oleh

Foto Komodo Halangi Truk Viral di Medsos, Ini Tanggapan Anggota DPR RI Ansy Lema

-NASIONAL-1.635 views

JAKARTA, SwaraNTT.Net – Anggota Komisi IV DPR RI Yohanis Fransiskus Lema (Ansy Lema) mendesak pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) agar menjalankan fungsinya sebagai pertahanan terakhir konservasi di Taman Nasional Komodo (TNK) di Kabupaten Hal ini disampaikan politisi muda PDI Perjuangan tersebut ketika menanggapi sebuah foto viral yang beredar terkait pembangunan di kawasan TNK.

Sebelumnya foto yang mendadak viral di media sosial tersebut, ketika seekor Komodo menghalangi truk pembawa muatan untuk pembangunan model Jurassic Park yang kini dilakukan Kementerian PUPR di Pulau Rinca.

Menurut Ansy KLHK harus menjaga TNK sebagai kawasan konservasi dan rumah alami Komodo, satwa endemik, dan beragam vegetasi baik darat maupun laut.

“Foto tersebut mengirim pesan simbolik bahwa Komodo tidak nyaman dengan model pembangunan Jurassic Park di TNK. Karena pembangunan tersebut melibatkan truk dan alat berat yang memasuki kawasan konservasi TNK. Komodo terusik dengan pembangunan massif berbasis teknologi, karena mengganggu ekosistem lingkungan di TNK,” Ungkap PDI Perjuangan itu.

Lebih lanjut kata Ansy, KLHK harus memahami perannya bukan sebagai pemberi izin pembangunan, tetapi harus memastikan mengawal agar konservasi TNK dan kelangsungan Komodo tidak terancam oleh pembangunan infrastruktur. Jika pembangunan dan penataan TNK telah salah arah, KLHK harus berani menyampaikan kepada pemerintah untuk membatalkan atau mengembalikannya kepada spirit konservasi.

Foto simbolik tersebut juga jelas Ansy, dapat menjadi pengingat bahwa proses pembangunan dan pengelolaan TNK harus berdasarkan prinsip konservasi. Grand design pembangunan TNK harus mengutamakan konservasi Komodo, satwa endemik dan beragam vegetasi darat dan laut. Prinsip konservasi tersebut harusnya secara konsisten dipegang teguh dalam proses pembangunan dan pengelolaan di TNK saat ini.

“Tujuan dan motivasi mulia dari sebuah pembangunan juga tercermin dari prosesnya. Begitupun di TNK. Fakta saat ini menunjukkan sebaliknya. Yang kita lihat, proses pembangunan TNK tampak mulai meninggalkan semangat konservasi tersebut. Kita harus tetap sepakat bahwa kelangsungan hidup Komodo dan ekosistem di dalamnya adalah prioritas utama. Jangan sampai pembangunan TNK menjadi pintu masuk bagi kepunahan Komodo karena lingkungannya diganggu,” tegas Ansy.

Baca Juga :   Jokowi Puji Upaya Prakondisi Sektor Pariwisata Banyuwangi

Pada saat bertemu dengan masyarakat lokal di desa pulau Komodo untuk menyerap aspirasi, pada Kamis (22/10/2020), Ansy mengaku mendengar cerita tentang mata rantai ekosistem antara Komodo, manusia, berbagai satwa dan vegetasi alam dan laut di TNK. Berbagai penelitian ahli turut mengonfirmasi cerita tersebut. Masyarakat meyakini, kunci binatang purba itu bertahan selama empat juta tahun lalu karena jalinan rantai ekosistem alami tersebut.

“Maka betonisasi TNK berpotensi menghancurkan bentang alam, yang artinya memutus mata rantai ekosistem Komodo dengan lingkungannya. Kehadiran infrastruktur-infratruktur dapat merusak habitat alami yang sukses menjaga Komodo tetap ada dan bestari sejak empat juta tahun lalu,” tambahnya.

Oleh sebab itu Ansy menganjurkan, pembangunan dan penataan TNK harus berdasarkan kajian ilmiah multiperspektif, seperti kajian sosio-antropologis dan ekologis, bukan hanya kajian ekonomis. Pemerintah harus berbesar hati mendengarkan masukan dari masyarakat sipil, pegiat pariwisata, DPRD dan masyarakat lokal di Manggarai Barat. Selain menjaga kelangsungan hidup Komodo dan ekosistem TNK, negara harus harus melibatkan partisipasi masyarakat di Manggarai Barat dalam pengembangan pariwisata di TNK.

“Komunitas lokal adalah subjek pembangunan. Mereka harus didengarkan dan diberdayakan. Itulah sebabnya saya mendorong agar pengembangan pariwisata harus berbasis komunitas, melibatkan masyarakat lokal di Komodo dan membawa kesejahteraan kepada para petani, peternak, dan nelayan di Manggarai Barat,” tutupnya.

News Feed