oleh

Tantangan dan Peluang Bonus Demografi Bagi Masyarakat NTT

-OPINI-454 views

Oleh: Melkianus Pote Hadi

Bonus demografi menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk melakukan percepatan pembangunan ekonomi. Ini didukung ketersediaan sumber daya manusia (SDM) usia produktif dalam jumlah signifikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, Indonesia akan menikmati era bonus demografi pada 2020 dan berakhir pada tahun 2035. Pada masa tersebut, jumlah penduduk usia produktif diproyeksi berada pada grafik tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk Indonesia yang sebesar 297 juta jiwa.

Rasio usia produktif (15-64 tahun) di atas 64 persen sudah lebih dari cukup bagi Indonesia untuk melesat menjadi negara maju. Ini adalah rasio usia produkif terbaik Indonesia yang mulai kita nikmati nanti 2020 dan akan berakhir pada 2035. Namun jumlah yang besar tidaklah cukup tanpa diimbangi kualitas baik. Tugas kita semua untuk menjadikan bonus demografi ini memiliki makna bagi percepatan pembangunan di Indonesia.

Bonus demografi menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memastikan percepatan pembangunan ekonomi menjadi negara maju sejajar dengan negara-negara besar lainnya. Di depan mata kita ada MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dan perdagangan bebas Asia dan dunia. Saatnya pemuda Indonesia membangun visi yang besar menatap dunia yang ditunjang pembangunan manusia berkualitas.

Beberapa negara gagal memetik bonus demografi, seperti di Afrika Utara dan Amerika Latin. Penyebab kegagalan tersebut adalah adanya faktor kelembagaan yang tidak kondusif. Seperti menyangkut kepastian hukum, hak cipta, efisiensi birokrasi, dan kebijakan makroekonomi. Kemampuan penyerapan tenaga kerja yang tidak seimbang juga menjadi penyebab. Tenaga kerja tidak terserap dengan baik oleh perekonomian karena investasi yang tidak produktif. Upaya membangun SDM yang berkualitas sejak dini juga diperlukan sebagai langkah jangka panjang memetik bonus demografi.

Akhir-akhir ini, sering kita lihat dan dengar istilah revolusi industri 4.0 di televisi dan media sosial (medsos). Industri 4.0 sendiri menitikberatkan pergeseran dunia ke arah digital. Revolusi industri generasi pertama ditandai oleh penggunaan mesin uap untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan. Kemudian generasi kedua, melalui penerapan konsep produksi massal dan mulai dimanfaatkannya tenaga listrik. Dan generasi ketiga, ditandai dengan penggunaan teknologi otomasi dalam kegiatan industri.

Sektor industri nasional perlu banyak pembenahan, terutama aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saing di era industri 4.0. Berdasarkan Global Competitiveness Report 2017, posisi daya saing Indonesia berada di peringkat ke-36 dari 100 negara.

Data BPS menyebutkan, industri kreatif telah menyumbang 7 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Industri kreatif inilah yang diharapkan mampu menyerap SDM usia produktif. Dukungan penuh pemerintah sangat diharapkan agar dapat mendorong perekonomian Indonesia di era revolusi industri 4.0.

Untuk menghadapi revolusi industri 4.0, ada beberapa keahlian yang dibutuhkan agar dapat sukses dalam menghadapi dinamika dunia kerja yang terus berubah. Terdapat empat keahlian utama yang dibutuhkan untuk menghadapi industri 4.0.

Pertama, kita harus memiliki keterampilan informasi, media, dan teknologi. Dengan istilah lain, kita harus melek teknologi. Yang dimaksud dengan keterampilan informasi, media, dan teknologi meliputi literasi media, keaksaraan visual, literasi multikultural, kesadaran global, dan literasi teknologi.

Kedua, keterampilan belajar dan berinovasi yang meliputi kreativitas dan keingintahuan, pemecah masalah (problem solving), dan pengambil resiko.

Ketiga, terampil dalam hidup dan belajar seperti memiliki jiwa kepemimpinan dan bertanggung jawab, memiliki nilai etis dan moral, produktivitas dan akuntabilitas, fleksibilitas dan adaptasi, sosial dan lintas budaya, inisiatif dan mengarahkan diri.

Keempat, memiliki kemampuan dalam berkomunikasi efektif seperti mampu bekerja dalam tim dan berkolaborasi, memiliki tanggung jawab pribadi dan sosial, dalam berkomunikasi harus interaktif, memiliki orientasi nasional dan global.

Dapat disimpulkan bahwa usia produktif di era bonus demografi harus mempunyai daya saing yang kuat agar bisa berkompetisi menghadapi revolusi industri 4.0 yang semakin canggih.

Jangan hanya akan menjadi penonton sebuah revolusi dan hanya menjadi korban sebuah disrupsi inovasi. Yang jelas, tentu sebuah inovasi memerlukan semangat jiwa para pemuda khususnya Indonesia yang akan menghadapi bonus demografi ini. Pemuda dituntut agar mampu tidak hanya berkomunikasi pada masyarakat dunia luas, tapi juga kemampuan dalam berkomunikasi pada canggihnya teknologi terbaru.

Baca Juga :   Tafsir Sosial Bunuh Diri

Dengan inovasi pada jiwa pemuda masa kini, hal itulah yang akan membantu terciptanya beberapa lapangan pekerjaan baru yang akan sangat memengaruhi bonus demografi pada Indonesia dalam konteks NTT

         NTT Sulit Capai Bonus Demografi

“Angka kelahiran total NTT masih tinggi di atas nasional yaitu 3,2 anak per wanita usia subur, sementara naisonal 2,6 anak per wanita usia subur,” kata Marianus Mau Kuru, diselah kegiatan Seminar Advokasi Program Kependudukan dan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) dan Bedah Masalah Kependudukan di Kupang, Senin.

Seminar yang dibuka Gubernur NTT Frans Lebu Raya itu menghadirkan sejumlah instansi terkait dari pusat, maupun para kepala daerah bersama unsur DPDR serta perwakilan pemerintah dari 22 kabupaten/kota se-NTT.

Menurutnya, angka kelahiran yang masih tinggi menyebabkan angka penduduk usia ketergantungan (dependency ratio) NTT pada kelompok umur 0-14 tahun masih sangat tinggi.

Hasil proyeksi Bappenas dan BPS pada 2013, katanya, menunjukkan bahwa hingga tahun 2035 NTT tidak bisa mengalami bonus demografi karena angka dependency ratio pada 2035 masih berada pada 62 per 100.

“Artinya beban tanggungan yang harus dipikul oleh 100 orang usia produktif adalah 62 orang penduduk usia non produktif, sementara syarat utama mencapai bonus demografi maka dependency ratio harus berada di bawah angka 50 per 100 atau idelanya 44/100 Ini akan menjadi tantangan dan peluang masyarakat NTT, mari kitamendorong pencapaian bonus demografi dan indeks prestasi manusia (IPM) yang tercipta mulai dalam keluarga, karena akumulasi dari keluarga-keluarga itulah yang menjadi bonus demografi dan IPM suatu daerah atau negara.

Salah satunya caranya dengan membangun kampung keluarga berencana secara terpadu, terintegrasi dan keroyokan semua sektor. Disisi yang lain tak kalah penting adalah Pendidikan tinggi sangat berperan penting dalam menentukan arah kemajuan suatu bangsa, karena bangsa yang maju ditandai dengan tingkat mutu SDM yang tinggi. Selain dituntut untuk menghasilkan SDM yang berkualitas, pendidikan tinggi juga dituntut untuk menghasilkan lulusan yang berkarakter terpuji dan memiliki sikap mental yang kuat dan tangguh.

Untuk dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas, berkarakter terpuji, dan memiliki sikap mental yang kuat dan tangguh, pendidikan karakter yang  diberikan selama mahasiswa menempuh pendidikan menjadi kunci utama.

Pendidikan karakter yang dimaksud di sini adalah karakter yang menunjukkan keistimewaan dan keunggulan dari bangsa Indonesia. Salah satu keunggulan karakter Bangsa Indonesia adalah nasionalisme dan wawasan kebangsaannya.

Wilayah Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, keragaman agama, bahasa, budaya dan ras, namun disatukan oleh aktualisasi semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Bangsa Indonesia sejak lama memiliki ciri khas dan memiliki tempat tersendiri di antara bangsa-bangsa di dunia. Namun, apabila melihat kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini, ada kekhawatiran karakter terpuji bangsa Indonesia yang telah dibentuk oleh nenek moyang sejak berabad-abad yang lalu, kondisi sosial maupun budayanya yang baik yang dirumuskan menjadi budaya Pancasila, saat ini akan tercemar oleh pengaruh budaya lain yang negatif. Hal ini terlihat dari banyaknya kejadian negatif di masyarakat saat ini.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya penanaman pendidikan karakter pada generasi muda penerus bangsa Indonesia.

Perguruan tinggi dalam konteks pendidikan formal menempati posisi di ujung akhir, menjadi problem solver pada kesempatan terakhir (the last opportunity) untuk menumbuhkan potensi karakter terpuji pada diri para mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. Membangun negeri akan sukses apabila sukses membangun karakter mahasiswa. Dalam konteks inilah membangun perguruan tinggi dengan orientasi kesuksesanpengembangan karakter terpuji sebagai landasan sikap profesi, penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan, akan menjadi penentu masa depan bangsa lebih khusus NTT tercinta ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed