Kendati demikian kepada pihak rumah sakit, Marselinus pun bertanya soal penanganannya.
“Apakah prosedurnya tunggu pasien sekarat baru bisa di operasi? meski kami jujur bahwa kematian ini tuhanlah yang punya kuasa. Tetapi kita manusia hanya berusaha untuk bertahan tapi kalau prosedurnya begini, ini yang kami sesalkan kok bisa seperti ini penanganan pasien disini,” bebernya.
Senada, Alfonsius Bungkar (36) menceritakan jika pasien masuk dalam keadaan normal, namun dalam perjalanan pasien mulai merintih kesakitan. Namun kendati begitu, pihak petugas pun direspon hanyalah menyesatkan keluarga dan pasien.
“Istri saya masuknya tanggal 28 Desember, yang saya kecewa itu dari jam 12 siang, pasien sudah rasa sakit. Begitu dia teriak, beberapa bidan menyampaikan ‘jangan teriak memang begitu resikonya’ tunggu jadwal baru teriak sebantar,” ucap Alfonsius suami dari pasien itu dengan mata berkaca-kaca.
Lebih lanjut kata dia, sekitar jam 5 sore, begitu keluar dan pecah dia punya air ketuban pasien pun langsung kejang.
“Disitu mereka (petugas) baru huru-hara (panik) padahal dari jam 2 dan 3 sore itu mereka tidak gubris (sama sekali tidak ada penanganan).
Padahal tambah Alfonsius, selama ini pasien masih dalam keadaan aman-aman dan normal.
Selam ini istri saya tidak ada keluhan sakit lainnya. Kemudian selama posyandu itu norma-normal saja hingga USG ke dokter pun masih normal dan sehat-sehat. Sehingga ini yang kami kecewa pelayanan di sini, artinya tunggu pasien darurat baru mereka tangani, kami kecewa sekali pak,” tutupnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh media ini, peristiwa ini juga telah di adukan ke Polres Manggarai. Sementara bayi dari almarhum Eufrasia Mampur sedang dalam perawatan di rumah sakit.
Selain itu, media juga ini belum berhasil mendapatkan keterangan dari pihak manajemen RSUD Ruteng. Meski sudah ada upaya. [Redaksi]
![]()
