Pola Asuh Orang Tua Dalam Mendidik Anak di Era Digital

Keluarga mempunyai peran penting bagi pertumbuhan jiwa anak agar seorang anak tersebut dapat sukses di dunia dan di akhirat. Namun disisi lain, keluarga juga bisa menjadi killing field (ladang pembunuh) bagi perkembangan jiwa anak jika orangtua salah mengasuhnya. Kenyataan ini menunjukkan bahwa keluarga memegang tanggungjawab dan peran penting dalam perjalanan hidup seseorang di masa yang akan datang.

Keluarga juga menjadi pusat pendidikan pertama dan utama yang mempunyai tugas fundamental dalam mempersiapkan anak bagi kehidupannya di masa depan. Hal itu dikarenakan dasar-dasar perilaku, sikap hidup, dan berbagai kebiasaan ditanamkan kepada anak dimulai sejak lingkungan keluarga.

Oleh karena itu di sinilah terletak suatu tanggung jawab moril yang berat tapi mulia bagi orang tua dan lingkungan keluarga sebagai pendidik yang pertama dan utama. Hal itu juga dikarenakan anak merupakan anugerah yang sangat besar yang diberikan Allah kepada orang tua. Oleh karena itu orang tua harus memelihara anak dengan baik. seperti diibaratkan tumbuhan, apabila diberi perawatan dengan baik dengan cara rajin memupuknya, menyirami dan memelihara dengan sebaikbaiknya maka tumbuhan itu akan menjadi tumbuhan yang bagus, tetapi apabila tumbuhan itu dibiarkan saja dan tidak dipelihara dengan baik maka tumbuhan tersebut tidak akan tumbuh menjadi tumbuhan yang baik bahkan tumbuhan itu akan layu dan mati.

Begitu juga dengan anak, jika anak dididik dengan baik maka kelak dia akan menjadi seseorang yang baik tetapi sebaliknya
perhatian orang tua maka bersiaplah untuk menunggu anak tersebut menjadi orang yang buruk tingkah lakunya. Karena sesungguhnya seorang anak secara fitrah diciptakan dalam keadaan siap untuk menerima kebaikan dan keburukan. Tiada lain hanya kedua orang tuanyalah yang membuatnya cenderung pada satu diantara keduanya.

Oleh karena itu, orang tua harus mengarahkan anaknya ke
jalan yang benar agar menjadi anak yang baik dan berguna bagi agama, masyarakat, Bangsa dan Negara. Selain itu para ulama mengatakan bahwa seorang anak merupakan amanat bagi kedua orang tuanya. Kalbunya yang masih suci bagai permata yang begitu polos, bebas dari segala macam pahatan dan gambaran, mereka siap menerima setiap pahatan apa pun serta cenderung pada kebiasaan yang diberikan kepadanya. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan maka ia akan tumbuh menjadi orang yang baik. Tetapi apabila ia dibiasakan melakukan hal-hal yang jelek niscaya dia akan menjadi seorang yang celaka.

Oleh karena itu harus ada pola asuh yang baik yang diberikan orang tua untuk membimbing anak ke jalan yang benar agar anak sukses di dunia dan akhirat. Pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan anaknya, sikap ini dapat dilihat dari ber bagai segi, antara lain dari cara orang tua memberikan peraturan kepada anak, cara memberikan hadiah dan hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritas dan cara orang tua memberikan perhatian atau tanggapan terhadap keinginan anak. Dengan demikian yang disebut dengan pola asuh orang tua adalah cara orang tua mendidik anak.

Memasuki abad informasi, kita menyaksikan bagaimana media memiliki kekuatan dominan dalam memengaruhi setiap dimensi kehidupan manusia.

Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, media di era maya seakan muncul kembali ke dalam sistem komunikasi purbakala dan memosisikan penerima (komunikan) sebagai pihak aktif. “Massifikasi komunikasi seakan akan bercampur baur dengan demassifikasi.
sekaligus komunikasi massa. Kemajuan media informasi dan tekhnologi sudah dirasakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, baik dari segi positif maupun negatif dari penggunaanya. Hal ini dikarenakan pengaksesan media informasi dan tekhnologi ini tergolong sangat mudah atau terjangkau untuk berbagai kalangan, baik untuk para kaula muda maupun tua dan kalangan kaya maupun menengah ke bawah. Bahkan pada umumya, saat ini anak – anak usia 5 hingga 12 tahun yang mnjadi pengguna paling banyak dalam memanfaatkan kemajuan media informasi dan tekhnologi pada saat ini.

Lembaga pendidikan keluarga Mempuyai peranan penting dalam mendidik anak di era digital sekarang ini. Hal tersebut dikarenakan keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama dan utama. Pada masa ini pula anak mudah sekali menerima pengaruh dari lingkungan sekitarnya, terutama pada orang-orang terdekatnya. Ini merupakan masa paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun pertama dalam kehidupanma sebelum masuk sekolah. Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat berbekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah dalam ingatannya. Keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangaunn masyarakat. Pasalnya, keluarg merupakan fondasi bangunan masyarakat dan dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personel – personelnya.

Saat ini, seiring dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, anak-anak lebih banyak bermain dengan permainan berteknologi tinggi, seperti komputer, play station. Derasnya arus teknologi komputer “disadari atau tidak” telah membentuk sebuah generasi yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Kini anak-anak lebih terbiasa dengan komputer. Permainan semacam furby, game-boy, play station, sega-dreamcast atau nintendo 64 langsung menyerbu kamar anak-anak. Bahkan telepon selular dan komputer pribadi bukan lagi barang aneh bagi anak sekarang.

Sebuah game komputer mini sudah mampu memaminkan program permainan digital dengan kualitas cukup baik. Bahkan genegarasi terbaru game-boyi dilengkapi monitor berwarna, untuk memainkan program digital yang dikemas dalam disket kecil tahan banting. Bagi generasi orang tua, permainan semacam furby atau game boy, mungkin merupakan sesuatu yang absurd. Tidak demikian bagi anak-anaknya. Mereka seolah tidak bisa lepas dari sihir baru bernama teknologi komputer tersebut. Saat ini, agaknya anak-anak lebih berpikir logis dan digital ketimbang orang tuanya. Begitu kira-kira istilah yang dilontarkan para pakar komputer.

Di dunia maya, anak-anak atau kita sendiri sengaja maupun tidak, bisa menemukaan materi-materi informasi yang tidak layak. Aspek pornografi merupakan satu sisi gelap dari beragam kelebihan yang ditawarkan oleh internet. Banyak orang tua resah dengan penetrasi informasi seksual yang vulgar dari sejumlah situs web. Bahkan internet, bagi sebagain orang, telah dicap buruk dan menyesatan. Tidak sedikit keluarga mengkhawatirkan adanya fasilitas internet di rumah bisa menjadi referensi menarik tentang pornografi bagi anak-anak yang masih belia.

Upaya-upaya untuk mengantisipasi serbuan situs pornografi telah banyak dilakukan. Berbagai internet software ini sedikit banyak bisa mengurangi efek penetrasi pornografi yang ditimbulkan oleh internet. Sebut saja Solid Oak Softwarei, dengan produk andalannya Cybersitter. Software ini bekerja melalui tiga tahap; mengunci akses ke URL (Uniform Resource Locator) tertentu (Web, FTP Sites, dan Unsenet News Gruop)` yang kedua adalag dengan meyensor key words tertentu, dan yang terakhir berfungsi sebagai penyensor file-file tertentu.

Disamping cybersitter, software lainnya yang cukup populer adalah Net Nanny dan Surf Watch. Kedua software ini, disamping memiliki keunggulan seperti yang dimiliki oleh cybersitter, juga memiliki kemampuan untuk menyensor IRC chat rooms, Gopher, dan E-mail.

Sekalipun banyak kelemahan yang tedapat pada berbagai software tersebut, akan tetapi paling tidak orang tua bisa sedikit
internet. Memang, sangat tidak mungkin untuk menyensor jaringan internet sebab dia adlah sebuah jaringan global tanpa batas wilayah geografis.

Sebenarnya, kecanggihan teknologi komputer berbasis internet ini juga banyak mendatangkan manfaat bagi keluarga. Apalagi jika diperkenalkan sejak usia dini. Oleh karena itu, peran orang tua masih sangat penting untuk mendampingi anaknya ketika menggunakan internet. Orang tua harus mempertimbangkan untuk memperhatikan batasan-batasan situs yang boleh dikunjungi.

Untuk mempermudah hal tersebut, maka orang tua bisa menyarankan kepada anaknya untuk menjadikan sebuah ditektori atau search engine (mesin pencari) khusus anak-anak, sebagai situs yang wajib dibuka saat pertama kali terhubung dengan internet.

Selain itu, tempatkan komputer di ruang yang mudah diawasi. Dengan begitu, sang anak bebas melakukan eksplorasi di internet, tetapi, dia tidak sendirian. Pertingan pula untuk menggunakan software filter, memasang search engine khusus anak-anak sebagai situs yang boleh dikunjungi ataupun menggunakan browser yang dirancang khusus bagi anak-anak.

Orang tua juga perlu membatasi waktu penggunaan internet. Pastikan bahwa waktu yang digunakan untuk menggunakan internet tidak menyerap waktu yang seharusnya digunakan untuk aktivitas lainnya. Berikanlah pra-syarat tertentu untuk menggunakan internet. Misalnya, anak-anak baru boleh menggunakan internet jika telah menengerjakan pekerjaan rumah atau tugas sekolah. Tidak ada salahnya pula menetapkan jam berapa anak- anak boleh menggunakan internet dan memberikan batasan jumlah waktu. Kalau perlu, gunakan software yang dapat membatasi waktu online mereka.

Orang tua juga perlu memperkenalkan kepada anak-anak, situs education-entertaiment (edutainment) atau search engine khusus anak-anak. Yang penting untuk diingat, jika kita memiliki situs pribadi atau keluarga, jangan memasang foto diri maupun foto anggota keluarga yang lain, khususnya anak-anak. Jangan sertakan pula informasi tentang alamat rumah, alamat sekolah, nomor telepon atau data pribadi lainnya. Ini dimaksudkan untuk melindungi privasi si anak maupun keluarga pada umumnya.

Seiring perkembangan zaman, pemikiran orang tua pada saat ini pun sudah mengalami perbedaan yang tergolong jauh dengan pemikiran orang tua pada zaman terdahulu. Kemudian akses dalam mendapatkan gadget seperti tablet yang ada di era globalisasi saat ini, membuat para orang tua modern tidak perlu lagi membelikan beraneka ragam mainan untuk anaknya. Cukup membelikan satu buah tablet, dimana pada saat ini harganya semakin tergolong terjangkau oleh masyarakat luas.

Segala macam permainan sudah bisa didapatkan secara mudah jika dibandingkan masa lalu yang penuh dengan permainan tradisional. Keadaan seperti ini membuat anak semakin dimanjakan dengan segala kecanggihan gadget tersebut, dimana sekali klik dapat mengakses beraneka ragam permainan dan informasi yang teraktual pada saat ini.

Dengan demikian, sosialisasi anak tersebut dapat dikatakan kurang atau tidak optimal dengan teman – teman sebayanya dan juga kurang melakukan aktivitas fisik yang baik untuk perkembangan mental maupun jasmani anak tersebut. Ketika diperumpamakan seperti dua sisi uang logam, gadget ini memiliki dampak positif dan juga dampak negatif untuk perkembangan anak. Dampak positif dari penggunaan media informasi dan tekhnologi ini adalah antara lain untuk memudahkan seorang anak dalam mengasah kreativitas dan kecerdasan anak.

Adanya beragam aplikasi digital seperti mewarnai, belajar membaca, dan menulis huruf tentunya memberikan dampak positif bagai perkembangan otak anak. Mereka tidak memerlukan waktu dan tenaga yang lebih untuk belajar membaca dan menulis di buku atau kertas, cukup menggunakan tablet sebagai sarana belajar yang tergolong lebih menyenangkan.

Dari berbagai pandangan tersebut orang tua dapat melaksanakan perannya mendidik anak di era digital dengan cara menerapkan pola asuh yang tidak otoriter karena anak tidak senang dipaksa melainkan dibujuk dan cenderung dibiarkan namun juga harus tetap diawasi oleh orang tua. Selain itu orang tua juga harus mampu memahami ragam aplikasi yang mendidik anak dan memandu anak untuk memainkannya dengan baik serta mengawasi penggunaan media informasi tersebut agar tidak menyimpan dari nilai-nilai pendidikan islam.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Pola asuh dapat didefenisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan dengan orang tua yang meliputi meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis ( seperti rasa aman, kasih sayang dan lain-lain), serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. Secara umum pola asuh anak terbagi dalam tiga kategori, yaitu: Pola asuh otoriter, Pola asuh demokrsi, dan Pola asuh permisif.
2. Mendidik anak di era digital dengan cara menerapkan pola asuh yang tidak otoriter karena anak tidak senang dipaksa melainkan dibujuk dan cenderung dibiarkan namun juga harus tetap diawasi oleh orang tua. Selain itu orang tua juga harus mampu memahami ragam aplikasi yang mendidik anak dan memandu anak untuk memainkannya dengan baik serta mengawasi penggunaan media informasi tersebut agar tidak menyimpan dari nilai-nilai.
Semoga menjadi hikmat bagi kita semua.

Komentar