oleh

Hakim Pengadilan Negeri Ruteng Periksa 2 Saksi Kasus Toko Garuda Mas Reo

-KRIMINAL-1.567 views

Manggarai, SwaraNTT.Net Sidang kasus penjualan obat keras tanpa memiliki izin Edar atau menjual obat keras (obat daftar G), kembali digulirkan, Senin (27/5/2019) di Pengadilan Negeri (PN) Ruteng.

Terdakwa REINY GOZALI HENOEK (Reiny) disebut sebagai pemilik Toko Garuda Mas yang beralamat di RT 008 RW 004 Kelurahan Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

Dalam sidang ketiga (3) pemeriksaan saksi dan keterangan saksi ahli melalui Loka POM Manggarai Barat, Bernadus B. Moron, S.Si.,M.Hum,  Jaksa Penuntut Umum (JPU) Cabang Reo menghadirkan dua (2) orang saksi dan satu (1) orang Saksi Ahli, Olvi Linda Novita, S.Si.,Apt.

Dua orang saksi yang dihadirkan tersebut, Petronela Lanut, S.Si., Apt, dinas kesehatan (dinkes) kabupaten manggarai dan Bernadus Adul, dinas perdagangan kabupaten Manggarai.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Sarlota Marselina Suek, SH., kedua saksi menerangkan kronologi pada saat dilakukan operasi bersama.

Dalam kesaksiannya, Petronela Lanut, mengatakan bahwa pada tanggal 11 Desember 2018, Loka POM Manggarai Barat, Dinkes kabupaten Manggarai dan Dinas Perdagangan kabupaten Manggarai lakukan operasi bersama di Kecamatan Reo tepatnya di Toko Garuda Mas.

Lebih lanjut dihadapan Hakim, Petronela menjelaskan saudara terdakwa Reiny hanya tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) bukan seorang Apoteker.

Dalam operasi tersebut kami menemukan obat-obatan jenis Amoxicillin 500 Mg, Asam Mefenamat Erita, Mefenamic Acid/Asam Mefenamat Promed, Neuralgin, Griseofulvin 500, Dexamethason 0,75 Mef, Dexarsen 0,75, Antalgin Novaparin, Antalgin FM, Pronicy, Genoint Salep Kulit dan Melanox Cream di Lantai 1 dan lantai 2 pada toko Garuda Mas, Ungkap Petronela Dihadapan Hakim.

Baca Juga :   Seorang Pria Beristri Di Desa Pong Lale Kecamatan Ruteng Mencabuli Bocah
Dok. pada saat Operasi Gabungan Di Toko Garuda Mas, 11 Desember 2018

Saksi Bernadus Adul, dalam keterangannya dihadapan Hakim bahwa Toko Garuda Mas tersebut tidak memiliki Surat Izin Usaha untuk jual Obat tetapi hanya memiliki Surat Izin Usaha Umum.

Setelah pemeriksaan para saksi dan saksi  Ahli dari Loka POM Mabar, Hakim ketua mempersilahkan saudara terdakwa untuk dimintai keterangan.

Pertanyaan pembukaan oleh Hakim Ketua kepada terdakwa “ apakah keterangan para saksi – saksi sudah benar?, Jawab terdakwa” semuanya benar yang mulia”.

Dihadapan Hakim terdakwa Reiny menjelaskan “saya punya keahlian pijit kadang ada pasien minta resep obat kesaya” Ungkapnya.

Lebih lanjut Hakim ketua mencerca pertanyaan lanjutan kepada saudara terdakwa “ saudara terdakwa bukan orang kesehatan, bagaimana saudara bisa memberi resep kepada pasien saudara?. Terdakwa Reiny menjelaskan “setiap pembeli obat sudah tau cara minumnya karena di dos obat sudah ada tulisan” Ungkap terdakwa Reiny dihadapan hakim.

Terdakwa Reiny mengaku bahwa bukan berlatarbelakang kefarmasian Ia menjual obat hanya pengalaman saja.

Kemudian hakim Ketua, Sarlota Marselina Suek, SH. Menutup sidang  hingga bulan depan, dengan agenda pembacaan Tuntutan terdakwa, “sidang ditutup dan akan kembali dibuka pada tanggal 12 Juni 2019 dengan agenda pembacaan tuntutan terdakwa,” Ucap Hakim ketua sembari mengetukan palunya.

Untuk diketahui bahwa Perbuatan Terdakwa REINY GOZALI HENOEK, diancam pidana dalam Pasal 198 Jo. Pasal 108 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.  Dengan pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). [Gusty]

Komentar

News Feed