oleh

Reses Virtual, Ansy Lema Serap Aspirasi Warga Kabupaten Sabu Raijua NTT

JAKARTA, SwaraNTT.Net Anggota Komisi IV DPR RI Yohanis Fransiskus Lema (Ansy Lema) melakukan kegiatan serap aspirasi atau reses virtual dengan para penerima bantuan ternak sapi-kambing dan perwakilan petani Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin, (10/8/2020).

Hadir pada kesempatan tersebut Ketua DPC PDI Perjuangan sekaligus Ketua DPRD Kabupaten Sabu Raijua, Paul Rabe Tuka dan fungsionaris partai.

Saat masih kecil, kata Politisi PDI Perjuangan tersebut, sudah mengenal Sabu Raijua lewat kudapan gula Sabu. Bahkan sampai saat ini, jika berkunjung ke Kupang, gula Sabu termasuk daftar wajib yang akan saya beli dan nikmati.

Anggota komisi IV DPR RI Ansy Lema, menjelaskan, Kandungan glukosa dalam gula Sabu sangat rendah sehingga sangat baik dikonsumsi penderita kolesterol. Masyarakat di pulau Sabu bahkan mengonsumsi Gula Sabu sebagai pangan utama pengganti padi dan jagung.  Potensi gula Sabu perlu dikembangkan agar bermanfaat bagi masyarakat lokal.

Baca Juga: Wakil Ketua MPR RI Sumbang Sapi Kurban Untuk Umat Muslim di Ruteng

“Saya selalu meresapi instruksi Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Ibu Megawati Soekarnoputri agar kader PDI Perjuangan mengarahkan perhatian ke Indonesia Timur. Sabu Raijua bukan lagi wilayah pinggiran, tetapi harus menjadi sentra utama pembangunan. Pemerintah harus hadir untuk membangun Sabu Raijua melalui kebijakan yang konkret dan memihak kesejahteraan masyarakat di sana,” Jelas anggota komisi IV DPR RI Yohanis Fransiskus Lema.

Politikus PDI Perjuangan itu menambahkan dalam kerja sama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Ditjen PKH Kementan), Ia memberikan bantuan ternak sapi 20 ekor dan kambing 25 ekor kepada petani-peternak di Sabu-Raijua.

Ansy berharap melalui bantuan ternak, petani-peternak dapat mendapatkan tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Lebih lanjut kata Ansy, untuk membantu mengatasi gagal tanam (juga gagal panen) dan kelaparan, saya bekerja sama dengan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan mengadakan bantuan Pekarangan Pangan Lestari (P2L) kepada 3 kelompok petani di Sabu Raijua.

“Tiga kelompok menerima masing-masing Rp 75 Juta Rupiah, sehingga total bantuan sebesar 225 Juta Rupiah. Uang akan digunakan untuk membiayai operasional penguatan ketahanan pangan dalam skala rumah tangga atau keluarga,” Ungkap Politikus PDI Perjuangan itu.

Baca Juga :   ⁣⁣TNI AD Terima Bantuan Alat Rapid Test dari DNR Corporation

Melalui bantuan P2L, lanjut Ansy,  masyarakat dapat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran, tanaman bumbu dapur ataupun cabe untuk meringankan beban ekonomi mereka.

“Melalui reses ini, saya ingin memastikan agar bantuan kepada masyarakat Sabu-Raijua tepat sasar, terutama kepada petani yang sangat membutuhkan bantuan pemerintah. Masyarakat umumnya mengeluhkan bencana kekeringan yang melanda Sabu Raijua beberapa tahun terakhir. Mereka sangat membutuhkan air minum dan air untuk menyiram tanaman dan minum ternak,” Jelas anggota komisi IV DPR RI tersebut.

Petani Sabu Raijua berharap pemerintah dapat membangun embung atau sumur bor untuk mencukupi kebutuhan air dan masyarakat juga mengeluhkan kawasan pantai yang mulai rusak akibat kekeringan dan ulah manusia.

Ansy menambahkan, masyarakat Sabu Raijua berharap Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberi bantuan penghijauan (reboisasi) pantai di Sabu Raijua.

“Sabu Raijua juga memiliki potensi unggulan berupa garam dan rumput laut yang melimpah sepanjang pesisir pantai. Budidaya rumput laut menyumbang 1 Miliar Rupiah untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun lalu. Pemerintah daerah juga sudah membangun pabrik pengolahan rumput laut. Kendala yang dihadapi, karena pendanaan pabrik masih memakai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), maka jumlah anggaran terbatas, sehingga perlu investor,” ungkap mantan Juru Bicara Ahok tersebut.

Untuk komoditas garam, jelas Ansy, pada tahun 2019 kontribusinya bagi PAD 9 miliar rupiah. Namun produksi garam tidak mudah mendapatkan pembeli. Akibatnya, antara 2018-September 2020 stok garam yang kini bertumpuk di gudang penyimpanan mencapai 20 ton.

“Mereka berharap, pemerintah dapat membantu mencari pembeli ataupun negara dapat membeli-menyerap garam Sabu. Saya berkomitmen menyampaikan aspirasi petani-peternak Sabu Raijua dalam persidangan di Senayan. Saya ingin memastikan agar pembangunan pertanian, peternakan, dan kelautan-perikanan harus berdasarkan konteks aktual NTT dan menjawab permasalahan petani-peternak-nelayan di NTT,” Pungkasnya.

News Feed