Ia menambahkan, bahwa Guru juga dihadapkan pada tantangan sosial, budaya, moral, politik, tuntutan masyarakat yang kian tinggi, dan apresiasi yang rendah.
“Ada sebagian guru yang mengalami tekanan material, sosial, mental, dan berhadapan dengan aparatur penegak hukum. Kondisi demikian harus diakhiri. Guru harus tampil lebih percaya diri dan berwibawa di hadapan para murid,” tegasnya.
Untuk melindungi para guru, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah telah menandatangani nota kesepahaman dengan Kepala Kepolisian Republik Indonesia.
“Isi kesepahaman antara lain penyelesaian damai (restorative justice) bagi guru yang bermasalah dengan murid, orang tua, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam hal-hal yang berkaitan dengan tugas mendidik,” ucapnya.
Di luar sambutan resmi, Bupati Hery Nabit menyampaikan pesan khusus yang menjadi sorotan penting, yakni ajakan kepada seluruh guru untuk semakin memperhatikan dan menjaga anak-anak perempuan di sekolah.
Ia menegaskan bahwa guru memiliki peran strategis dalam melindungi para siswi dari berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi, dan kerentanan sosial.
“Saya minta dengan sangat, jaga anak-anak perempuan kita. Pastikan mereka aman di lingkungan sekolah. Lindungi mereka dari segala bentuk kekerasan—baik fisik, verbal, maupun digital. Anak-anak perempuan adalah masa depan Manggarai, dan guru memegang peran penting untuk memastikan mereka tumbuh percaya diri, cerdas, dan berani,” tegas Bupati Hery dalam sambutannya.
Menurut Bupati, sekolah harus menjadi ruang yang aman dan ramah bagi semua anak, terutama bagi siswa perempuan yang lebih rentan menghadapi tekanan sosial maupun risiko kekerasan.
Ia juga mengajak guru untuk menjadi teladan, tempat curhat, sekaligus pengawal masa depan siswi-siswi di Manggarai.
Ketua PGRI Kabupaten Manggarai dalam laporannya menyampaikan bahwa peringatan HGN tahun ini menjadi momentum refleksi dan penguatan profesionalisme guru, terutama dalam menyikapi tantangan pendidikan modern dan tanggung jawab moral terhadap peserta didik.
Rangkaian kegiatan peringatan meliputi jalan sehat, aksi sosial, pentas seni guru–siswa, serta pemberian penghargaan kepada guru yang berdedikasi dan berprestasi. Seluruh kegiatan berlangsung meriah, tertib, dan penuh kekeluargaan.
Peringatan HGN dan HUT PGRI ke-80 tahun ini meninggalkan pesan kuat bahwa guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pelindung, pendamping, dan pembentuk karakter masa depan Manggarai.
Dengan semangat “Guru Hebat, Indonesia Kuat,” seluruh pendidik diharapkan terus berkomitmen menciptakan sekolah yang aman, inklusif, dan penuh kasih untuk semua anak, terutama anak-anak perempuan.***
