Wanita Penanti Doa

Hiduplah terus, berdoalah seperti engkau bernapas
Bila disebut doa nampak begitu berlebihan
Katakan saja bila kau sedang berbincang dengan Dia yang kau panggil Tuhan

*****
Tendangan kaki kecilnya membuat tanganku selekasnya menyentuh perutku yang sudah semakin membesar. Disetiap ada kesempatan aku mengajaknya berbicara. Tak butuh jawabannya apa. Dia seorang lelaki kecilku. Lelaki yang pasti akan menjagaku nanti, yang kini sedang berbagi apapun dengannya.
Senja dengan hujan masih sesekali terjadi, hawa dingin kota sudah melegenda, aku merenda syal kecilnya, sembari membayangkan dirinya tumbuh dewasa dan aku menjadi ibu yang bahagia. Tak lupa kuselipkan doa dalam setiap untaian benang agar Tuhan selalu mencintainya seperti mencintaiku.
Hari – hari terasa sangat panjang meski sudah sering kali berganti – ganti. Bukan karena menunggu itu membosankan tetapi karena menunggu itu mendebarkan. April masih jauh. Masih sebulan lagi.
******
Ruang obgyn terasa panas, bukan karena kamarnya sempit. Kamarnya cukup untuk kami bertiga dengan tempat tidur masing – masing. Barangkali ini hanya karena kegugupan dan ketakutanku saja. Sebab ini adalah kali pertama aku opname di rumah sakit . Ketika kecil aku bercita – cita menjadi seorang perawat, hanya saja ketika melihat darah aku selalu jatuh terduduk. Sebuah cita – cita yang akhirnya kuakui bila sekedar kekagumanku saja.
Malam merangkak, aku masih menunggu untuk dipindahkan ke ruangan . Ruangan yang akan kami tempati selama tiga malam itu. Ruangannya cukup jauh dengan sedikit tanjakan yang lumayan susah ketika aku harus didorong dengan kursi roda.
Kira- kira pukul 10.00 malam, kami sampai di ruangan No 1 VIP B. Malam itu kami berempat, aku, dua lelakiku, dan adik bungsuku tidur hanya untuk menunggu pagi.

*******
Tubuhku telah siap untuk sakit, disayat serupa apapun tak mematikan segala debar semarak dan gempita di hatiku. Bagaimana tidak, delapan tahun menunggu. Bukan waktu yang sedikit. Aku berbaring di tempat tidur, didorong ke ruangan operasi yang ada di lantai dua bangunan yang berjarak berapa meter saja, dari ruangan tempat kami menghabiskan malam yang berharap pagi segara datang, menamatkan segala kerinduan dengan temu akan dia yang selama ini ditunggu semua keluarga besar kami.

Aku meninggalkan mereka menunggu di luar sana. Dalam hati kupanggil ayahku yang lama telah berpulang kepada Tuhan agar dia datang menyertai seluruh perjuanganku, adikku pernah sekali melakukan itu.
Kupejamkan mataku, menggigit bibirku, menggenggam tanganku sendiri manakala jarum menusuk ke tulang belakangku. Sakit. Hanya apalah artinya itu? Banyak yang menunggunya di luar sana. Bukan hanya aku. Lepas berapa menit aku adalah yang mendengar namun tak merasakan apapun. Namun aku tahu ini sakit. Entah sekarang atau setelahnya. Namun apalah itu ? Semua bukan apa – apa. Bukankah begitulah sejatinya seorang ibu? Dia datang bukan untuk hidupnya sendiri. Aku membayangkan ibuku. Ternyata seperti ini dirinya untuk adaku dulu.

Lengkingan suaranya mengejutkanku. Dia ada. Dia datang. Tuhan hadiahkan dia untuk kami. Aku membayangkan lelakiku yang menunggu di luar sana. Senyumnya serta tetes airmatanya. Aku melihat semua dalam pikiranku. Dan aku tahu itu yang terjadi.

Anakku, terima kasih sudah datang untuk kita.

Kututup cerita ini , sebab sesungguhnya kebahagian kami sudah dimulai. Tentang aku dan kedua lelakiku dan di atas segalanya adalah tentang doa yang tak pernah tertinggal di meja Tuhan

Ibuku
Bila netramu terus membasah
Lepaskan tanganmu digenggamanku
Bagilah segenap lara deritamu
Aku kini lebih mengerti, serupa dirimu
Akulah ibu yang dulu kau ajari menunggu
Bila percaya, bukanlah sia- sia.

Komentar