Hambatan tersebut jelas Dia yaitu Hambatan dalam menjalankan usaha, hal ini karena kurangnya akses terhadap permodalan atau tambahan modal. Hambatan ini kata Dia mencapai 52 persen. Hambatan lain jelas Indana tidak memiliki keterampilan 14 persen, kesulitan mengakses pasar 14 persen, kesulitan mendapatkan bahan baku 10 persen serta faktor lain-lain 10 persen.
Lebih lanjut Dia menjelaskan hambatan lain yaitu hambatan dalam pelatihan keterampilan dan hambatan dalam mencari pekerjaan. Ini dikarenakan beberapa faktor yaitu tidak mendapatkan informasi 73 persen, tidak mengikuti karena kurang percaya diri 20 persen serta faktor lain 7 persen.
“ini terjadi karena mereka tidak memiliki yang disyaratkan, misalnya sehat jasmani dan rohani, ini persentasenya besar 32 persen, lalu ada juga yang tidak mendapat restu dari orang tua, ini memang hanya 4,5 persen, dari 30 respoden yang kami wawancara, 11 orang wanita dan 19 orang laki-laki” katanya.
Tetapi Kabupaten Mangarai saat ini kata Dia, sudah memiliki instrumen kebijakan yang mendukung akses layanan dasar, termasuk akses pekerjaan pada penyandang disabilitas melalui perda nomor 6 tahun 2015, tentang kesetaraan dan pemberdayaan penyandang disabilitas.
Ketua Yayasan Ayo Indonesia Tarsi Hurmali menjelaskan program Kelompok Usaha Bisnis dan Inklusif (Kubik) merupakan sebuah upaya berjalan bersama bahkan belajar bersama dengan penyandang disabilitas, kelompok yang sering terpinggirkan.
“kaum disabilitas ini sering terpinggirkan, jadi program Kubik ini sebagai upaya Yayasan Ayo Indonesia berjalan bersama mereka, mendampingi mereka”,kata Tarsi.
Lebih lanjut Tarsi menjelaskan selain untuk peningkatan ekonomi dan sosial program kubik ini juga seyogyanya, memberi peluang kerja bagi penyandang disabilitas. Dengan demikian kata Tarsi sebagian persoalan sudah teratasi.
“Dukungan modal hanya sebagian dari pendampingan, penguatan kapasitas, berjalan dan belajar bersama sebetulnya lebih mendasar dalam pendampingan” imbuhnya.
Sementara itu Bupati Manggarai Herybertus Nabit mengapresiasi kepedulian Yayasan Ayo Indoensia, atas perhatiannya kepada kaum penyandang disabilitas, dengan mencanangkan program Kubik.
“Terima kasih banyak kepada Yayasan Ayo Indonesia yang sudah memberi perhatian khusus kepada kaum disabilitas di Kabupaten Manggarai” ungkap Bupati Hery.
Keterlibatan kelompok marjinal dalam pembangunan kata Bupati Hery masih menjadi sebuah permasalahan mendasar hingga sekarang. Adanya stigma, marjinalisasi, diskriminasi, dan eksklusi terhadap penyandang disabilitas yang terjadi di masyarakat menjadi hal yang perlu diperhatikan secara bersama.
Hal inilah kata Bupati Hery yang melatarbelakangi kurangnya partisipasi kelompok marjinal di berbagai bidang seperti sosial budaya dan ekonomi. Program Kubik Yayasan Ayo Indonesia kata Bupati Hery hadir sebagai pemicu, keterlibatan kelompok marjinal dalam proses pembangunan Daerah khususnya di Manggarai.
“Program Kubik Yayasan Ayo Indoensia ini sebagai pemicu terlibatnya teman-teman disabilitas dalam proses pembangunan daerah, lebih khusus pembangunan di Manggarai, jadi saya minta gunakan modal yang sudah diberikan untuk hal-hal yang berguna, yang sudah ada usaha dilanjutkan, yang baru mulai berkomitmenlah agar lebih baik dikemudian hari” kata Bupati Hery.
![]()
