oleh

Diperkirakan Musim Hujan di NTT Mulai Akhir Oktober, Pemprov Ajak Petani Optimalkan Lahan

Kupang, SwaraNTT.Net – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT mengajak seluruh masyarakat NTT untuk mempersiapkan dan mengoptimalkan lahan-lahan yang tersedia untuk berproduksi melalui program TJPS Pola Kemitraan. Sesuai perkiraan BMKG, musim hujan di NTT diprediksi akan dimulai pada akhir Oktober.

“Sesuai dengan hasil koordinasi dengan BMKG, musim hujan di NTT diperkirakan akan terjadi di dasarian tiga artinya di minggu terakhir bulan Oktober. Untuk itu, kita sudah lakukan persiapan dengan memprioritaskan lokasi-lokasi yang curah hujannya mendahului yakni daerah Flores bagian barat. Mengikuti selanjutnya bagi kabupaten-kabupaten lain yang curah hujannya di dasarian pertama bulan November,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Lecky Frederich Koli dalam konferensi Pers bersama awak media di Kantor Gubernur NTT, Selasa (27/9).

Didampingi Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT, Prisilia Parera, Kadis Lecky mengajak masyarakat untuk mengoptimalkan lahan-lahan yang ada termasuk pekarangan rumah untuk meningkatkan perekonomian keluarga melalui program TJPS Pola Kemitraan. Melalui skema ekositem kemitraan dengan melibatkan lembaga perbankan, offtaker serta lembaga penjamin kredit, ekonomi dan daya beli masyarakat diharapkan tetap terjaga di tengah situasi ketidakpastian ekonomi global saat ini.

“Dengan solusi ekosistem yang terbangun seperti ini, semua yang diperlukan oleh para petani,sudah ada sebelum dia tanam. Baik itu pupuk, bibit, obat-obatan termasuk sarana produksi disiapkan, sehingga tinggal digerakan untuk masyarakat kerjakan gotong royong untuk mereka berproduksi. Jaminan pasar juga telah disiapkan dengan harga yang telah disepakati sehingga petani tetap bersemangat untuk menanam. Kemarin, bapak Gubernur juga telah berbicara dengan Menteri BUMN agar dana-dana KUR dari Bank Himbara (Himpuna Bank Milik Negara,red) juga dapat menjangkau para petani di desa-desa,” jelas Lecky.

Lebih lanjut Kadis Lecky menjelaskan, untuk tahun 2022, target lahan Program TJPS Kemitraan adalah 105 ribu hektar (ha) lahan. Dengan sasaran, masyarakat petani sebanyak 124 ribu orang, yang sudah ada by name by addressnya.

“Yang sudah kita tanami adalah kurang lebih 37 ribu ha pada musim tanam II dari April sampai September 2022 (Asep,red) dan sudah dipanen serta dijual hasilnya, petani pun sudah mendapatkan keuntungan. Sisanya akan dikerjakan pada musim tanam I Oktober 2022 sampai Maret 2023 (Okmar,red). Kita sudah siapkan kurang lebih 88 ribu ha lahan dan sudah diajukan ke bank pelaksana yakni Bank NTT. Dan sudah dilakukan seleksi (oleh Bank NTT dan Offtaker,red) sekitar 40 ribu ha. Serta sudah dilakukan pencarian tahap pertama untuk petani bisa mulai lakukan penanaman,” kata Lecky.

Selanjutnya, Lecky menguraikan, Target produksi jagung untuk musim tanam I Okmar 2022-2023 adalah 400 ribu ton.
“Dan hasil produksi itu akan kita gunakan untuk kepentingan industri pakan ternak di dalam daerah dan selebihnya kita akan kirim ke luar termasuk ke Surabaya. Dalam jangka pendek kita juga akan bekerjasama dengan Kabupaten Bangli di Provinsi Bali untuk mensuplai kebutuhan jagung bagi mereka dan sebaliknya mereka akan mensuplai kebutuhan daging ayam dan telur ayam untuk NTT khususnya untuk masyarakat pulau Sumba.Program ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani dan mengurangi angka kemiskinan,” ujar Lecky.

Baca Juga :   BOP Labuan Bajo Gelar Kegiatan Seminar Penguatan Digitalisasi Destinasi Wisata

Seperti diketahui, angka kemiskinan di NTT mengalami penurunan. Sesuai hasil rilis yang disampaikan BPS, Persentase penduduk miskin di NTT pada Maret 2022 sebesar 20,05 persen, menurun 0,39 persen poin terhadap September 2021 dan menurun 0,94 persen poin terhadap Maret 2021. NTT termasuk dalam 10 besar Provinsi di Indonesia dengan penurunan jumlah angka kemiskinan tertinggi dalam periode tersebut.

Hadapi Krisis Pangan, Gubernur Instruksikan Fokus Pengembangan 4 Komoditas

Dalam kesempatan tersebut, Kadis Lecky juga mengungkapkan, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat juga telah menginstruksikan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan serta Dinas terkait lainnya agar fokus pada pengembangan 4 komoditas utama dalam menghadapi krisis pangan dunia yakni jagung melalui program TJPS Kemitraan, Sorgum, Kelor dan Ayam KUB.

“Untuk pengembangan Sorgum, kita akan tanam tahun ini sebanyak 3.500 ha dan tahun depan targetnya 34 ribu ha. Benih Sorgum sudah ada sekitar 11 ton yang berasal dari kabupaten Flores Timur dan kita sudah salurkan ke kabupaten-kabupaten yang dapat alokasi. Terkait Kelor, kita lakukan kerjasama dengan TNI. Kita sedang siapkan 1 juta anakan yang kemudian akan difasiltasi oleh TNI untuk didistribusikan ke masyarakat agar mereka berproduksi dan hasilnya akan dibeli oleh offtaker yang memang sudah dipersiapkan. Pola pengembangan 3 komoditas ini akan menggunakan pola Kemitraan yang sudah dilaksanakan dalam program TJPS sehingga masyarakat tak perlu ragu untuk jaminan pasarnya,”pungkas Lecky.

Laporan : Robert Warang