Tidak seperti kebanyakan siswa di Indonesia, umumnya siswa akan bangun jam 06.00 pagi untuk berangkat ke Sekolah dan mereka akan diantar oleh orang tuanya ke sekolah, apalagi jika jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh. Namun berbeda dengan Rendy dan teman – temannya asal dusun Cimpar, harus bangun pagi bantu orang tua. Seperti Rendy, sebelum kesekolah, Ia harus urus ternak Sapi dan kambing milik orang tuanya sebelum bersiap-siap berangkat ke Sekolah.
Terkadang siswa SMP asal dusun Cimpar itu sering saling menunggu teman-temannya saat bersekolah hingga ketika melintasi jalan tanjakan aspal yang sudah rusak dan penuh debu.
Keringat yang terus mengalir di wajah Rendy. Ia harus rela berpanas -panasan di terik siang hari demi menuntut ilmu. Dia pun segera mengelapnya dengan telapak tangan mungilnya sembari nafas yang terengah-engah seperti telah berjalan puluhan kilometer.
Bagi kaki kecil para bocah itu, paling tidak membutuhkan waktu sekitar 2 jam lebih untuk sampai ke sekolahnya di SMP Negeri 9 Cibal. Artinya, kegiatan sekolah jika dimulai dari pukul 12.10 siang berarti Rendy dan teman – temannya harus sejak pukul 80.00 pagi harus berangkat dari rumah.
Rendy berharap pemerintah bisa memperhatikan fasilitas berupa gedung sekolah, agar bisa masuk sekolah pagi.
“kami sering cape karena jalannya jauh dari rumah ke sekolah, pulang sekolah jam 05.00 sore sampai di rumah jam 07.00 malam. Kami ingin pemerintah buat gedung baru buat kami di SMP 9 Cibal,”. Harapnya.
Sungguh, Rendy beserta teman – teman lainnya menjadi bukti bahwa masih banyaknya anak – anak di pelosok negeri ini yang berjuang untuk menuntut ilmu dan berharap dari perjuangan mereka akan ada sebuah impian masa depan yang cerah, masa depan yang akan mengubah hidup mereka nantinya.
Nathan
![]()

Komentar