oleh

INFLASI: MENYESUAIKAN KEBUTUHAN DAN ISI KANTONG

-OPINI-1.558 views

Oleh : Dwisari Merichi Langkas

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Cendana/Mahasiswa Magang di BPS Kota Kupang Periode Januari 2020)

==================================

Setiap orang pasti ingin memperoleh barang yang kualitasnya bagus dengan harga yang relatif murah. Tidak terkecuali untuk bahan makanan kebutuhan pokok dan kebutuhan konsumsi lainnya. Meskipun uang di ”kantong” terbatas, apabila harga barang murah maka kita bisa membeli banyak barang. Bagi sebagian besar orang, terutama perempuan yang hobby berbelanja bukankah kondisi tersebut yang diharapkan terjadi?

Akan tetapi, kenyataan tak seindah kondisi yang diharapkan. Faktanya, setiap barang  yang kita konsumsi setiap hari memiliki variasi harganya masing-masing. Perubahan harga terjadi secara dinamis dari waktu ke waktu. Hari ini harga komoditas tertentu terjadi kenaikan. Keesokan harinya harga mengalami penurunan. Ataupun kondisi sebaliknya yang terjadi. Perubahan harga berbagai barang komoditas konsumsi itulah yang biasa disebut dengan Inflasi.

Defisini inflasi secara umum adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dimana barang dan jasa tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Selain itu dapat juga didefinisikan sebagai kondisi turunnya daya jual mata uang suatu negara. Naiknya harga barang dan jasa tersebut menyebabkan turunnya nilai uang (https://ntt.bps.go.id/subject/3/inflasi). Ketika terjadi inflasi maka kemampuan seseorang membeli barang ataupun jasa akan menurun. Salah satu indikator yang digunakan untuk menghitung tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari waktu ke waktu menggambarkan tingkat kenaikan (inflasi) atau tingkat penurunan (deflasi) dari barang  dan jasa.

Ada beberapa penyebab terjadinya inflasi. Pertama, karena tingginya tingkat permintaan. Artinya, tingginya tingkat permintaan masyarakat akan barang dan jasa tidak sebanding dengan persediaan barang tersebut. Permintaan masyarakat jumlahnya banyak, sedangkan barang yang tersedia dalam jumlah yang sedikit atau stoknya terbatas. Hal ini dapat menjadi penyebab terjadinya inflasi. Jadi masyarakat yang ingin membeli barang harus “menguras” atau mengorbankan sebagian isi kantongnya untuk mendapatkan barang tersebut.

Kedua, biaya produksi. Biaya produksi yang tinggi dari suatu barang akan berpengaruh terhadap harga barang tersebut. Misalnya harga bahan baku. Jika harga bahan baku dari suatu barang meningkat, otomatis harga jual barang tersebut  akan meningkat pula.

Ada 2 (dua) kota yang menjadi tolak ukur pehitungan inflasi di Nusa Tenggara Timur (NTT), yaitu Kota Kupang dan Kota Maumere. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena barang-barang yang diperdagangkan di kedua kota tersebut relatif lebih lengkap dibandingkan tempat lain yang ada di NTT.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), inflasi di NTT pada bulan Desember 2019 adalah sebesar 0,80 persen. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi NTT, Darwis Sitorus, saat konferesensi pers (Kamis, 02/01/2020) mengatakan bahwa inflasi pada Desember 2019 disebabkan karena adanya kenaikan indeks harga pada 6 dari 7 kelompok pengeluaran. Kelompok pengeluaran paling tinggi terjadi pada bahan makanan, yaitu sebesar 2,02 persen (Berita Resmi Statistik No.2/01/5300/Th.XXII/2 Januari 2020).

Inflasi memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan perekonomian masyarakat. Apalagi bagi masyarakat kecil yang penghasilannya “pas-pasan”.  Inflasi tentunya mempengaruhi pola konsumsi mereka yang tergolong pada kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.

Pada banyak daerah (termasuk NTT), komoditas yang secara umum mempengaruhi inflasi menjadi tingi terjadi pada komoditas bahan makanan. Sebagai contoh kasus adalah terkait dengan konsumsi masyarakat untuk komoditas beras. Misalnya dengan uang Rp60.000,- dapat digunakan konsumen membeli 5 kg beras. Saat terjadi inflasi (kenaikan harga) yang berpengaruh terhadap harga beras, maka uang Rp. 60.000.- tersebut tidak dapat mereka gunakan untuk membeli beras sebanyak 5 kg seperti biasanya. Pada akhirnya dengan jumlah uang yang sama, beras yang mampu terbeli menjadi berkurang. Kalaupun memaksakan supaya jumlah berasnya tetap sama yang didapat sebanyak 5 kg, maka kualitas beras yang “terpaksa” diturunkan. Oleh karena itu, pengendalian inflasi oleh para pihak terkait terutama pemerintah sebagai regulator harus terus dimonitor secara berkesinambungan. Hal ini diperlukan agar kenaikan harga atau inflasi, tidak semakin membebani perekonomian masyarakat. 

Selain masyarakat berpenghasilan rendah, inflasi juga berpengaruh terhadap mahasiswa seperti penulis. Inflasi memberi dampak kepada pola konsumsi mahasiswa. Misalnya mahasiswa yang sering mengkonsumsi berbagai bahan makanan di rumah makan. Ketika terjadi inflasi dan sebagian besar bahan baku dari makanan tersebut mengalami kenaikan harga maka harga seporsi makanan pun menjadi semakin mahal. Dengan kondisi yang seperti ini, mahasiswa akan mengurangi mengkonsumsi makanan di warung. Misalnya dari kebiasaan setiap hari makan di warung atau rumah makan menjadi berkurang menjadi 3 kali seminggu. Apalagi bagi mereka yang statusnya mahasiswa dan tinggal di kos/kontrakan. Uang bulanan yang dikirim orang tua jumlahnya terbatas (pas untuk konsumsi 1 bulan). Anak mahasiswa yang hidup indekos harus pintar mengatur konsumsinya. Bila keuangan tidak diatur dengan baik maka uang kiriman orang tua akan habis sebelum akhir bulan.

Seperti kebanyakan orang pada umumnya, mahasiswa kos juga menggunakan istilah “tanggal tua”. Istilah “tanggal tua” biasanya digunakan untuk tanggal-tanggal terakhir diakhir bulan. Kondisi keuangan mahasiswa indekos pada “tanggal tua” sudah berada pada jumlah yang sangat sedikit atau bahkan ada yang tidak punya uang sama sekali. Jika tidak ada uang lagi, mau tak mau meminta uang kiriman lagi kepada orang tua. Bukankah hal ini semakin menguatkan indikasi bahwa inflasi juga memberi dampak yang besar kepada kami para mahasiswa?

Di sisi lain, inflasi juga berdampak kepada pemilik rumah makan yang biasa dikunjungi oleh para mahasiswa seperti ilustrasi di atas. Untuk mensiasati kenaikan harga bahan baku sembako, mau tidak mau maka pemilik rumah makan juga menaikkan harga makanan yang dijualnya. Kenaikan harga ini memberi dampak pada penurunan konsumen yang membeli makanan. Jika kondisi ini terus berlangsung bukankah membuat pemilik rumah makan menjadi merugi? Opsi lain yang bisa dilakukan pemilik rumah makan adalah dengan mensiasati harga. Artinya harga sama antara sebelum dan sesudah inflasi. Hanya saja porsi makanannya menjadi berkurang. Opsi ini menjadi pilihan terbaik bagi pemilik rumah makan. Akan tetapi di sisi lain menjadi kerugian bagi konsumen.

Kepala perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), I Nyoman Ariawan Admaja, mengatakan indeks harga konsumen di Provinsi NTT yang mengalami inflasi pada Desember 2019 merupakan inflasi terendah selama lima tahun terakhir (Cendana news, 10/01/2020). Beliau mengatakan bahwa perkembangan ini ditopang oleh sinergi dan koordinasi antara Bank Indonesia (BI), Pemerintah Daerah dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) termasuk Satgas Pangan dan seluruh stakeholder lain.

Meskipun inflasi di NTT terkendali dengan baik selama 5 tahun terakhir namun semua pihak jangan terlena. Harapan kita kedepannya adalah pemerintah tetap waspada dan jeli dalam menghadapi inflasi. Hal ini bertujuan agar inflasi yang terjadi kedepannya tidak melebihi tingkat inflasi yang terjadi sebelumnya. Karena bagaimanapun, inflasi itu ibarat sebuah penyakit yang tidak bisa disembuhkan atau dihilangkan. Inflasi itu hanya bisa “ditekan” agar tingkatan inflasi tidak melonjak lebih dari inflasi sebelumnya. Jadi, bukankah inflasi memberikan dampak kepada masyarakat untuk kemudian menyelaraskan antara kebutuhan dan isi kantong?.

 

Baca Juga :   Surat Terbuka untuk Bung Victor Laiskodat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 comment

News Feed