oleh

Strategi “CERMMAT” Untuk Mendukung SDM Unggul, Indonesia Maju

Oleh: Drikben Eka Putra Nggadas

Sepenggal kutipan isi Pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo dalam rapat paripurna DPR pada hari Jumat, 16 Agustus 2019 sehari menjelang HUT Kemerdekaan NKRI yang ke-74 berbunyi “…untuk Indonesia maju, salah satu kuncinya adalah dengan terus meningkatkan daya saing nasional, dengan bertumpu pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). SDM yang berkualitas merupakan modal penting memasuki era ekonomi berbasis digital…”

Inti dari sepenggal pidato yang dikutip di atas mau menegaskan bahwa, hanya orang yang mempunyai Sumber Daya Manusia yang mumpuni, yang mampu bersaing dalam menerima setiap perkembangan yang ada. Apalagi perkembangan ilmu dan teknologi saat ini sudah semakin pesat dan masif, dan ini merupakan tantangan bagi dunia untuk berbenah diri dalam menghadapinya.

Dunia pendidikan sebagai penghasil sumber daya manusia sedang gencar melakukan berbagai kegiatan ilmiah untuk menghadapi era yang dikenal luas dengan nama Era Indusrti 4.0. Revolusi Industri 4.0 dengan artificial intelligence atau kecerdasan buatan telah banyak mengambil alih sejumlah pekerjaan fisik. Membuat banyak orang kehilangan pekerjaan.

Tidak cukup hanya dengan mengandalkan pengetahuan yang didapat. Butuh additional skill atau skil tambahan khususnya dalam bidang teknologi digital dengan segala tuntutannya. Inilah bentuk adaptasi terhadap disrupsi yang dihadapi kaum milenial saat ini.

Setiap Stakeholder baik pemerintah maupun masyarakat harus menyiapkan strategi yang baik, untuk semua jenis dan jenjang pendidikan agar tetap survive dengan perkembangan zaman yang cepat berubah, seperti yang disampaikan oleh Gubernur NTT terkait industry 4.0 bahwa, pengetahuan harus dibangun atas rasa tanggung jawab. Tidak cukup aspek kognitif tapi juga afektif dan keberanian mengambil resiko.

Sehebat apapun orang membangun pengetahuan, kalau tidak punya kepedulian terhadap sesama, lingkungan serta pencipta dan tidak berani ambil resiko, maka akan menimbulkan kehancuran yang hebat. Suka atau tidak suka, perubahan akan datang kepada kita melalui teknologi informasi. Kita harus menggunakannya untuk membangun semua potensi yang kita miliki.

Perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan khususnya yang menyentuh langsung dengan anak didik antara lain: textbook sebagai sumber belajar berubah menjadi ebook, mencatat dan fotocopy materi berubah menjadi mengetik dan mendownload. Untuk menghadapi perubahan pesat yang selalu terjadi, maka dibutuhkan sistem manejemen belajar mengajar sehingga anak didik mandiri dan teratur serta terarah dalam belajar.

Tujuan pendidikan dilaksanakan agar anak didik dapat mencapai tingkat kecerdasan kognitif, afektif dan psikomotorik atau kemampuan intelektual, sikap dan keterampilan yang baik. Pemerintah juga telah melaksanakan program wajib belajar 12 tahun, pendidikan dan pelatihan, workshop, seminar bagi tenaga pendidik.

Melalui kurikulum dan berbagai pelatihan tersebut, diharapkan guru selalu berinovasi dan berkreasi dengan model, pendekatan, strategi, metode teknik atau taktik dan media  pembelajaran, guna pelaksanaan pembelajaran berkualitas serta berbagai program pendukung seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP), di jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, Beasiswa di Pendidikan tinggi demi kompetensi peserta didik dapat tercapai.

Untuk menghadapi era industri 4.0, anak semakin individualis dengan android di tangannya untuk berkomunikasi maupun sibuk dengan game online. Anak perlu dipacu untuk memiliki keterampilan sosial agar dapat mendukung pendidikannya. Azzet (2011) menyampaikan bahwa setidaknya ada lima Keterampilan Sosial yang perlu dilatihkan pada anak, yaitu keterampilan berkomunikasi, keterampilan dalam membuat humor, keterampilan menjalin persahabatan, keterampilan berperan dalam kelompok, dan keterampilan bersopan santun dalam pergaulan.

Berbagai hasil penelitian, pendapat pakar dan opini telah dipublikasikan demi mempersiapkan dan mendukung pendidikan berkualitas. Tetapi, pada kesempatan ini, penulis memberikan alternatif strategi bagi pendidik dan orang tua untuk meningkatkan potensi anak didik menghadapi era industri 4.0. Pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggungjawab pendidik, tetapi juga tanggungjawab orang tua, karena keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak dalam mendapatkan pendidikan.

Kepuasan psikis yang diperoleh anak dalam keluarga akan sangat menentukan bagaimana ia akan bereaksi terhadap lingkungan.
HUT Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke 74 tahun 2019 mengusung tema “SDM UNGGUL INDONESIA MAJU”. Tentunya untuk menyukseskan tema nasional ini, maka kita masyarakat Indonesia yang akan mewujudkannya melalui tindakan nyata.

Oleh karena itu, untuk mendukung SDM UNGGUL INDONESIA MAJU, maka orangtua dan pendidik (guru) perlu mengawal anak-anak sebagai generasi emas masa depan bangsa melalui Strategi CERMMAT. Pengembangan potensi anak oleh guru dan orang tua melalui strategi CERMMAT (Cepat, Etika, Rasional, Menanyakan dan Mendengarkan, Arif, dan Teladan). Strategi CERMAT dijabarkan lebih lanjut, sebagai berikut:

Cepat
Era industri 4.0 identik dengan kata cepat. Perubahan yang terjadi dengan cepat, maka orang tua dan guru harus menyikapi anak dengan cepat sehingga anak merasa dihargai dan diperhatikan. Ketika guru dan orang tua tidak cepat menanggapi atau merespon anak, maka anak akan mencari perhatian di tempat yang lain.

Etika
Guru dan orang tua harus mengajar dan mendidik anak dengan etika, sehingga anak dapat berkata, bertindak dan berperilaku dengan memperhatikan etika. Era industri 4.0 membutuhkan sumber daya manusia yang beretika. Dengan etika, anak dapat membedakan pengaruh baik dan buruk yang terjadi di era serba digital saat ini. Jika anak tidak memiliki etika yang baik, maka perkembangan teknologi akan membuat anak tersebut terlena dan melupakan etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Rasional
Guru dan orang tua perlu mengajarkan anak untuk bertindak rasional. Anak harus diajarkan melakukan segala sesuatu dengan alasan yang positif. Anak perlu dididik bahwa perkembangan teknologi dapat membuat ia terlarut dalam hal yang tidak bermakna, dan melupakan hal baik atau positif yang seharusnya dikerjakan atau dilakukan, seperti game online membuat anak lupa mengerjakan tugas yang diberikan orang tua dan guru.

Menanyakan dan Mendengarkan
Guru dan orang tua perlu mengajak anak berdiskusi tentang segala hal dengan cara menanyakan dan mendengarkan. Anak di era industry 4.0 akan cenderung pasif terhadap pembicaraan dengan guru dan orang tua. Oleh karena itu orang tua dan guru harus berinisiatif untuk menggali pembicaraan dengan anak baik di rumah maupun di sekolah. Melalui hal ini, anak dapat memiliki keterampilan berkomunikasi secara nyata dengan orang sekitar tidak hanya asyik sendiri di dunia maya.

Arif
Orang tua dan guru harus mendidik anak dengaan arif bijaksana. Cara mendidik anak usia prasekolah tentu berbeda dengan cara mendidik anak usia sekolah dasar, sekolah menengah bahkan sekolah tinggi. Pendekatan yang digunakan tentu berbeda pula. Bagaimana memperkenalkan pendidikan dan perkembangan teknologi kepada anak perlu dilakukan dengan arif dan terbuka sehingga anak tidak kaku ketika menemui hal baru dalam kesehariannya.

Teladan
Guru dan orang tua harus bisa memberikan teladan yang baik bagi anak. Segala upaya mendidik yang diterapkan tidak akan berhasil jika teladan yang diberikan tidak baik. Apa yang dikatakan harus dibuat, apa yang diajarka orang tua dan guru perlu dilakukan sebagai bukti dan alasan bagi anak untuk mengikuti ajaran orang tua dan guru.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta individualisme anak milenial semakin tinggi di era industri 4.0, maka orang tua yang sibuk mencari nafkah harus cermat menghadapi pola tingkah laku anak. Guru sebagai pendidik juga harus cermat dalam mendidik murid. Orang tua dan guru harus bersinergi dengan cermat untuk membawa anak menuju kesuksesan dalam pendidikan dan hidupnya di masa mendatang.

Mengajar dan mendidik anak baik di rumah maupun sekolah dalam era industri 4.0 harus dilaksanakan secara CERMMAT, yaitu: Cepat dalam menanggapi dan merespon perkembangan anak, dengan penuh Etika serta Rasional ketika Menanyakan dan mendengarkan kebutuhan dan keinginan anak, Arif dan bijaksana serta memberikan Teladan yang positif bagi anak. Jika strategi cermmat ini dilaksanakan orang tua dan guru, maka anak telah siap menghadapi tantangan dan perubahan yang terjadi di era industri 4.0.

Alumnus PPS Pendidikan Sains Universitas Negeri Yogyakarta

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 comment

News Feed