oleh

BPOM Sidak Toko Obat dan Apotik Ilegal di Sumba Timur

Sumba Timur, SwaraNTT.Net – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Kupang melalui Pos POM Sumba Timur bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Kepolisian Resor (Polres) Kabupaten Sumba Timur melakukan inspeksi mendadak (Sidak) di sejumlah apotek dan toko obat-obatan di pusat kota Melolo Kecamatan Umalulu Rabu, (27/05/2020).

Sidak ini dilaksanakan Berdasarkan Surat Tugas Kepala Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan Nomor : B-RT.02.01.118.1181.05.20.657 tertanggal 26 Mei 2020.

Dalam sidak tersebut ,ditemukan ditemukan pelanggaran dimana ada yang menjual obat keras/daftar G. Dan Apotiknya belum memiliki Surat Izin Apotek (SIA), serta Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) tanpa kewenangan dan keahlian serta menjual obat tradisional tanpa izin edar. Dan ini ditemukan di Apotik Permata Farma.

Saat petugas meminta menunjukkan surat izin ,pasangan suami istri Martinus Theopilus (53) dan Martha Daud (47), sebagai penguasa barang dan pemilik apotek mengakui belum memegang surat izin mendirikan apotek.

Koordinator Pos POM Sumba Timur Bernardus B. Moron,S Si.,M.Hum saat ditemui di kantornya kepada SwaraNtt.Net menjelaskan, kuat dugaan adanya keterlibatan oknum staf Dinas Kesehatan terkait izin dan pengadaan obat-obatan dan juga.

“Si martinus ini dengan sengaja tetap menjual obat-obatan yang sudah di larang, padahal sebelumnya sudah mendapat dua kali teguran keras dan menandatangani surat pernyataan bermaterai, untuk tidak mengulangi perbuatan melanggar hukum, jadi ini merupakan yang ketiga kalinya” katanya.

Petugas Saat Membongkar Papan Nama Apotik, Foto : Humas Pos POM

“Bersama Kepolisian dan Dinkes ,kami sudah mengamankan sekitar 10 jenis obat keras dan 30 jenis obat tradisional berbahaya siap edar yang di serahkan langsung oleh pemilik apotek ,serta tetap menutup paksa apotek dan mencabut papan nama apotek yang disaksikan langsung oleh masyarakat dan semua petugas instansi yang terlibat, meskipun pemilik melobi agar masalah ini di selesaikan secara kekeluargaan” ungkapnya.

Lebih lanjut Bernad menjelaskan, laporan sudah di kirim ke BPOM di Kupang untuk ditindak lanjuti secepatnya dgn tuntutan sesuai UU no 36 th 2009 pasal 108, dan pasal 198 tentang kesehatan dengan pidana penjara dan denda Rp.100.000.000.

Baca Juga :   Pemerintah Pusat Gelontorkan dana Miliran Rupiah Bangun Jaringan dan Bendungan Suplesi di Manggarai Timur

Dia juga menghimbau, ditengah wabah covid-19 sekarang ini, masyarakat selaku konsumen harus lebih cerdas dalam memilih produk, dangan memperhatikan secara teliti informasi yang tertera pada label produk dan tidak terprovokasi oleh promosi.

Sementara itu dikonfirmasi di tempat yang sama Apt. Endriyono Sampelimbong, S.farm yang akan menjadi apoteker di apotek permata farma tersebut dan sudah menandatangani akta perjanjian kerja sama melaui notaris, juga akan membuat laporan guna menjaga marwa apoteker untuk ikut bertanggung jawab menjalankan tugas sesuai aturan perundang-undangan.

Di toko obat lainnya juga ditemukam yaitu di OD Naim Cell ditemukan 10 jenis jamu tradisional yang mengandung bahan kimia siap edar. Ahmat Naim (53) selaku pemilik usaha mengaku tidak mengetahui jika produk miliknya tidak memiliki izin edar, dan tidak keberatan produknya dimusnahkan oleh petugas.

 

Laporan : Sisca william

Komentar

News Feed