Wabup Heri Ngabut berkisah, dirinya mengenal mendiang Kamelus Deno, sejak semester akhir di Fakultas Hukum, Kampus Undana Kupang. Bahkan, Heri Ngabut mengatakan, sejak tahun pertama mendiang Kamelus Deno, menjadi wakil bupati, Ia sangat dekat.
“Dr. Kamelus Deno merupakan seorang Dosen muda di Fakultas Hukum di Universitas Nusa Cendana Kupang, almarhum mengalirkan kecerdasannya kepada siapa saja dan almarhum bekas guru saya waktu kuliah,” ungkap Hery Ngabut
Ia sangat mengaguminya, karena mantan Bupati satu periode berpasangan dengan Viktor Madur, juga pernah jadi wakil bupati dua periode yang berpasangan dengan Christian Rotok, merupakan Dosen muda yang keren, cerdas dan cara berpikir yang sistematis yang pernah ia Kenal.
“Terus terang saya (Wabup Heri, red) sangat kehilangan sosok seorang kakak, pak Kamelus itu saudara saya, Dosen saya saat kuliah dulu dan pernah jadi atasan saya selama 15 tahun,” ungkapnya, langsung menghela napas dan suaranya terdengar serak menahan tangis.
Di mata Heri Ngabut, mendiang Kamelus Deno, seorang petarung, punya komitmen tinggi dan konsekuensi serta memiliki prinsip yang teguh.
Soal Pilkada 9 Desember 2020 Lalu
Disampaikan Wabup Heri Ngabut, pertautan politik 9 Desember 2020 lalu merupakan pertautan antara kata ilahi dijahit bersama alam semesta.
Ruang kompotisi pada pilkada tahun lalu adalah ruang kompetisi pemfilteran bathin rakyat.
“Kerjanya Tuhan disalurkan melalui langit,” ucapnya
Menjadi pemimpin, kata Wabup Heri Ngabut, harus menjadi seperti seniman karena beradaptasi dengan banyak perbedaan, bagaimana meramu sebuah perbedaan lalu dihantar menjadi komitmen yang terfilter.
Kehebatan pemimpin sebenarnya berangkat dari kehebatan banyak orang yang selalu setia berada bersama kita.
“Kalau ada orang-orang yang berdiskusi terlalu lama itu manusiawi, karena siapapun dia tidak mengimpikan kekalahan, tetapi seorang almarhum Kamelus Deno, Dia (Deno) sadar bahwa kalau tidak menang berarti kalah,” ungkap mantan Kaban Kesbangpolda kabupaten Manggarai itu.
Ia juga mengatakan, almarhum Kamelus Deno, sudah mencatat monumen kehidupan sebagai seorang pemimpin di Kabupaten Manggarai.
“Apakah gagal?, tidak. Dia pernah memimpin,” tegasnya.
Ketika perhelatan demokrasi itu sudah selesai, tak seorang pun menaruh rasa dendam dan benci atas nama perbedaan. [Gusty]
![]()
