Bijak Menerima Testimoni
Pada jaman sekarang, peradilan yang mengandalkan penggunaan testimoni masyarakat dalam pengambilan keputusan di sidang pengadilan sering terjadi.
Euforia seperti itu melebar pula dalam pengambilan keputusan di birokrasi pemerintah. Tidak sedikit pula, demam penggunaan testimoni sesat ini menghinggapi institusi keagamaan.
Hakim di pengadilan, pejabat birokrasi pemerintahan maupun para tokoh dan pemimpin institusi keagamaan perlu bersikap bijak dalam menggunakan testimoni masyarakat sebagai dasar pengambilan keputusan.
Pedoman berikut hanya sekedar contoh bagi pengambil keputusan agar tidak terjerembab dalam salah mengambil keputusan akibat testimoni sesat:
Pertama, kumpulkan informasi yang akurat. Mengumpulkan informasi yang akurat dan komprehensif tentang kebijakan publik dan dampaknya terhadap masyarakat.
Kedua, testimoni masyarakat tidak boleh diterima begitu saja, tetapi harus dianalisis terlebih dahulu. Testimoni masyarakat harus dianalisis secara kritis dan objektif, serta mempertimbangkan berbagai perspektif dan pendapat yang berbeda.
Ketiga, informasi lain yang berbeda dengan testimoni masyarakat itu harus diintegrasikan. Mengintegrasikan testimoni masyarakat dengan informasi lain yang relevan, seperti data statistik dan analisis kebijakan, untuk membuat keputusan yang lebih informasional.
Implikasi Praktis
Testimoni masyarakat dapat menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan untuk menolak suatu kebijakan publik.
Namun, perlu diingat bahwa testimoni masyarakat tidak selalu dapat dijadikan sebagai dasar tunggal untuk mengambil keputusan.
Perlu sikap rendah hati melakukan analisis yang kritis dan objektif atas semua testimoni yang diterima. Hanya itu yang bisa memastikan bahwa keputusan yang diambil adalah yang terbaik untuk masyarakat.
Penulis adalah seorang praktisi hukum, tinggal di Jakarta
![]()
