oleh

Ahli Waris Ulayat Mengadu Ke DPRD Mabar Terkait Sengkarut Tanah di Golo Mori

-DAERAH-754 views

Labuan Bajo, SwaraNTT.Net – Keturunan ahli waris ulayat tanah di desa Golo Mori yang merupakan eks kedaluan Lo’ok (atau kedaluan Gurung Karot) pada Selasa (22/3/2022) mendatangi lembaga DPRD Kabupaten Manggarai Barat untuk mengadukan sengkarut persoalan di wilayah yang akan dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) tersebut.

Ahli waris hak ulayat yang mendatangi DPRD Mabar itu diwakili Iskandar dan Ibrahim Sabir. Keduanya diterima oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Barat, Marselinus Jer amun di ruang kerjanya.

Mereka menyampaikan berbagai dokumen terkait sengkarut klaim kepemilikan tanah dan klaim sejumlah oknum yang mengaku sebagai pemegang hak ulayat sehingga membagi sejumlah bidang tanah ulayat yang merupakan ulayat Lo’ok.

Iskandar sebagai salah seorang keturunan pemangku hak ulayat Lo’ok merasa prihatin bahwa sejumlah oknum warga desa Golo Mori yang bertindak atas nama ulayat Lo’ok melakukan pembagian tanah ulayat, sekalipun tanpa kewenangan.

Kepada Wakil Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Barat Marselinus Jeramun, Iskandar yang merupakan keturunan eks Kedaluan Lo’ok itu menyatakan keprihatinannya karena mereka yang lakukan klaim sebagai pemegang hak ulayat di Golo Mori tersebut bertindak untuk dan atas nama ulayat Lo’ok demi kepentingan dirinya dan kelompok tertentu termasuk para investor yang mengincar tanah di sekitar kawasan ekonomi khusus (KEK) tersebut.

Menurut Iskandar, yang dibenarkan oleh adiknya, Ibrahim Sabir, bahwa klaim sejumlah oknum di Golo Mori sebagai pemangku ulayat di tanah ulayat Lo’ok tersebut hanya untuk kepentingan investor yang mengincar tanah di Golo Mori.

“Oknum yang mengklaim diri sebagai pemangku ulayat di tanah ulayat Lo’ok hanya untuk kepentingan transaksi penjualan tanah dan sudah begitu banyak tanah yang dijual tanpa alas hak yang jelas atau tanpa sepengetahuan mereka sebagai keturunan pemangku ulayat yang sebenarnya yaitu keturunan Krg Senati atau Krg Mbaru Seng sebagai pemangku ulayat Lo’ok atau Gurung Karot yang pernah menjadi sebuah Kedaluan pada jaman lampau,” urai Iskandar kepada Wakil Ketua DPRD Manggarai Barat, Marselinus Jeramun.

Dalam laporan tertulisnya, Iskandar juga menyampaikan dugaan manipulasi kuasa yang dari pemangku ulayat yaitu Sawa untuk dan atas nama Fungsionaris Adat (Ulayat) desa Golo Mori untuk melakukan pembagian tanah ulayat di beberapa kampung di desa Golo Mori.

Iskandar dalam laporan tertulisnya menguraikan, pada tanggal 10 April 2012 lalu, Hamid Roni yang menjabat sebagai Tua Golo Lenteng mendapat mandat dalam bentuk surat kuasa untuk membagi tanah di Lajar/Kembo, Lenteng, desa Golo Mori.

Pada tanggal yang sama, tulis Iskandar, Tua Golo Jarak atas nama Semiun mendapat surat yang sama dari Ulayat Desa Golo Mori yaitu Sawa untuk membagi tanah yang berlokasi di Bero Langkaw/Watu Ngetok, Jarak desa Golo Mori.

Baca Juga :   Tak Perlu Khawatir, Kini Calon Mahasiswa Baru IKIP Budi Utomo Malang Bisa Kuliah dari Rumah

Namun melalui Surat Pernyataannya pada 15 Juni 2014, lanjut Iskandar, selaku Fungsionaris Adat (Ulayat) Desa Golo Mori menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tidak pernah memberi hak Fungsionaris Adat (ulayat) kepada siapapun termasuk kepada Saudara Hamid Roni selaku Tua Golo Lenteng maupun terhadap Semiun selaku Tua Golo Jarak.

Terkait posisi Sawa, Iskandar menjelaskan bahwa bapak Sawa adalah sebagai Fungsionaris Adat yang diangkat oleh kepala desa Desa Golo Mori, saat dijabat oleh Abdul Karim (alm) untuk kepentingan proyek atau program pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR).

“Itulah yang membuat bapak Sawa menyatakan bahwa dirinya tidak pernah memberikan hak Fungsionaris Adat kepada siapapun di desa Golo Mori”, jelasnya.

Iskandar menegaskan, perjuangan yang dilakukan bersama saudara-saudaranya sebagai keturunan atau ahli waris Ulayat Lo’ok adalah demi menegakkan hak ulayat Lo’ok yang terdiri dari tujuh batu.

Ulayat Lo’ok atau Gurung Karot, tambahnya, pada jaman dahulu adalah salah satu kedaluan dari 38 kedaluan di Manggarai pada jaman dulu. Kedaluan Lo’ok memiliki hak ulayat tersendiri dan pemangku ulayatnya adalah Dalu Lo’ok itu sendiri yang diwariskan kepada keturunannya. Iskandar bersama tiga saudaranya adalah keturunan Dalu Lo’ok yaitu Krg Senati atau Krg Mbaru Seng.

Menanggapi pengaduan keturunan pemangku ulayat Lo’ok atau Gurung Karot tersebut, Wakil Ketua I DRPD Kabupaten Manggarai Barat, Marselinus Jeramun menyatakan akan menanggapi serius dan dalam waktu dekat akan memanggil sejumlah pihak terkait, termasuk pihak kantor BPN Kabupaten Manggarai Barat.

Bahkan menurut Ketua DPD PAN Kabupaten Manggarai Barat itu, tidak menutup kemungkinan akan memanggil pihak-pihak yang berkepentingan lainnya untuk dimintai keterangan agar persoalan ulayat Lo’ok segera tuntas demi kenyamanan pembangunan dan investasi di Golo Mori.

Untuk diketahui, ahli waris ulayat Lo’ok telah dua kali menyurati Kantor BPN Kabupaten Manggarai Barat agar membatalkan semua penerbitan sertifikat hak milik atas tanah di Golo Mori yang diajukan oleh pihak yang tidak mengakui ulayat Lo’ok atau yang diajukan oleh pihak yang perolehan tanahnya bukan dari pemangku ulayat Lo’ok.

News Feed