oleh

Literasi Peringatan Hari Keluarga Nasional Dalam Mengatasi Stunting

Oleh : Konstantinus Hati, S.ST.,M.Kes

Pengertian Keluarga
Secara klasik keluarga dapat diartikan sebagai unit terkecil dari Masyarakat yang terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak. Pengertian ini merupakan batasan kecil dari pengertian luasnya dari keluarga. Banyak arti luas luas dari kata keluarga. Orang juga berbicara tentang keluarga tidak hanya terbatas pada ayah, ibu dan anak. Berbicara tentang keluarga besar misalnya terdiri dari ayah, ibu, anak, om, tanta, nenek, kakek, papa tua, mama tua, dan lain sebagainya.

Namun, berkaitan dengan pengertian keluarga yang dimaksudkan dalam program pembangunan keluarga adalah batasan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak kandung. Batasan ini sering dipakai sebagai data dalam memberikan perhatian bantuan pemerintah maupun konsentrasi pembangunan dalam setiap program keluarga.

Itulah sebabnya jika ada anak yang harus dimasukan sebagai anggota keluarga angkat maka harus dilengkapi dengan akta sebagai legalitas hukum bahwa seseorang telah diangkat menjadi anak dan ayah atau ibu dari si anak. Hal ini berlaku untuk memudahkan akses pelayanan dalam setiap stakeholders selama orang itu hidup sebagai warga negara.

Literasi Peringatan Hari Keluarga Nasional
Setiap tanggal 29 Juni dalam tahun berjalan, BKKBN selalu memperingati Hari Keluarga Nasional. Penetapan tanggal tersebut sejak tahun 1993 dan diperkuat melalui amanat Keputusan Presiden Nomor 39 tahun 2014 tentang HARGANAS (Hari Keluarga Nasional).

Setiap kali melaksanakan upacara HARGANAS Kepala Badan Keluarga Berencana Nasional selalu memberikan Sambutan yang berpesan tentang 8 fungsi keluarga menurut BKKBN diantaranya adalah pembinaan dalam bidang rohani yaitu fungsi agama, keluarga sebagai tempat membagi cinta kasih yaitu fungsi cinta kasih, keluarga sebagai pusat perlindungan yaitu fungsi perlindungan, keluarga sebagai pusat pusat dan sumber perencanaan ekonomi yaitu fungsi ekonomi, keluarga sebagai pemberi pendidikan dini informal dan non formal yaitu fungsi pendidikan, keluarga sebagai penerus genetik yaitu fungsi reproduksi, keluarga sebagai tempat hidup bersama yang nyaman yaitu fungsi sosial dan keluarga sebagai komponen terkecil memelihara dan menjaga lingkungan hidup atau sebagai fungsi lingkungan.

Kesemua fungsi keluarga di atas memiliki literasi yang harus diejawantahkan bersama oleh setiap individu dalam keluarga. Tentu yang mengedepan hal itu adalah ayah dan ibu dalam keluarga dalam setiap moment pendekatan yang familiar antara individu.

Pendekatan persuatif yang paling tepat dalam keluarga adalah reuni keluarga (the family reuniting), menciptakan moment interaksi yang tepat dalam keluarga ( the top interacting of family), menciptakan kemampuan atau kekuatan atau daya dalam keluarga untuk memenuhi kebutuhan individunya ( the empowering of family) dan menciptakan keluarga yang terbuka.

Setiap individu harus terbuka akan keinginannya, berdiskusi, berbagi pendapat, ramah serta menciptakan iluminasi kehidupan sosial keluarga yang aman (the sharing and caring of family).

Namun demikian, keluarga yang baik tidak berarti tidak ada pertengkaran atau percecokan. Setiap keluarga harus ada perbedaan pendapat karena itu adalah ciri penting keluarga yang terdiri dari individu cerdas, pintar dan merdeka dalam meyampaikan serta mempertahankan pendapat. Mengapa ? jawabanya setiap individu dalam keluarga memiliki kemampuan berbicara, kebebasan berpendapat dan juga keberanian untuk bertengkar.

Ingat ! ayah harus menanamkan kebajikan bagi diri anaknya dan ibu menanamkan kelemahlembutan bagi anaknya. Dalam kebajikan ada keberanian dan dalam kelemahlembutan ada kasih sayang. Keduanya harus bisa dipraktekkan dalam keluarga.

Pilar pembangunan Keluarga.
Dalam undang-undang nomor 52 tahun 2009 tentang Kependudukan dan Pembangunan keluarga ada empat pilar dalam pembangunan keluarga diantaranya adalah pembatasan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan ketahanan keluarga dan peningkatan kesejahteraan keluarga.

Setiap wanita indonesia saat ini sudah bisa ditekan jumlah kemampuan melahirkan. Pada tahun 1970-an setiap wanita mampu melahirkan 7-10 orang anak bahkan lebih. Namun saat ini wanita Indonesia hanya melahirkan 2-3 orang. Untuk Provinsi NTT sudah TFR-nya sudah mencapai 3,34 artinya setiap wanita hanya melahirkan 3-4 orang.

Namun, sampai saat ini masih banyak anak Indonesia yang hamil dibawah Usia 15 tahun. Dalam Jateng.bkkbn.go.id menyampaikan informasi statistik BPS Indonesia bahwa miris terdapat anak Indonesia hamil usia kuarng dari 15 tahun mencapai angka 35%. Cukup membahayakan bagi masa depan anak jika tidak diperhatikan.

Usia seperti itu adalah usia masih sekolah. Dilain sisi, banyak sekolah yang berkualitas tidak mau mendidik anak yang sudah jatuh dalam kecelakaan seperti itu. Mereka biasanya diterima atau ditampung pada sekolah-sekolah yang tidak berkualitas. Ini bisa digambarkan bahwa mereka akan mengenyang ilmu tidak maksimal.
Keluarga merupakan icon pembangunan yang terkonsentrasi dari semua bidang kehidupan bangsa dan negara.

Baca Juga :   Problematika Pekerja Migran NTT

Mencapai ketahanan ekonomi dan kesejahteraan kehidupan merupakan suatu prestasi dan juga prestise dalam sosial bagi keluarga. Banyak keluarga sukses dalam ekonomi sehingga kehidupan mereka pasti sejahtera, namun tidak sedikit pula jumlahnya yang menderita. Menurut data masih banyak keluarga kita di Indonesia ini yang memiliki anggota keluarga yang disabilitas yang kurang bahkan tidak diperhatikan, angka stunting yang masih tinggi, kemiskinan yang semakin susah ditangani.

Bahkan hal ini pun terdapat banyak ditengah banyaknya orang-orang pintar yang setiap hari berkeliaran dan pandai bicara tentang hidup ini. Namun, tidak sedikit pendapat mereka kurang didengar walaupun mereka senantiasa berdengung untuk membela kaum yang miris terlupakan.

Banyak berita mempublikasikan bahwa masih terdapat 15,8% keluarga yang memiliki anggota keluarga yang memiliki gangguan jiwa berat. Petikan data kemkes oleh Trihono pada Southeast Asia Mental Health 2018 di Jakarta tanggal 30 Agustus yang disampaikan oleh Konsultan Health Policy Unit telah menggambarkan hal tersebut sudah ditangani oleh organisasi mereka.

Sayang di daerah kita banyak kaum disfability yang kurang diperhatikan. Terutama di NTT belum adalah Rumah Sakit besar untuk gangguan jiwa. Setiap gangguan pasti ditangani namun belum maksimal paling masih ditangani di rumah sakit WZ Yohanes karena ada ruangan khusus. Namun, belum mempunyai rumah sakit khusus untuk gangguan jiwa.

Selain ribut dengan persoalan kesehatan lain, keluarga Indonesia juga harus mengatasi persoalan kemiskinan yang berujung stunting. Persoalan stunting adalah fokus perhatian bangsa saat ini. Berdasarkan data BPS Indoensia masih terdapat 21,1% stunting dan tertinggi adalah NTT mencapai 40,3% disamping terendah adalah Bali 19,1%. Artinya masih terdapat 20,1 juta anak Indonesia yang menderita stunting (sumber data status Gizi-PSG 2017 Kemkes RI.

Stunting merupakan salah satu penghambat negara untuk mendapatkan generasi cerdas dan berkualitas. Kita dituntut untuk berperang membina perilaku perbaikan gizi serta giat bekerja memperoleh rejeki dalam hidup agar keluarga kita bebas dari bahaya stunting. Keluarga stunting harus menghadapi hal-hal seperti anak yang perkembangan otaknya dan fisiknya terlambat, anak yang sulit berprestasi, anak yang rentan terhadap penyakit, serta anak cepat gemuk saat dewasa.

Hal ini akan rentan menderita penyakit jantung dan diabetes. Semua persoalan ini merupakan hambatan dan bahaya keluarga Indonesia. Bagi negara, bahaya stunting sudah menelan rp 300 triliun serta menurunkan produk domestik mencapai 3%.

Cara mengatasi stunting
Apa langkah keluarga mengatasi stunting ? keluarga Indonesia harus memerangi stunting melalui empat langkah berikut yaitu :
pertama : berikan ASI dan makanan pendamping ASI bagi anak sebelum mencapai usia 2 tahun. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan gizi 1000 hari kehidupan pertama. Pembentukan kecerdasan anak dimulai sejak dalam kandungan ketika otaknya mulai terbentuk pada usia kehamilan awal, maka mulai saat itu asupan gizi bagi ibu hamil harus terpenuhi maksimal agar tidak boleh ada bagian Otaknya yang kosong.
Kedua : akses air bersih dan fasilitas sanitasi. Ketersediaan air bersih merupakan unsur kehidupan yang paling penting. Kitab suci saja menyebutnya air sumber hidup. Air merupakan unsur paling penting dalam kebutuhan tubuh. Dengan tersedianya air bersih maka keluarga pasti sehat. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pasti akan terpenuhi maka dengan demikian anggota keluarga tidak mudah terkena penyakit menular maupun penyakit tidak menular.
Ketiga : Pemenuhan Kebutuhan Gizi bagi ibu hamil. Seorang ibu hamil harus memenuhi tiga unsur utama penting dalam makanannya yaitu protein, karbohidrat dan vitamin. Protein bisa diperoleh dari daging, telur atau kacang-kacangan, sedangkan karbohidrat didapat dari padi,jagung dan umbi-umbian serta vitamin bersumber dari sayuran hijau.

Realita pada masyarakat kita ibu hamil hanya makan nasi dan mie. Itu artinya dia hanya mendapat satu unsur yaitu karbohidrat. Ah.. sayang ya, ada lahan depan rumah namun tidak dimanfaatkan untuk menanam sayur.
Keempat : pemantauan pertumbuhan balita di posyandu. Masih banyak anak Indonesia yang tidak ke posyandu, pada posyandu merupakan tempat mendapat konseling gizi terbaik sampai saat ini. Di posyandu seorang ibu dan ayah bisa mendapat pesan gizi dari petugas dan sebaya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed