oleh

Pentingnya Tokoh Muslim Ikut Pencalonan Pilkada Manggarai

-OPINI-1.923 views

Opini Oleh: Soeratman (Eks Kordinator Keilmuan Ikatan Mahasiswa Islam Manggarai Yogyakarta) IM3-Y

Tahun 2020 merupakan tahun politik atau tahun pesta demokrasi akbar pemilihan kepala daerah serentak di seluruh wilayah Indonesia, termasuk manggarai.

Hingar bingar menuju pesta demokrasi di kabupaten manggarai saat ini mulai terlihat. Para Bakal Calon Bupati dan Wakil Bupati sudah mulai turun menyambangi masyarakat untuk meminta restu dan dukungan.

Ditengah hingar-bingar pesta demokrasi itu tidak ada hal baru yang menarik.

Wajah lama masih menghiasi kancah perpolitikan manggarai saat ini, masih belum ada tokoh muslim yang visoner dan berani ikut Pencalonan Pilkada.

Selain itu masih belum ada kesadaran dari umat Muslim manggarai untuk bersatu padu memilih dan mempercayai sosok pemimpin yang lahir dari rahim Islam untuk ambil andil dalam kontestasi pemilihan kepala daerah serentak kali ini.

Ketika tahun ini tidak ada satupun calon dari umat Muslim yang ikut mencalonkan diri sebagai kepala daerah atau wakil kepala daerah, maka Saya mengindikasikan bahwa umat Islam manggarai masih belum paham akan pentingnya persatuan umat demi mewujudkan kesejahteraan.

Tulisan ini sedikitpun tidak bermaksud untuk memecahbelah tali persatuan masyarakat manggarai namun karena negara kita adalah negara hukum dan secara konstitusional menjamin bahwa setiap orang berhak untuk mencalonkan dirinya sebagai wakil rakyat atau kepala daerah tanpa memandang latar belakang agama, etnis, suku, budaya dll. Maka tidak salah bila penulis mengungkapkan hal yang benar secara hukum dan demokrasi.

Dalam pasal 27 ayat 1 UUD 1945 jelas menyebutkan bahwa setiap orang dianggap sama dimata hukum dan pemerintah.

Dalam konteks ini penulis tidak sedikitpun bermaksud menimbulkan politik identitas, akan tetapi yang namanya politik identitas sangat sulit untuk ditiadakan dalam perpolitikan kita dewasa ini. Tapi paling tidak selama politik identitas itu bisa dikelola dengan baik untuk mewujudkan cita demokrasi dengan melahirkan pemimpin yang menaruh perhatian penuh pada penderitaan masyarakat manggarai.

Dari dulu hingga saat ini disadari bahwa tidak pernah ada satu orangpun dari kalangan umat Islam yang ikut mencalonkan diri sebagai kepala daerah ataupun calon wakil kepala daerah, kiranya akan menarik apabila dari kalangan umat Islam bisa satu paket dengan calon yang berasal dari non Islam untuk maju dalam pemilihan kepala daerah kali ini. Namun nyatanya umat islam hanya sebatas menjadi pendukung dan penonton.

Barangkali penyebab dari tidak adanya sosok umat Islam manggarai yang ikut mencalonkan diri, baik sebagai kepala daerah maupun wakil kepala daerah terlahir dari sebuah ketidakpercayaan dari sebagian umat islam itu sendiri, bahwa sosok umat Islam yang diberi amanah untuk berjuang memajukan daerah manggarai tidak bakalan menang karena melihat basis masa umat islam manggarai tidak seberapa sehingga sumbangsih suara umat Islam manggarai tidak cukup mampu mengantarkan calon pemimpin pilihan mereka untuk duduk di kursi nomor satu manggarai.

Sikap pesimistis semacam ini yang menjadi penghambat bagi kemajuan umat islam manggarai.

Umat Islam manggarai perlu berkaca dari beberapa daerah di NTT yang notabene penghuni daerah tersebut didominasi umat Kristen tapi putra islam masih memiliki kesempatan untuk bisa menduduki kursi wakil kepala daerah, seperti di daerah kabupaten Ende.
Itu artinya tidak ada kata mustahil semuanya bisa terjadi bila umat Islam manggarai bersatu.

Baca Juga :   Dramaturgi Politik Menuju Pemilukada

Dengan demikian perlu adanya konsolidasi di internal umat Islam untuk menyamakan persepsi dalam membicarakan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat manggarai dengan menyepakati bahwa hanya ada satu sosok calon pemimpin yang diutus untuk mengikuti pemilihan kepala daerah di manggarai. Hal yang sama juga diberlakukan saat pemilihan dewan perwakilan rakyat daerah manggarai (DPRD).

Dengan begitu suara umat islam tidak terpecah tapi mengarah pada satu calon pemimpin yang telah di sepakati dalam agenda konsolidasi tersebut.

Kemudian faktor lain sehingga umat Islam manggarai acuh tak acuh terhadap perpolitikan daerah diakibatkan kurangnya pendidikan politik Islam yang diberikan oleh tokoh-tokoh agama Islam manggarai.

Seringkali masjid hanya sebatas diisi dengan ceramah dan lantunan lagu lagu qasidah padahal bila melihat fungsi dari masjid itu sendiri begitu luas, selain sebagai rumah ibadah, masjid juga sebagai madrasah atau sekolah bagi umat untuk menuntut ilmu, salah satu ilmu yang bisa di pelajari adalah ilmu politik islam.

Bila menengok sedikit sejarah peradaban Islam mengapa Nabi dan para sahabat pada saat itu mampu menguasai separuh dunia. Hal itu karena Nabi menggunakan masjid sebagai basis pergerakan pembaharuan dan kemajuan umat bukan semata mata membicarakan soal akhirat dan juga justru menjadikan masjid sebagai tempat untuk menanamkan nilai nilai persatuan umat dan tempat mencerdaskan umat, karena melalui masjid Nabi dan para sahabat mengajarkan bagaiman cara berperang dan bagaiman berpolitik dengan baik sesuai dengan tuntunan Quran dan Hadits.

Faktor ini menjadi unsur kelemahan bagi umat Islam manggarai yang tidak mampu memanfaatkan dengan baik rumah ibadah.

Oleh karenanya manejemen pengelolaan masjid baik sebagai sarana untuk ibadah maupun dijadikan tempat pendidikan umat harus segera diperbaiki oleh otoritas takmir bersama dengan umat agar kedepannya masjid tidak saja bicara soal akhirat tapi juga membicarakan masalah umat.

Jadi bisa kita melihat bahwa hal-hal yang perlu diperbaiki oleh umat Islam manggarai kedepannya adalah, hilangkan rasa pesimisme bahwa sosok calon pemimpin yang berasal dari umat Islam manggarai tidak bisa menjadi pemimpin di daerahnya sendiri. Tapi tanamkan rasa percaya diri umat, bahwa sosok calon pemimpin yang lahir dari kesepakatan konsolidasi internal umat Islam mampu bertarung di kanca perpolitikan manggarai dan berhasil duduk di kursi nomor satu manggarai baik sebagai kepala daerah ataupun sebagai wakil yang terpenting bertarung dan jangan menyerah sebelum bertanding.

Umat Islam manggarai harus bersatu jadikan masjid-masjid yang ada sebagai sarana untuk mencerdaskan umat dan jadikan masjid untuk membicarakan kesejahteraan dan kemakmuran umat agar umat Islam manggarai hatinya tergoyahkan untuk bersatu berjuang menegakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat manggarai tanpa memandang agama suku dan golongan melalui instrumen politik karena dengan politik umat islam bisa membangun manggarai lebih maju.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed