“Yang perlu dilihat misalnya, dia sedih ditengah keramaian, ini yang harus kita skrining dari awal. Mengenal dirinya sendiri juga mengenal lingkungan sekitarnya,” beber Kabid P2P Gabriel Amir.
Hasil dari pengamatan awal ini nantinya, jelas Kabid Gabriel Amir, akan langsung disampaikan kepihak sekolah melalui guru bimbingan konseling (BK), sehingga siswa tersebut langsung di pantau.
“Saat ini belum dikualifikasi berapa persen jumlah tingkat kecemasan dan berapa persen jumlah tingkat depresi murni,” sebutnya.
Sejauh ini kata dia, potensi itu ada, karena ada anak yang ditemukan menarik diri lingkungannya.
“Mungkin karena ada persoalan di lingkungan keluarganya atau dia tidak percaya diri. Ini yang kami harus ditelusuri lebih lanjut agar mengetahui kondisi sesungguhnya,” jalas Kabid Gabriel Amir.
Manfaat skrining kesehatan mental secara dini, sambungnya untuk mendeteksi lebih cepat atau menentukan risiko seseorang yang mengalami gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan bipolar, gangguan makan, atau gangguan stress pascatrauma (PTSD).
Melalui skrining Kesehatan Jiwa, jelasnya akan mendapatkan hasilnya, ambang atau abnormal.
“Jika hasil skriningnya ‘ambang’, maka dianjurkan untuk dilakukan pemantauan oleh guru bimbingan konseling. Tetapi Ketika hasil skrining ‘abnormal’, maka disarankan untuk konseling dan komunikasi interpersonal dengan guru BK, selanjutnya berkoordinasi dengan pihak Puskesmas untuk penanganan lebih lanjut,” tutupnya.
![]()
