oleh

“Mbecik”: Sebagai Bentuk Kritik Sosial (Kah?)

-OPINI-2.387 views

 Oleh: Angelo Cefreeco Dirpa Syukur (Siswa SMAS Seminari Pius XII Kisol)

=================================

Tana Manggarai merupakan tanah kuni agu kalo, tana wadah dise ema agu mbate dise ame (tanah tumpah darah, warisan leluhur dan takdir pemberian– the given). Sudah 17 tahun saya bergulat dan mencoba memberi makna atas anugerah kehidupan, kendatipun ekspresinya cuma sebatas sebagai seorang pelajar di daerah pedalaman Manggarai Timur. Saya memang hanya “anak kemarin sore”, namun hal ini tidak menutup kemungkinan bagi saya untuk mengikuti dan merasakan setiap perubahan di daerah ini.  Misalnya saja penggunaan tutur kata mbecik yang telah menjadi blessing in the disguised (berkat tersamar) bagi saya, untuk dituangkan dalam sebuah refleksi atas fenomena sosial orang Manggarai terkait tutur kata mbecik  yang terekspresi dalam perilaku masyarakatnya dalam bersosial media.

Masifnya perkembangan teknologi dan informasi di era ini, berimplikasi pada pekerjaan manusia yang semakin dipermudah. Misalnya saja soal berkomunikasi. Hemat penulis, sejak media sosial menjadi sarana ampuh bagi komunikasi manusia, hal ini tidak menutup kemungkinan segala sesuatu dapat diketahui dengan mudah dan cepat (yang privasi sekali pun).  Untuk itu, tak heran apabila masyarakat beramai-ramai mengupload pelbagai konten atau komentar-komentar dengan harapan akan disukai oleh orang lain, maskipun kadang kala konten atau komentar tersebut bernuansa negatif dan tidak bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Memang pada dasarnya, setiap orang dituntut untuk berdamai dengan perubahan zaman, terutama perubahan teknologi dan ilmu pengetahuan. Namun, tanpa kita sadari, justru hal ini telah merubah paradigma berpikir dan pola-laku manusia serta media sosial telah menjadi “tuan, majikan” atas diri manusia. Misalnya saja dalam tutur kata via sosial media.

Baca Juga: Iuran BPJS Naik Lagi, Pembangkangan Putusan MA?

Hemat penulis, komunikasi tutur kata via media sosial, tak memiliki pengaruh positif sedikit pun. Sekian sering dalam media sosial ditemukan tutur kata negatif, yang dalam pola komunikasi orang Manggarai diungkapkan lewat tutur kata mbecik (mbétjik). berdasarkan hal ini, dalam konteks inilah peran sosial media dianggap sama dengan peranan “pedang bermata dua.” Siapa yang memegang pedang, dialah yang menentukan apakah pedang tersebut bernilai positif atau negatif. Maka dari itu, tulisan ini lahir sebagai bentuk refleksi kritis atas fenomena komunikasi tutur kata orang Manggarai.

Secara etimologis, Kamus Bahasa Manggarai, mbétjik (dibaca: mbecik) berarti cercai, nistai, maki, olok. Hemat penulis, berdasarkan pengertian ini, Mbétjik dapat dianggap  berkonotasi atau bernuansa negatif. Baik untuk menjelekkan, menyingkirkan, memojokkan, mengisolasi  seseorang dari kehidupan sosial atau pun menjatuhkan seseorang atau kelompok tertentu atas tutur  kata atau tindakannya tanpa adanya langkah solutif. Mbétjik kuno (sebelum ada sosial media) sekian sering mengisahkan tentang kehidupan sosial dan spiritual pada zaman itu yang cenderung bersifat realistis, banyak mengandung unsur sejarah dan memiliki nilai edukatif, sedangkan mbétjik modern (pasca sosial media hadir) lebih bersifat komersil, nuansa politis dan banyak mengarang kisah fiktif yang goalnya cuma memojok atau menjatuhkan pihak lawan bicara.

Baca Juga: Problematika Pekerja Migran NTT

Dalam ranah politik, hemat penulis, kerap kali ditemukan pelbagai bentuk mbecik dalam bersosial media. Dalam perkembangan saat ini, mbétjik tidak hanya dilihat sebagai tutur kata atau pola tindakan verbal dalam mengolok atau mencercai pihak lain semata dalam konteks kehidupan sosial harian pribadi atau kelompok tertentu, namun juga dapat dilihat dalam bersosial media yang mendeskripsi wacana dan opini publik yang menggambarkan kehidupan pribadi atau sekelompok masyarakat yang tidak berkenan sesuai dengan keingingan pribadinya atau menyimpang dari etika kehidupan atau dengan sengaja untuk memojokkan pribadi atau kelompok tertentu.

Sosial Media Sebagai Sarana “Mbétjik”

Ketika tulisan ini digarap, negara ini – dari Sabang hingga Marauke – dan 100-an negara lainnya di dunia ini, sedang dirundung malapetaka pandemi covid-19, yang telah meruntuhkan kehidupan sosial, kesehatan dan ekonomi. Manggarai juga tak luput dari bencana ini. Di tengah hiruk pikuk merebaknya pandemi covid-19 yang belum juga tahu kapan ending-nya dan telah menggerus habis pikiran, mental dan material, masyarakat Manggarai juga harus dihadapkan pada aktivitas pemilihan kepala daerah 5 tahunan.

Pelbagai upaya dan niat baik untuk membasmi penyebarluasan atau mempersempit ruang gerak pandemi covid-19 seperti melalui pembatasan ruang gerak antar daerah dengan portal di perbatasan atau istilah kerennya PSBP (Pembatasan Sosial Berskala Besar), peningkatan taraf hidup masyarakat melalui pembangunan industri, pertarungan politik untuk menjadi pimpinan dalam satu wilayah tertentu dengan mengutamakan etika, hemat penulis, dianggap sebagai konyol, bodoh, dipolemik, divonis bersalah dan tidak memihak rakyat kecil tetapi justru berpihak pada: pemilik modal/penguasa atau pencitraan diri bagi para pemimpin daerah atau kandidat tertentu. Bahkan ada yang menilai dan menuntut mana regulasinya serta ada oknum yang berlagak sebagai pahlawan kesiangan dengan menyalahkan semua tindakan orang lain. Apalagi kalau sudah dipolitisasi, hancur sudah.

Dalam tulisan sederhana ini, Penulis tidaklah berprasangka buruk, apalagi mau menyebarluaskan mbétjik. Namun, dalam tulisan ini, penulis bermaksud untuk menelaah semua tutur kata mbétjik dalam sosial media sebagai  bentuk wacana atau pun  kritik sosial. Bahwa semua tutur kata mbétjik dari para pemimpin daerah, kandidat atau aktivis serta komentar dari followers memiliki tujuan yang sama yakni bolek loke baca tara, bonum commune, keselamatan dan kebahagiaan kemanusiaan (asalkan semua tutur kata dan tindakan tersebut tetap menempatkan harkat dan martabat manusia di atas segalanya).

Baca Juga :   Tambang dan Keberlanjutan Lingkungan NTT (Perspektif Hukum Lingkungan )

“Mbétjik” Sebagai Bentuk Kritik Sosial (Kah?)

Oksinata (2010:33) menjelaskan bahwa kritik sosial merupakan sebuah  inovasi. Kritik sosial menjadi model komunikasi dalam masyarakat untuk menyuarakan gagasan baru di samping  menilai gagasan lama untuk suatu perubahan sosial dan sebagai kontrol  terhadap jalannya  sebuah  sistem  sosial  atau proses bermasyarakat. Berdasarkan uraian ini dapat dikonklusikan bahwa kritik sosial merupakan suatu masukan (input), sanggahan, sindiran, tanggapan, atau pun penilaian terhadap sesuatu yang dinilai menyimpang atau melanggar nilai-nilai yang ada di dalam kehidupan sosial masyarakat.

Kritik sosial muncul karena ada gap antara das sollen dan das sein, antara harapan dan kenyataan yang memiliki dualisme. Problematika itu bisa saja memang sungguh-sungguh ada sebagai bentuk reaksi atau dampak atas perubahan/berjalan di tempat suatu aktivitas bersama. Bisa juga problem itu sengaja diciptakan untuk mencegal lawan. Hemat penulis,  problematika tersebut tentunya meresahkan masyarakat. Banyak hal yang diresahkan oleh masyarakat, seperti kemiskinan, kejahatan, gap antara generasi muda dan generasi tua, pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat, masalah lingkungan hidup, pelacuran dan sebagainya. Namun, dalam tulisan sederhana ini, penulis memfokuskan tulisannya pada tutur kata Mbétjik dalam lingkup Sosial Media, khusunya Facebook dalam kontek Pilkada.

Pada bagian terdahulu penulis mengatakan bahwa mbétjik memiliki nuansa negatif dan tidak solutif. Ada ujaran kebencian atas atas tutur kata atau tindakan pihak di luar dirinya tanpa memberikan jalan solusi atas problematika tersebut. Dalam konteks ini penulis mencoba merubah paradigma mbétjik dari sekedar mengolok, mencercai, ujaran kebencian (nuansa negatif) menjadi kritik sosial.

Baca Juga: Birokrasi Penyangga Kapitalisme

Ketika menelusuri informasi dalam sosial media, khusunya Facebook, kerap kali penulis menemukan mbétjik. hemat penulis, keberadaan mbétjik di ruang publik seperti Facebook sangatlah besar. Oleh karena beredar bebas di media sosial, hemat penulis, tak sedikit pula masyarakat yang termakan. Kendatipun inovator sosial media meluncurkan sosial media untuk tujuan edukatif, ekonomis, komunikasi kemanusiaan dan hal-hal positif lainnya serta pemerintah sudah mengatur komunikasi sosial dalam regulasi ITE, namun ada-ada saja pihak tertentu memanfaatkan sosial media untuk mbétjik. Bahkan beberapa waktu lalu pemerintah membatasi akses sosial media untuk beberapa hari dan menjeratkan para pelaku dengan pasal-pasal pelanggaran hukum. Hal ini disebabkan oleh maraknya penggunaan tutur kata  mbétjik  yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu.

Selain itu, hal ini terus berkembang pesat oleh karena peran followers menjadi penting. Followers kerap kali mengompori dan  mengikuti langkah individu tersebut sehingga pertikaian meluas menjadi antar pengikut. Hemat penulis, tanpa disadari justru Followers dijadikan perisa bagi para pemilik statement untuk mencari dukungan dan mekanisme bela ego, yang hampir pasti jalan tengah hampir tak dimiliki.

Solusinya? Berdialektika. Terkadang berhasil, tetapi lebih banyak gagalnya. Para mbétjikor (orang yang hobi mbétjik) adalah pengecut dan pengemis perhatian  dengan selalu memakai dukungan pengikutnya untuk menjatuhkan lawannya. Mereka sering membuat statement baru dan menyebarluaskannya di media sosial untuk dibaca followers-nya, sehingga munculah drama baru.  Memang, pada sisi lain, ada followers yang berupaya untuk berdialog dan memaknai mbétjik tersebut dengan nuansa positif, mengungkapkan fakta sosial, menyodorkan jalan keluar atau mengambil nilai positif dari mbétjik tersebut. Dalam konteks ini, followers tersebut mencoba keluar dan membuat suatu paradigma baru dari mbétjik, dari hanya sekedar bernuasa negatif menjadi nuansa positif,  atau pun kritik sosial yang membangun.

Hemat penulis, Mbétjik selalu seksi, memikat dan menarik perhatian banyak pihak. Sebenarnya dalam konteks mbétjik, penulis merasa sedikit iba kepada mbétjikor. Para mbétjikor dapat disimpulkan sebagai “orang yang sengaja mencari perhatian” atau sebagai “orang yang kurang perhatian dan hobi mengkambinghitamkan” sosial media untuk mencari perhatian followers. Hemat penulis, tutur kata Mbétjik yang digunakan oleh para mbétjikor sesungguhnya tengah memperlihatkan diri mereka yang yang sangat memprihatinkan, mejadi korban, pesakitan dan karena itu “ingin dikasihani”. Mereka mencoba berakting dan mendramatisasi seolah-olah pihaknyalah yang dirugikan, terkenah musibah dan tertekan. Sungguh menggelikan, menjijik dan mengerikan. Selain itu, Para mbétjikor juga mungkin mengalami gangguan pikiran, perasaan dan kehendak, sehingga mereka begitu ngotot melakukan mekanisme pembelaan diri yang lebih bercorak primitif (primary prosess degence). Mereka mungkin lagi mengalami identity diffusion (kekaburan identitas) dalam terminologi Kernberg. Aktualisasi diri yang keliru ini semata-mata hanya untuk mendapatkan perhatian followers yang konyol juga dan dengan mudah tertipu dan berkomentar yang semakit hot, dan dalam konteks yang bernuansa politik ini, tujuannya tidak lain, memeperoleh dukungan.

Persepsi tentang negatif atau positifnya mbétjik amatlah relatif, tergantung sudut pandang dan siapa audiens atau pembacanya. Mbétjik harus dilihat sebagai penyakit sosial yang harus diobati.

 

News Feed