Donatus Lajar juga meminta warga untuk melibatkan para penyuluh pertanian yang ada di wilayah masing-masing untuk membantu mengatasi berbagai kesulitan selama budidaya kacang tanah dan tanaman biofarmaka berlangsung.
“Tolong buatkan plan bisnis dalam budidaya kali ini agar tidak selesai untuk konsumsi pribadi saja, tetapi harus bisa menghasilkan keuntungan ekonomis. Jangan berhenti sampai di tanam dan panen, tetapi penting merencanakan penjualan secara baik,” ucap Lajar.
Sementara itu, Koordinator Program Yayasan PAPHA Indonesia, Paul Dolu, optimis melalui program ini kemandirian pertanian Lembata dapat terwujud sehingga mampu menumbuhkan kesejahteraan bagi kelompok tani maupun masyarakat terdampak secara umum.
![]()
“Karena itu, kami memandang penting melakukan penguatan ekonomi petani terdampak proyek geothermal Atadei melalui budidaya kacang tanah dan tanaman biofarmaka. Kami bermimpi suatu ketika kacang tanah dan tanaman biofarmaka menjadi ikon karena pengembangan dari hulu hingga ke hilir,” ujar Paul Dolu.
Paul menjelaskan, kolaborasi Yayasan PAPHA Indonesia dan PLN merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat terdampak PLTP Atadei. Ia berharap program budidaya ini dapat menjadi sumber pendapatan bagi warga Nubahaeraka sehingga dapat meningkatkan produktivitas petani dan ekonomi keluarga.
Di lain kesempatan, Senior Manager (SRM) Perizinan, Pertanahan dan Komunikasi PT PLN (Persero) UIP Nusra, David Eko Prasetyo, mengungkapkan bahwa program TJSL PLN akan terus berkelanjutan dari masa prakonstruksi hingga operasi PLTP Atadei 10 MW.
“Kami mohon untuk bisa diterima di sini, sehingga program-program yang sudah kami canangkan dapat terus berlanjut. Kami juga berterima kasih kepada para pemilik tanah yang telah bersedia tanahnya diberdayakan oleh PLN untuk pembangunan PLTP Atadei sehingga listrik di Lembata ke depannya bisa semakin andal dan mandiri,” katanya
![]()
![]()
![]()
![]()
