oleh

Kapolres Manggarai Jangan Lindungi Anak Buah yang Diduga Selundup Sapi

-DAERAH-1.870 views

MANGGARAI, SwaraNTT.Net – Maraknya pemberitaan media belakangan ini terkait dengan dugaan penyelundupan sapi yang berada di Dusun Nanga Nae, desa Paralando Kecamatan Reok Barat, menarik perhatian praktisi hukum Edy Hardum.

Praktisi hukum asal Reok Barat itu mendesak Kapolres Manggarai segera menelusuri informasi adanya dugaan keterlibatan anggota Polisi Air dalam pengiriman sapi ilegal melalui Pelabuhan Nanga Nae, Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, NTT.

“Kapolres jangan sampai membiarkan apalagi melindungi tindakan anak buah yang melanggar hukum,” kata Pengamat dan Praktisi Hukum asal Reok Barat, Manggarai, NTT, Edi Hardum, Jumat (26/2/2021).

Menurut Edi, kalau dugaan keterlibatan anggota polisi itu benar, Kapolres Manggarai bahkan Kapolda NTT segera memberikan sanksi yang tegas. Sebab, kalau tindakan oknum polisi itu dibiarkan maka, pertama, akan bertambah banyak anggota Polri di Manggarai atau di tempat lain yang terlibat dalam bisnis ilegal.

Kedua, tugas polisi sebagaimana dalam UU Polri menyatakan sebagai penegak hukum, pengayom dan pelindung masyarakat. Kalau penegak hukum melakukan pelanggaran hukum maka masyarakat akan ikut melakukan pelanggaran hukum bahkan lebih jahat. Ibarat pepatah,” Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Ketiga, kalau tindakan pengiriman sapi secara ilegal tidak ditindak, maka akan terjadi pencurian hewan sapi semakin banyak di Manggarai ke depan.

Keempat, Edi juga meminta Bupati terpilih Manggarai, Hery Nabit agar ambil tindakan tegas untuk mengatur atau menerbitkan Pelabuhan Nanga Nae yang diduga dipakai untuk kejahatan.

“Ingat beternak sapi merupakan salah satu pekerjaan yang membantu ekonomi Manggarai. Nah, hal seperti ini harus diperhatikan Bupati dan Wakil Bupati terpilih,” Jelas praktisi Hukum yang juga sebagai wartawan senior itu.

Sebagaimana diberitakan banyak media massa dan media sosial, seorang oknum anggota Polisi Air (Polair) diduga kuat sebagai pelaku yang mengirimkan hewan sapi ilegal dari wilayah Pelabuhan Nanga Nae, Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Flores, Provinsi NTT, menuju Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Baca Juga :   Jelang Hari Pemungutan, Panwascam Reok Perkuat Lagi Kapasitas Pengawas TPS

Pengiriman sapi tanpa dilengkapi dokumen izin resmi itu terungkap setelah dua kapal pengangkut sapi ilegal dari Pelabuhan Nanga Nae, Desa Paralando diamankan TNI AL bersama BIN di Perairan Bonto Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Jumat, 12 Februari 2021 lalu, sekitar pukul 20.30 waktu setempat.

Paulus mengungkapkan, selama ini Pelabuhan Nanga Nae seringkali digunakan sebagai lokasi pengangkut sapi ilegal antarpulau. Ia mengakui dirinya mendapat informasi dari masyarakat setempat bahwa Pelabuhan Nanga Nae sudah lama menjadi tempat penampungan hewan sapi, bahkan menjadi lokasi pelabuhan “jalur tikus” pengiriman sapi ilegal.

“Selama saya menjabat kurang lebih satu tahun setengah kegiatan di Nanga Nae tidak pernah lapor ke pemerintah desa,” ujarnya kepada wartawan saat ditemui di Desa Paralando Sabtu 20 Februari 2021.

Meski Paulus sempat mendengar informasi bahwa aktivitas pengiriman sapi dari Pelabuhan Nanga Nae merupakan aktivitas ilegal, namun kala itu dirinya belum mendapatkan informasi valid untuk memastikan aktivitas di lokasi itu legal atau illegal, sehingga dirinya tidak melaporkan kepada aparat kepolisian setempat.

Ia juga mengungkapkan bahwa seorang anggota Polisi Air bernama Yans adalah pemilik bisnis sapi ilegal di Pelabuhan Nanga Nae, Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat. Paulus pun mengakui, dirinya sempat menanyakan surat izin kepada oknum anggota Polisi Air bernama Yans.

News Feed