggarai Bros Jatam meminta kepada kedua belah pihak agar ketika masalah ini sudah diselesaikan secara adat. Maka, aktivitas kekeluargaan seperti biasanya terus dijaga. Jangan pernah terjadi bermusuhan dan saling dusta terhadap kedua belah pihak karena kebesaran kita orang Manggarai adalah saling menjaga dan menghormati, itu yang penting, tandas Jatam.

Lanjut Jatam, untuk menyaksikan penyelesaian masalah ini di mbaru gendang (rumah adat) Nengkal, kami dari GMNI Manggarai akan hadir dan menyaksikan langsung kegiatan tersebut.

Karena itu, kami minta semua pihak agar tetap mengkawalnya hingga selesai pada tanggal 20 Agustus 2018 di desa Rengkam tepatnya di mbaru Gendang Nengkal, tutup Jatam. [R. Parno/SN]

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed