oleh

BPOLBF Tekankan Kolaborasi Agrowisata Kopi dan Keberlanjutan Produk Saat Resmikan Bengkes Cafe

Labuan Bajo,SwaraNTT.Net – Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) Shana Fatina hadir dalam acara peresmian pemindahan Bengkes Cafe (cafe yang diinisiasi Ketua APEKAM) di Desa Cireng, Kecamatan Satar Mese Utara, Minggu (12/02/2022). Peresmian Bengkes Cafe kali ini dilaksanakan bertepatan dengan pindahnya Bengkes Cafe di lokasi baru yang ke seterusnya akan menjadi lokasi tetap.

Selain hadir untuk memberi dukungan dan siap berkolaborasi, kehadiran BPOLBF juga menjadi bukti keberlanjutan program Benchmarking yang diadakan di tahun 2021 lalu. Dalam program tersebut, BPOLBF mengirim beberapa orang anggota APEKAM (termasuk pemilik Bengkes Cafe) untuk mengikuti studi banding tentang kopi ke sejumlah kota di Pulau Jawa.

Demikian release yang diterima SwaraNTT.Net dari Kepala Divisi Komunikasi Publik Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores Sisilia Lenita Jemana via pesan WhatsApp Selasa,(15/02/2022).

Dalam sambutannya, Dirut BPOLBF mengatakan bahwa saat ini kopi sudah menduduki tempat tersendiri di hati para wisatawan dan ia berharap para pengurus APEKAM tetap solid sehingga tetap menjadikan kopi sebagai produk unggulan.

“Saya senang melihat tempat ini akhirnya berkembang dalam semangat yang sama yaitu mempromosikan kopi dan harapannya ini adalah awal pengembangan agrowisata karena pengalaman berwisata di Labuan Bajo atau Wae Rebo belum lengkap tanpa minum kopi dan ini bukan hanya utk wisatawan tapi juga masyarakat lokal” ujar Shana.

Dirut BPOLBF juga menambahkan bahwa saat ini BPOLBF memiliki beberapa program seperti Floratama Academy untuk mendukung para pengusaha dalam mengemas produknya sehingga layak untuk dipasarkan secara luas dan Program Rantai Pasok untuk mendukung masuknya produk ekraf dan bahan pangan lokal ke hotel dan juga restoran yang ada di Labuan Bajo.

Shana juga melanjutkan bahwa dari semua proses yang dilalui, poin yang paling penting adalah komitmen untuk konsisten.

“Yang paling penting dalam proses ini adalah teman-teman bisa masuk ke tahap konsisten karena pada dasarnya hotel dan restoran sangat ingin menyerap produk lokal, tinggal bagaimana kita berkomitmen untuk secara terus menerus memasok kebutuhan yang diinginkan begitupun dengan cafe ini, harus komitmen untuk selalu buka dan siap melayani para tamu” jelas Shana.

Dirut BPOLBF menambahkan beberapa hal yaitu perlu narasi yang dibangun di cafe tersebut dan berharap agar Bengkes Cafe dapat menjadi pusat informasi dari potensi wisata di sekitarnya.

“Mari kita narasikan tempat ini sehingga nantinya wisatawan bisa tertarik untuk ke kebun kopinya langsung dan menikmati pengalaman wisata yang tidak terlupakan. Tempat ini juga bisa dijadikan sebagai pusat informasi untuk potensi-potensi yang ada di sekitar tempat ini. Mari kita bangun kopi Manggarai yg berkualitas dan mendunia” tutupnya.

Hal senada juga disampaikan Penasihat APEKAM, Romo Beny Jaya, Pr. Menurutnya cafe ini bisa menjadi penggerak bagi UMKM di sekitar.

“Saat ini kopi bukan hanya kopi yg dituang di gelas tapi juga dikemas dalam bentuk lain dan bisa menjadi buah tangan sehingga perlu dipikirkan juga pengemasannya dan tempat ini dapat menjadi pusat UMKM lokal, jadi yang punya ubi bisa dititipkan di sini, yang punya keahlian mengolahnya menjadi keripik dan lain-lain bisa dikumpulkan di sini, bagi yang punya kerajinan bisa dipajang di sini juga” jelasnya.

Cafe yang digagas oleh Ketua APEKAM, Sales Pakis tersebut direncanakan akan menjadikan kopi  (red caturra, yellow caturra,  S 795 dan robusta) sebagai menu utama. Menurutnya tempat ini adalah simbol harapan dari para petani yang tergabung dalam APEKAM.

“Minum kopi di Bengkes Cafe itu berarti membantu petani-petani yang terhimpun dalam APEKAM. Walaupun profesi kita berbeda tapi tujuan kita sama, yaitu meningkatkan pariwisata di kabupaten ini dengan peran masing-masing” jelasnya.

Sales juga menambahkan bahwa cafe yang ia bangun menaruh harapan agar nantinya kopi dari daerahnya yaitu di Lelak bisa diproduksi dan dipasarkan dengan lebih baik dan dapat memberi pemasukan kepada 1250 petani dari 6 desa di kecamatan Lelak dan Ruteng.

Baca Juga :   Warga Desa Siru, Kecamatan Lembor, Kabupaten Mabar, Terima Bantuan Kambing

Pariwisata adalah salah satu industri dengan tingkat pertumbuhan terbesar di Indonesia termasuk Pulau Flores. Pertumbuhan dari sektor pariwisata di pulau yang dijuluki sebagai “Pulau Bunga” ini merupakan potensi yang luar biasa bagi produk lokal.

Perkembangan ini tidak hanya menimbulkan peningkatan kebutuhan atas fasilitas yang terkait secara langsung ke dunia pariwisata, seperti akomodasi dan restoran, tetapi juga memiliki efek domino ke sektor lain seperti berbagai produk hasil bumi seperti Kopi.

Dalam dunia pariwisata khususnya di Manggarai Raya, Kopi tidak hanya dijadikan teman menikmati hidangan di pagi atau sore hari, tetapi juga dijadikan sebagai teman wisatawan dalam menikmati pemandangan dan dijadikan sebagai salah satu oleh-oleh khas saat wisatawan kembali ke daerah atau negara asalnya.

Seiring dengan pesatnya pertumbuhan pariwisata, munculah konsep baru dalam berwisata, yaitu agrowisata. Agrowisata adalah salah satu sarana untuk mengkolaborasikan keindahan alam dan hasil bumi, salah satunya kopi. Proses saat ikut menanam sampai memanen dan menikmati kopi adalah pengalaman tak terlupakan bagi para wisatawan dan ini adalah tujuan utama dari agrowisata.

Geliat agrowisata kopi di Manggarai Raya sudah dimulai dengan adanya Pokdarwis, BumDes yang fokus pada pariwisata dan ekraf, dukungan keuskupan, dan asosiasi seperti APEKAM (Asosiasi Petani Kopi dan Jahe Manggarai) dan MPIG (Masyarakat Peduli Indikasi Geografis)

 

News Feed