oleh

Batalkan Pembelian Tanah Secara Sepihak, Oshinnawa M. Fanggidae Polisikan Fransiskus Ondi Bai, Theresia S. Nurak dan Paulus Hadu

Manggarai, SwaraNTT.Net – Oshinnawa Magdalena Fanggidae mempolisikan suaminya Fransiskus Ondi Bai, Theresia Sunita Nurak ( Notaris ) dan Paulus Hadu ( Penjual tanah ), atas tindakan pembatalan jual beli tanah, yang dilakukannya secara sepihak. Demikian disampaikan Oshin kepada SwaraNTT.Net di kediamannya Rabu (28/09/2022).

Kepada SwaraNTT.Net Oshin menjelaskan pada awalnya Oshin dan suaminya Ondik membeli sebidang tanah di Kelurahan Bangka Nekang yang saat ini bernama Aline Caffe, lalu bersama Paulus Hadu selaku pemilik tanah,mereka menggunakan jasa dari Notaris Theresia S. Nurak, untuk mengurus segala sesuatu terkait jual beli tanah tersebut.

Pembayaran tanah tersebut di lakukan secara bertahap sesuai harga yang di sepakati antara pihak penjual dan pembeli senilai 1 Milyard 150 juta rupiah dan jumlah nominal uang yang sudah di transfer oleh pihak pembeli kepada pemilik tanah adalah senilai 1 Milyar dan tersisa 150 juta.

Dalam perjalanan sang suami Ondik dipenjara karena tersandung kasus Pencabulan dan secara otomatis pelunasan uang sisa pembelian tanah tersebut di lakukan oleh Oshin selaku istri.
Namun pada saat Oshin akan melunasi sisa uang pembelian tanah tersebut melalui Notaris, Oshin kaget mendapat kabar per telpon dari Istri Paulus Hadu (Terlapor III/Pemilik tanah) Elli Rami yang mengatakan, bahwa jual beli tanah tersebut sudah dibatalkan oleh suami dari Oshin yaitu Fransiskus Ondi Bai (Terlapor I).

“waktu saya mendengar kabar itu saya kaget, kenapa dibatalkan? Mengapa saya sebagai istri tidak diberitahukan, ini kan harta kami bersama, karena pembeliannya saat kami sudah menikah, bukan harta warisan, sehingga tindakannya saya tidak terima,” ujarnya.

Saat mengetahui bahwa adanya pembatalan jual beli atas tanah tersebut Oshin langsung menghubungi notaris yaitu Theresia Sunita Nurak, SH, M.Kn yang mereka gunakan jasanya dalam proses jual beli tanah tersebut, dan Notaris mengiakan hal tersebut.

“Saya bersama Penasihat Hukum telah berupaya menghubungi Pihak Notaris, untuk menanyakan alasan mengapa saya sebagai istri sah dari pelaku ondik, tidak di libatkan dalam proses pembatalan tersebut, nomor saya di blokir oleh Notaris dan juga oleh Pihak dari Paulus Hadu selaku pemilik tanah” katanya.

Merasa dirinya di curangi Oshin pun mengambil langkah Hukum dengan melaporkan ketiga orang ini yaitu Fransiskus Ondi Bai (Suami/Terlapor I), Theresia Sunita Nurak, SH, M.Kn (Terlapor II/Notaris) dan Paulus Hadu (Terlapor III/pemilik tanah) ke Polres Manggarai.

“Saya merasa sangat dirugikan sekali dengan tindakan mereka, membatalkan tanpa sepengetahuan saya, ini ada dugaan skenario besar untuk mengaburkan kasus pidananya si ondik, rentetannya kan begitu, masa sebagai seorang ibu saya membiarkan tindakan Ondik terhadap anaknya sendiri, tindakan tidak manusiawi” kata Oshin.

“Sementara tempat ini (Aline Cafe ) merupakan satu-satunya sumber penghasilan saya untuk menghidupi anak-anak, yang trauma atas perbuatan suami saya dan juga ayah dari anak-anak kami. saya sebagai istri mempertanyakan kemanakah uang hasil penjualan kafe tersebut? Sampai saat ini saya tidak pernah tau kemanakah uang tersebut di transfer? Di transfer ke pelaku ataukah ke kerabat dari pelaku? Karena setahu saya dalam undang-undang No.01 tahun 1974 tentang perkawinan dalam pasal 35, itu jelas bahwa harta bersama itu tidak bisa di jual oleh suami atau istri tanpa persetujuan dari salah satu pihak karena kami masih terikat dalam hubungan pernikahan yang sah. Lalu bagaimanakah tanggung jawab pelaku terhadap masa depan anak-anaknya? Karena setelah pelaku di penjara , saya menjadi seorang single parents yang harus menafkahi anak-anak saya dari usaha kafe ini dan pelaku tanpa perasaan membuat kami seperti ini” ujar Oshin dengan wajah sedih.

“saya sebagai korban dalam hal ini meminta dan memohon kepada pihak Polres Manggarai agar kasus saya ini ditangani dengan transparan, karena saya dan anak-anak adalah korban dari perbuatan pelaku yang saat ini dalam penjara, tetapi pelaku dan beberapa oknum keluarganya seperti berusaha menghancurkan hidup saya dan anak-anak saya, pelaku tidak meninggalkan apa-apa kepada kami, tetapi hanya meninggalkan trauma terhadap saya dan anak-anak” tegas Oshin.

Berdasarkan release dari pengacara Oshin adapun dasar dugaan Pelapor adalah sebagai berikut :
a.Transaksi (pembatalan jual beli tanah) dilakukan oleh Fransiskus Ondi Bai (Terlapor) dalam ststusnya sebagai Tersangka dan sedang manjalani masa penahanan Polisi atau Jaksa. Bagaimana mungkin seorang yang sedang menjalani masa penahanan dapat melakukan transaksi sebagaimana
dimaksudkan?

b. Teresia Sunita Nurak,SH.MKn selaku Notaris/PPAT (Terlapor II) telah menjalankan tugasnya secara tidak professional sehingga mendatangkan kerugian bagi Pelapor, dimana hal itu dapat diterangkan sebagai berikut :
Terlapor II mengiyakan saja pembatalan jual beli tanah yang dilakukan oleh Terlapor tanpa atas dasar sepengetahuan atau persetujuan dari Pelapor, diduga dilakukan lewat orang perantaraan Terlapor atau via telpon saja, tanpa adanya surat.

c. Pembatalan yang dapat dijadikan dasar (pada saat Pelapor menanyakan apakah ada
pembatalan secara tertulis, Terlapor II tidak dapat menunjukan akan adanya surat pembalan dari terlapor I). Terlapor II tidak memberitahukan kepada Pelapor akan adanya permintaan Terlapor
I untuk membatalkan jual beli tanah. Etikanya sebagai seorang pejabat publik, Notaris harus memberitahukan mengenai segala perkembangan sikap kliennya
(yang sedang menghadapi masalah pidana) kepada para ahli waris dari kliennya.

d. Terlapor II tidak memberitahukan kepada Pelapor bahwa ia telah menyerahkan
kembali sertifikat hak milik No. 728/1996 atas nama Paulus Hadu kepada Terlapor
III. Terlapor II tidak memberitahukan kepada Pelapor bahwa Terlapor III telah
mengirim kembali uang panjar jual beli tanah senilai Rp..1.000.000.000(Satu
milliard rupiah) kepada Terlapor I.

e. Paulus Hadu selaku Terlapor III tidak memberitahukan kepada Pelapor bahwa
Terlapor II telah mengembalikan sertifikat tanah miliknya dan bahwa ia telah mengembalikan uang panjar pembelian tanah senilai Rp.1.000.000.000.(satu milliard
rupiah), kepada Terlapor I padahal diketahui olehnya dalam setiap transaksi selalu
melibatkan Pelapor.

f. Bahwa berdasarkan uraian-uraian maka terdapat kesimpulan akan tindak pidana yang
dilakukan oleh Para Terlapor adalah sebagai berikut: Terlapor I diduga melakukan tindak
pidana menggelapkan uang milik Pelapor senilai Rp.1.000.000.000.(satu milliard rupiah.).
sedangkan Terlapor II diduga menyalahgunakan jabatannya dengan jalan membantu
memperlancar terjadinya penggelapan uang milik Pelapor, demikian pun halnya Terlapor III
diduga membantu memperlancar tindakan penggelapan uang oleh Terlapor I.
Sehingga dengan demikian maka patutlah diduga perbuatan Para Terlapor merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 372 jo Pasal 55 KUHP tentang Penggelapan secara bersama-sama atau Pasal 378 KUHP tentang Penipuaan atau Pasal 415 KUHP tentang Kejahatan Jabatan.