“Bukan berarti fungsi perpustakaan hilang. Justru perpustakaan harus terus kita dorong agar tetap hidup dan relevan. Perpustakaan harus terus berinovasi supaya minat baca khususnya generasi muda tetap tinggi walaupun di tengah gempuran dunia digital,” ujarnya.
Ia menegaskan, meski digitalisasi penting, ada sisi lain yang tidak boleh diabaikan. “Digitalisasi memang bagus, tetapi kadang justru membuat orang semakin malas berpikir. Literasi bukan sekadar menggulir layar, melainkan rajin membaca buku, menjadikannya rujukan, dan mengasah kemampuan berpikir kritis,” tegasnya.
Menurut Gubernur, membaca buku fisik memberi pengalaman berbeda dibandingkan dengan membaca ebook. “Membaca buku secara langsung itu menyentuh otak sekaligus hati. Rasanya beda ketika memegang buku dibanding hanya membaca lewat gawai. Biar bagaimanapun buku tetap yang terbaik,” tambahnya.
Ke depan, Pemprov NTT berkomitmen membuka ruang lebih luas bagi masyarakat terkhusus anak-anak sekolah untuk kembali membiasakan diri membaca buku fisik. Ia juga mendorong agar setiap desa dan kelurahan memiliki perpustakaan yang berfungsi sebagai rumah belajar sekaligus rumah kreasi.