Bahlil Tegaskan Indonesia Stop Impor Solar Tahun Ini

Masih dari Lawe-Lawe, Pertamina juga membangun dua tangki raksasa dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel sebagai “gudang” bahan baku. Dua tangki tersebut menambah total cadangan penyimpanan menjadi 7,6 juta barel. Ini ibarat memiliki gudang bahan makanan yang sangat besar, sehingga stok “masakan” untuk nasional selalu aman. Tangki dan SPM Lawe-Lawe dihubungkan melalui pipa sepanjang sekitar 20 kilometer yang membentang di darat dan bawah laut.

Selanjutnya, meracik bahan baku menjadi hidangan menarik adalah tugas dari koki. Inilah peran fasilitas Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC).

Dengan kapasitas yang ditingkatkan menjadi 360 ribu barel minyak per hari, CDU sebagai jantung dari Kilang Balikpapan kini bisa mengolah minyak lebih banyak dari sebelumnya yang hanya 260 ribu barel. Sementara itu, unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) bertindak sebagai “koki ahli” yang mampu mengubah residu sisa olahan menjadi produk yang bernilai tinggi.

Sebagai koki, CDU dan RFCC serta unit produksi lainnya Kilang Balikpapan merupakan koki canggih yang serba bisa, memasak bahan baku menjadi berbagai variasi “makanan” berkualitas tinggi seperti BBM Gasoline, Diesel dan Avtur dengan standar EURO V yang ramah lingkungan, LPG, serta produk Petrokimia turunan lainnya seperti Propylene dan sulfur.

Setelah BBM selesai diproduksi, selanjutnya akan dikirimkan ke masyarakat. Terminal BBM Tanjung Batu dengan kapasitas 125 ribu KL berfungsi sebagai salah satu titik distribusi “masakan” yang dihasilkan dari Kilang Balikpapan.

Seluruh infrastruktur di atas saling menunjang satu dengan yang lain. Tanpa pipa gas, kilang tidak efisien. Tanpa sarana tambat Lawe-Lawe, kilang tidak bisa menerima bahan baku dalam jumlah besar. Tanpa tangki raksasa, cadangan bahan baku akan menjadi terbatas.