oleh

Sudahkah Anak Muda NTT Berkontribusi Membangun Negeri?

-OPINI-4.036 views

Oleh : Andrew Donda Munthe
(ASN pada BPS Kota Kupang/Alumnus Sekolah Pascasarjana IPB Bogor)

 

Beberapa waktu yang lalu, bangsa Indonesia berduka. Tanggal 11 September 2019, Bacharuddin Jusuf Habibie (Presiden RI ke-3) meninggal dunia pada usia 83 tahun di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Perjalanan panjang hidup beliau dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda muda Indonesia dalam menggapai cita-citanya. Habibie memang meninggalkan kita semua secara fisik. Tapi semangat dan pemikirannya akan tetap tinggal “bergelora” bagi setiap anak bangsa penerus negeri ini.

Almarhum B.J. Habibie sangat terkenal dengan kecerdasan intelektualnya. Tidak hanya “tenar” di dalam negeri, namun juga diakui oleh masyarakat internasional. Ada sebuah kalimat menarik yang pernah disampaikan beliau terkait kecerdasan. “Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup”.

Seorang rohaniwan pernah memberikan ilustrasi menarik terkait kecerdasan manusia. Beliau memberikan kisah tentang 4 orang sahabat yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar. Keempat sahabat tersebut sepulang sekolah bermain di sebuah lapangan tak jauh dari rumah mereka. Selagi mereka asik bermain, terdengar bunyi beberapa buah kelapa yang jatuh di dekat tempat mereka bermain.

Anak yang pertama mengambil satu buah kelapa dan menjelaskan kepada teman-temannya bahwa pohon kelapa dalam bahasa ilmiah atau latin disebut dengan cocos nucifera. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kandungan nutrisi yang terdapat pada air kelapa muda sekitar 600 mg potasium. Hal ini menjadikan air kelapa muda dapat menjadi minuman elektrolit. Setelah menjelaskan manfaat dan kegunaan air kelapa tersebut, ia membawa kelapanya dan segera pulang ke rumah.

Anak yang kedua, membawa 2 buah kelapa yang jatuh dan segera membawanya ke pasar terdekat. Dalam benaknya, ia akan memperoleh sejumlah uang apabila mampu menjual buah kelapa tersebut kepada orang yang sedang berbelanja disana.

Anak ketiga justru membawa beberapa kelapa yang jatuh tadi mengelilingi sekitar lapangan. Ia bersuara lantang menanyakan kepada setiap orang yang dijumpainya untuk mengetahui pemilik pohon kelapa. Sang anak ini ingin mengembalikan buah kelapa yang jatuh kepada si pemilik pohon.

Anak keempat segera pulang kerumah, mengambil parang dan kembali lagi ke lokasi buah kelapa tadi jatuh. Dengan cekatan ia membuka buah kelapanya dan segera memberikannya kepada seorang kakek tua yang sedang duduk tak jauh dari tempat keempat sahabat tadi bermain.     

Dari kisah keempat sahabat di atas, kita belajar tentang berbagai kecerdasan yang ada pada seorang manusia. Anak pertama memiliki kecerdasan intelektual. Ia memiliki pengetahuan lebih luas yang tidak dimiliki teman-temannya yang lain. Anak kedua memiliki kecerdasan finansial. Anak ketiga memiliki kecerdasan moral. Sedangkan anak keempat memiliki kecerdasan sosial.

Sayangnya, banyak orang tua saat ini (termasuk orang tua yang bermukim di NTT) lebih mengedepankan kecerdasan intelektual. Kemampuan akademik anak selalu jadi prioritas. Sang anak didaftarkan mengikuti berbagai kursus (les). Mulai dari les matematika, les bahasa inggris, les mata pelajaran, dan berbagai kegiatan tambahan lainnya. Padahal anak perlu juga dibekali dengan kecerdasan lain yaitu kecerdasan finansial, kecerdasan moral, dan kecerdasan sosial. Figur almarhum B.J. Habibie merupakan salah satu sosok yang tepat sebagai teladan bagi generasi muda bahwa “cerdas” itu harus seimbang.

Pejuang Data Vs Pengemis Data

Almarhum B.J. Habibie punya kontribusi yang sangat besar bagi kemajuan negeri ini. Perannya dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) patut diapresiasi oleh generasi saat ini dan juga generasi masa depan. Akan tetapi, kita perlu menyadari bahwa setiap warga negara punya peranan yang berbeda dalam membangun negeri.

Sekecil apapun peran yang diemban, kita harus tetap memberi kontribusi positif demi eksistensi bangsa ini. Hal tersebut pernah disampaikan oleh almarhumah Marselina Irene Goetha (1966-2019). Beliau adalah sosok insan statistik di Nusa Tenggara Timur dengan semangat dan dedikasi tinggi dalam memajukan negeri ini melalui data berkualitas. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di dunia (9/8/2019), tugas beliau sehari-harinya adalah sebagai Kepala BPS Kota Kupang. 

Semasa hidupnya, dalam berbagai kesempatan beliau selalu menyatakan bahwa menjadi penyelenggara statistik adalah tugas mulia dan perlu dilakukan secara profesional. Rangkaian kegiatan dari awal hingga akhirnya data dirilis kepada publik harus sesuai prosedur yang berlaku.

Lembaga statistik (BPS) adalah pejuang data bukan pengemis data. Artinya, data yang diperoleh benar-benar diperjuangkan. Insan statistik berperan bagi negeri ini melalui data berkualitas yang dihasilkan. Berkualitas disini berarti data kuesioner isiannya lengkap sesuai konsep definisi serta tepat jadwal pelaksanaannya.

Berbagai tantangan di lapangan harus mampu “ditaklukkan” para petugas pendata. Mulai dari kendala geografis, responden yang sulit dijumpai, responden menolak di data, bahkan ada pula responden yang tidak memberi informasi dan data yang sebenarnya. Bukankah ini berarti data berkualitas hanya mampu dihasilkan oleh petugas pendata yang merupakan pejuang tangguh?

Generasi Muda NTT

Dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, pembangunan di Provinsi NTT masih jauh tertinggal. Indikatornya dapat dilihat dari angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dari 33 provinsi yang ada di Indonesia, nilai IPM NTT pada tahun 2018 (64,39) menempati posisi 3 terbawah. Nilai IPM NTT hanya lebih baik dari IPM Provinsi Papua (60,06) dan Papua Barat (63,74).  

Generasi muda di NTT tidak seberuntung anak-anak muda di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, ataupun Sulawesi yang sektor pendidikannya telah didukung dengan sarana dan fasilitas yang lebih memadai. Selain itu, di provinsi ini seringkali dijumpai anak muda yang tak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi karena terkendala masalah ekonomi.

Di tengah keterbatasan yang ada, anak-anak muda NTT mampu menorehkan prestasi di berbagai bidang. Sudah banyak contoh anak muda dari bumi Flobamora (NTT) yang berhasil “mencuri” perhatian dengan bakat dan talenta yang dimiliki. Sebut saja anak-anak muda NTT yang mampu tampil apik dalam ajang pencarian bakat sekelasIndonesian Idol, The Voice Indonesia, ataupun Rising Star. Mereka adalah Marion Jola, Mario G. Klau, Andmesh Kamaleng. Ada pula yang memanfaatkan situs berbagi video Youtube untuk menunjukkan kepada dunia merdunya suara anak-anak muda NTT. Hal ini seperti yang dilakukan Betrand Peto atau Nearfeaturing Dian Sorowea dengan lagu “Karna Su Sayang”.

Lain lagi yang dilakukan oleh Yabes Roni. Anak muda asal NTT yang memilih menggeluti dunia sepakbola. Yabes saat ini memperkuat klub Bali United dan bermain di Shopee Liga 1, kasta tertinggi kompetisi sepakbola nasional. Selain dari dunia olahraga, anak muda NTT juga mampu berprestasi di bidang akademis. Grandprix Thomryes Marth Kadja adalah salah satu contohnya. Ia mampu menyelesaikan pendidikan Doktoral (S3) di ITB Bandung (22/9/2017) pada usia 24 tahun. Masih banyak contoh anak muda NTT lain yang meraih kesuksesan dengan kerja keras, ketekunan, dan doa.

Almarhum B.J. Habibie semasa hidupnya mendedikasikan dirinya bagi kemajuan IPTEK. Almarhumah Marselina Irene Goetha semasa hidupnya mengambil peran membangun negeri sebagai seorang statistisi. Bagaimana dengan dirimu wahai generasi muda NTT penerus negeri? Sudahkah dirimu mengambil peran dalam membangun negeri ini?..

 

Baca Juga :   Meraba Dasar Hukum Lockdown

 

Komentar

News Feed