Sosialisasi Drilling PLTP Mataloko, PLN Paparkan Mekanisme Pemanfaatan Air Sungai Tiwu Bala dalam Proyek Geothermal

“Sehingga dampak dari sosialisasi ini masyarakat tercerahkan. Tidak ada kekhawatiran akan informasi yang simpang siur, dan pada akhirnya menjaga harmoni antara hubungan masyarakat yang satu dengan yang lain sehingga masyarakat tetap dapat bekerja seperti sehari-hari,” terang Tony.

Penjelasan terkait pemanfaatan Sungai Tiwu Bala dalam tahapan drilling PLTP Mataloko dipaparkan oleh Guruh Nurcahyono dari National Environmental, Social, Health and Safety Expert.

Guruh menjelaskan, sesuai dengan hasil analisis yang telah dilakukan selama beberapa bulan terakhir, dapat disimpulkan bahwa debit air Tiwu Bala sangat besar dan konsisten. Debit rata-rata mencapai 0.77m3/s, sedangkan kebutuhan untuk drilling 0.04 m3/s atau dengan kata lain, proses driling hanya membutuhkan sebagian kecil dari rata-rata debit air Sungai Tiwu Bala.

Selain itu, pemanfaatan air Sungai Tiwu Bala juga tidak berlangsung lama dan hanya dibutuhkan pada saat pengeboran dengan target kurang lebih dua tahun. Setelah proses drilling selesai, instalasi perpipaan tidak digunakan lagi.

“Ada dua pipa yang menuju ke sungai, satu pipa untuk aliran sungai air, dan satu untuk cadangan jika ada kemacetan atau kerusakan pada pipa utama,” kata Guruh.

Lebih lanjut, perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara Timur, Yohanes Harapan, menjelaskan ketersedian air rata- rata pada Sungai Tiwu Bala debit aliran (Q90) sebesar 0,247 m3/detik dikurangi kebutuhan air rata-rata, total debit: 0,148 m3/detik, sehingga sisa debit aliran pada Sungai yang mengalir bebas sebesar 0.099 m3/detik.

“Sehingga air yang tersedia masih cukup untuk memenuhi kebutuhan pemohon, melayani air irigasi, dan pemeliharaan sungai,” kata Yohanes.

Para peserta yang hadir aktif bertanya dan meminta penjelasan lebih jauh terkait pemanfaatan air Sungai Tiwu Bala. Tak sedikit peserta yang mempertanyakan perihal kekhawatiran bahwa masyarakat akan mengalami kesulitan air, serta simpang siur terkait pembungan limbah.