oleh

Ini Kata Keluarga Soal Status PDP Covid-19 Terhadap Almarhumah TJL

Ruteng, SwaraNtt.Net – Keluarga Almarhumah TJL yang meninggal dunia beberapa waktu lalu yang divonis sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDD) Covid-19 keberatan dengan pernyataan pihak Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Manggarai yang memvonis Almarhumah sebagai PDP Covid-19.

Anak sulung TJL HW kepada SwaraNtt.Net di kediamannya Rabu (05/05/2020) mengatakan, Vonis terhadap mendiang ibunya sebagai PDP oleh pihak Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Manggarai sangat melukai hati keluarganya.

Pasalnya kata Dia Mendiang Ibunya TJL mengidap sakit sesak nafas, sudah sejak lama, dan sudah menahun. Lalu kenapa tiba-tiba Gugus tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Manggarai memvonisnya sebagai PDP Covid-19. Padahal lanjutnya mendiang ibunya sudah sering kali masuk keluar rumah sakit.

“mama itu sudah lama sakit sesak napas, dan sudah sering keluar rumah sakit, dokter yang menanganinya juga kenal sama mama saya, tapi kenapa tiba-tiba mereka memvonis mama saya sebagai PDP” ungkapnya.

HW menuturkan, pada Kamis (30/04/2020) lalu, Almarhumah TJL sempat dirawat di ruangan IGD RSUD Ben Mboi Ruteng karena keluhan sesak napas.

Tetapi setelah dilakukan penanganan oleh pihak rumah sakit kondisinya membaik dan diizinkan pulang.

Namun pada Jumat (01/05/2020) sekitar pukul 10.00 Wita, Almarhumah TJL kembali diantar ke RSUD Ben Mboi Ruteng karena keluhan yang sama yaitu sesak napas.

Karena mengalami sakit yang sama akhirnya, pihak rumah sakitpun melakukan pemeriksaan lengkap disertai dengan foto rontgen. Alhasil paru-parunya bersih tetapi, ada sedikit pembengkakan di jantung karena tekanan darah tinggi.

“hasil rontgen waktu itu mama baik-baik saja, paru-parunya bersih, hanya saja ada sedikit pembengkakan di jantung, ini karena mama hipertensi, terus ada gangguan fungsi ginjal dan gulah dara naik, dan tidak ada penjelasan kalau mama ada kaitannya dengan covid-19, akhirnya mama diperbolehkan pulang ke rumah” tutur HW.

Selanjutnya pada, Sabtu (02/05/2020), almarhumah kembali mengalami sesak napas, pihak keluargapun kembali mengantarnya ke RSUD Ben Mboi. Karena tidak mau pulang ke rumah TJL akhirnya diopname, sembari petugas melakukan observasi.

“waktu itu hasil rontgen mama yang sebelumnya sudah dianalisa dibaca lagi. Kami bingung sebab penjelasannya sudah beda dengan pembacaan sebelumnya, sebelumnya dokter bilang tidak ada kaitan dengan Covid-19, tapi saat itu serta merta dikaitkan dengan Covid-19, padahal masih hasil rontgen yang sama” katanya.

Sejak saat itu pihak rumah sakitpun mulai menanyakan apakah almarhumah pernah ada riwayat perjalanan jauh atau pernah kontak dengan orang yang datang dari zona merah.

HW memang mengakui ada dua orang adiknya yang baru datang dari Kupang yaitu tanggal 2 dan 19 April lalu. Dengan dalih ini kemudia Tim Gugus melakukan rapid test terhadap 14 orang yang dinilai telah melakukan kontak langsung dengan mereka.
Hasilnya menurut HW semuanya negatif.

Baca Juga :   Pesta Adat Festival Pasola Lamboya Siap Digelar 2 Februari Mendatang

“ya saya juga tidak tahu persis, apakah waktu adik saya pulang ke Ruteng, Kupang sudah masuk zona merah atau tidak, karena hasil rapid test kami semua negatif” tuturnya.

Hal senada juga disampaiakan HR (33) putra kedua mendiang TJL. Menurutnya pihak Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Manggarai sudah tidak benar memvonis almarhumah Ibunya sebagai PDP Covid-19. Sebab menurut dirinya vonis itu hanya berdasar asumsi belaka.

“jujur saya dan keluarga sangat kecewa dan sakit hati, mama saya divonis sebagai PDP Covid-19 setelah jadi mayat, dan ini hanya berdasarkan asumsi, asumsi itukan berdasarkan fakta, hasil rapid test mama saya negatif, kenapa ditetapkan sebagai PDP covid-19 ” ungkapnya.

“untuk apa anggaran 21 miliar itu kalau penananganannya hanya sebatas asumsi, kami tidak menolak protap Covid-19 kalau memang mama saya positif, dan setelah mama dikuburkan kami dilepas begitu saja, tidak ada yang perhatiakan kami, dan tetangga mulai mengatur jarak dengan kami, karena stigma Covid-19 sudah ada pada keluarga kami, lalu siapa yang yang bertanggungjawab” ungkap HR.

Pasca Almarhumah TLJ ditetapkan sebagai PDP, HW mengaku keluarga meminta kepada pihak rumah sakit agar jenasah Ibunya disemayamkan di rumah duka, tetapi tetap mengikuti protokol kesehatan penanganan Covid-19. Awalnya pihak rumah sakit menyanggupi, maka dibuatlah surat kesepakatan.

Namun, keputusan itu tiba-tiba berubah pada saat Ketua Tim Gugus Covid-19 Manggarai, Deno Kamelus beserta tim lainnya tiba di RSUD dr. Ben Mboi Ruteng. Keputusannya bahwa jenasah almarhumah tidak boleh disemayamkan di rumah duka, tetapi langsung dimakamkan dengan mengikuti protap Covid-19.

“pada saat Bupati bersama rombongannya datang, keputusannya langsung berubah, bahwa mama tidak bisa disemayamkan di rumah, tapi langsung dimakamkan sesuai protokol Covid-19, tanpa ada acara adat serta penghormatan terakhir dari kami untuk mama, kami sangat sakit hati,” ujarnya.

Untuk itu Dia berharap kepada Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Manggarai agar SOP penanganan Covid-19 dibenahi. Dan peristiwa yang dialami keluarganya saat ini adalah pertama dan terakhir. Sebab menurutnya stigma lebih sakit karena dijauhi oleh orang-orang sekitar.

Dia juga menegaskan apabila hasil SWAB Ibunya negatif, maka harus ada pemulihan nama baik dari pihak terkait.

Penulis : Silve

Komentar

News Feed