oleh

Tantangan Kebangsaan Masa Kini

-OPINI-268 views

Oleh: Aji Setiawan

Tantangan Kebangsaan Masa Kini   

Sejak setengah bulan ini aktivitas masyarakat yang semula diprediksi akan kembali normal, ternyata meleset. Pandemi yang melanda seluruh dunia kembali meningkat sehingga,aktivitas perlu ada pembatasan.

Kegiatan masyarakat yang memicu kerumunan besar bisa dibubarkan secara paksa. Semua dengan protokol kesehatan. Sudah setengah bulan ini, resesi ekonomi global melanda.Di mana pertumbuhan ekonomi dunia rata rata minus 5,2 persen.

Baca juga: Paradoks Hasil Panen Produk Pertanian  

Tak terkecuali Indonesia yang diprediksi mampu tumbuh di atas 5 persen, harus mengkoreksi angka pertumbuhan antara 2-5 persen. Belum ada cara mujarab untuk bangkit dari resesi ekonomi.

Kebangkitan ekonomi tanah air kita sesungguhnya sudah beralih dari pola agraris ke industri. Akan tetapi ketidakkokohan fundamental agraria bisa jadi membuat kita harus berfikir ulang tentang revolusi ekonomi digital 4.0 bahkan 5.0 akan mengalami big hang. Revolusi 4.0 bertumpu pada lompatan digital dan informasi, sementara revolusi 5.0 bertumpu pada Human Resourse Development (HRD).

Kebutuhan masa depan manusia tanpa mempersiapkan kebutuhan paling pokok dan mendasar manusia adalah keniscayaan. Kebutuhan pokok itu adalah sandang, pangan dan papan.

Pergeseran manusia dari pola agraris ke era industri membuat terjadi pergeseran lahan pertanian menjadi lahan pabrik pabrik industri. Pun pola pekerjaan, banyak petani beralih menjadi buruh pabrik dan sektor usaha.

Baca Juga: Dilema Pilkada Di Masa Pandemi

Jumlah petani kita sekarang 27,1 juta orang, bayangkan jumlah penduduk Indonesia sekarang yang sudah di atas 315 juta. Secara perhitungan kasar satu orang mensuplai 11-12 orang.

Saya kira ke depan, pemerintah perlu lagi punya prioritas mencetak sawah baru setengah juta hektar per tahun. Memberdayakan pemuda untuk kembali menggeluti bidang pertanian. Kebutuhan ini dirasa mendesak agar kita yang sudah berswasembada pangan sejak 1970 an tidak terdampak terlalu jauh dari resesi ekonomi global dan pandemi.

Resesi ekonomi ini akan bangkit apabila kita membangun fundamental ekonomi. Ya, mau tidak mau kita harus menata ulang dari sektor sektor produksi agar berswasembada pangan kembali. Hanya dengan memperkuat basis produksi di hilir dan meningkatkan kualitas di sektor hulu dengan keunggulan kompetitif dan komparatif, kita bisa bersaing dan masuk pasar global atau ekspansi.

Memang ada cara revolusioner untuk memperkokoh fundamental ekonomi dengan cara perang. Di mana sektor pertahanan keamanan diperkuat dengan cara investasi di sektor senjata, produksi teknologi perang, memperkuat alat alat pertahanan keamanan dan jaringan militer internasional diperkuat.

Dalam kondisi normal cara ini tidak biasa, bahkan dianggap salah satu cara dari bagian pertahanan dan keamanan dalam menjaga wilayah NKRI. Adalah tidak lazim bila kita memperkuat kawasan militer, dengan membangun pangkalan militer di beberapa tempat garis terluar perbatasan Indonesia.

Tentu, wacana membangun pangkalan militer yang sempat mengemuka pada Pilpres yang lalu, bisa diwujudkan tanpa ketakutan ini adalah ide dari pihak yang kalah dalam pilpres.

Tapi, mari kita duduk dalam kebaikan bersama ada masa depan bersama dalam menjaga wilayah NKRI di mana tantangan jaman harus menyesuaikan situasi global. Maka investasi di bidang pertahan keamanan bisa jadi menguntungkan dalam jangka panjang efeknya.

Pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur yang sedang berjalan, berbareng dengan revolusi pertanian yang sedang tumbuh 2,8 persen. Mau tidak mau, revolusi hijau akan kita kembangkan dalam menghadapi persaingan global yang sudah tampak di depan mata.

Pilkada yang begitu ribut dengan saling beradu pengaruh untuk merebut simpati pemilih di masyarakat, termasuk ke kalangan petani, peternak, pekebun, pekerja, dan milenial. Ini cukup menggembirakan kita menyambut pesta demokrasi kali ini dengan suasana riang gembira.

Celotehan dan sumpah serapah di media sosial anggap saja sampah kata kata, jangan dimadukan ke hati. Anggap saja, pilkada sebagai sarana hiburan, wisata politik yang mendidik dan sarana kita melewati masa transisi demokrasi dari event lima tahunan. Tanpa perlu saling ngotot mempertahankan pendapat dan saling klaim sebagai pihak paling menang.

Pilkada baru masuk masa kampanye. Masa pemilihan dan perhitungan suara masih jauh di depan pada 9 Desember nanti. Pandemi Covid 19

Baca Juga :   Jawaban seputaran Zonasi Masih banyak orang tua yang masih berburu sekolah favorit?

Temen saya marah-marah, itu pengumuman pemerintah gimana suruh di rumah saja karena Pandemi. Lha kita butuh cari duit, ke pasar dan kebutuhan sehari hari. Di rumah saja, memang membuat kita jenuh, bosan dan suntuk bahkan stres.

Pemerintah tidak melarang ke luar rumah sepanjang sesuai protokol kesehatan jaga jarak, pake masker, jauhi kerumunan dan memang cuaca sedang panas-panas penuh debu. Tidak tahu ambang polusi oktan di jalan raya. Debu kapitalisme, lumpur tanah yang bisa jadi beterbangan mengandung virus flu. Bila kena hujan sebentar saja, bisa membumbung satu meter dan pilegk bila kita keluar rumah kuyup kena hujan. Pancaroba namanya. Ayam kampung saja, yang demikian kena ayan,-cileren-, demam, flek,flu. cuaca pancaroba.

Hujan seminggu yang lalu gerimis 3 kali, panas sekali. Secara ilmiah, ketika debu kena hujan, debu yang banyak bervirus naik 1 meter, maka ketika hujan gerimis orang menerjangnya otomatis flu, pileg, influensa, demam. Ayam saja akan panastis. Ambil positifnya saja, bergerak di pagi buta, bada shalat subuh dan sore jelang magrib.

Cuaca tidak mendukung. Kang Tarmin sineas humoris dari Purbalingga yang sehari hari jadi tukang Bego (nyupir Buldoser) menganggap Covid itu penyakit ampeg, sesak nafas, bengek yang sejak jaman dahulu sudah ada.

Panas sekarang dan tahun-tahun ke depan pergerakannya 0,5 ‘C, global klimate ini disetujui oleh hampir seluruh negara di dunia. Kita tidak tahu kapan bisa mengerem laju suhu panas yang sudah di atas rata rata.

Indonesia yang terkenal beriklim tropis dan menjadi salah satu paru paru dunia, tentu perlu kembali menghijaukan hutan hutan kita yang sudah digunduli setengah juta hektar per tahun.

Karenanya, kita belum tahu virus ini diketemukan obatnya, kita dianjurkan untuk rajin cuci tangan dengan enam langkah, sering mengenakan masker. Lalu hindari kerumunan, menghabiskan waktu di rumah, hindari kontak dengan hewan mati atau hidup, dan makanlah daging yang matang.

Selain itu, sebagai langkah antisipasi pencegahan dan penanganan virus corona, di beberapa Rumah Sakit telah menyiapkan ruang yang bisa digunakan merawat pasien. Namun kita tidak menyarankan karantina mandiri. Lebih baik mencegah daripada mengobati.

Apabila masyarakat ingin tahu informasi virus corona, sedari dini bisa menghubungi Gugus Kendali Penanganan Covid-19.

Berbagai upaya telah berupaya maksimal mungkin dengan bantuan sabun cuci tangan, pembagian masker, obat obatan dan bantuan sembako bagi warga kurang mampu, Kita juga sudah menyarankan dengan tim gugus kendali di kampung-kampung untuk membuka kembali gerbang blokade kampung.

Selama memenuhi standar protokol kesehatan.Saya yakin, penyebaran virus sudah tidak menyebar dan pelonggaran massal harus diupayakan agar masyarakat bisa menggerakkan roda ekonomi, mencari nafkah dan mencukupi kebutuhan keluarga.

Baca Juga: Tantangan Ekonomi Miracle di Indonesia

Pergerakan orang kita siasati antara 50 dan maksimal 100 orang, karena itu yang memungkinkan dan diatur oleh Undang undang, dan harus mematuhi standar protokol kesehatan.

Situasi jadi tidak normal

Berpijaklah, sebagaimana sudah Normal. Hari ini sudah Normal. Saya sehat hari ini. Maka jauh lebih sehat.  Karena ada yang menyatakan zona merah, zona hijau sudah no 4 se Indonesia dengan range 100-200 terkena Covid. Jaga diri,( C)uci tangan yang bersih, (berwudhu), (O) lah raga yang cukup ,pit pitan. (V)ilter dengan masker,( I)munitas ditingkatkan, Istirahat yang cukup dan makan makanan yang bervitamin dan bergizi, (T)amengi diri dari kerumunan yang tak berguna.( 19 )(17 rokaat lima waktu tambah min 2 sunnah tahajud malam) = new normal CopiT 19. Ya Alloh…Engkau kirim Thoun, Virus yang sampai kini belum ketemu obatnya, lalu orang ketakutan massal. Neurosisme berlebihan melibihi batas.

Ya Alloh, cukupkan bagi kami penyakit penyakit yang tak sanggup bagi kami menanggungnya. Ya Alloh pandanglah kami dengan mata kasih sayangmu. Angkat penyakit kami tanpa rasa sakit. Ya Alloh , sembuhkan lah penyakit penyakit kami. Ya Alloh kabulkanlah doa doa kami. Amin ya Mujibas Saiin.

Aji Setiawan, Penulis Tinggal di Purbalingga Jawa Tengah

News Feed