Hery Nabit Tegaskan Manggarai sebagai Laboratorium Mini Kebebasan Beragama dalam Dialog FKUB

Hingga kini, sekitar 95 persen penduduk Manggarai memeluk agama Katolik, sementara umat Islam, Protestan, Hindu, dan Buddha juga hadir dan hidup berdampingan dalam suasana saling menghormati.

“Melihat fakta ini, saya katakan dengan penuh keyakinan: Manggarai adalah Laboratorium Mini bagi Kebebasan Beragama,” tegasnya.

Menurut Hery Nabit, status tersebut diperkuat oleh beberapa fondasi utama. Pertama, komitmen terhadap moderasi beragama yang sejalan dengan kebijakan nasional, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2023, yang menegaskan moderasi sebagai modal dasar menjaga keutuhan bangsa.

Kedua, kuatnya tradisi inkulturasi di Manggarai, di mana agama tidak bertentangan dengan adat istiadat.

Agama menjadi roh spiritual, sementara adat menjadi bingkai sosial yang menyatukan masyarakat dalam berbagai siklus kehidupan.

Ketiga, harmoni nyata dalam kehidupan sosial. Praktik toleransi, kata dia, dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti remaja masjid yang ikut menjaga keamanan perayaan Misa Paskah, serta pemuda Katolik yang turut membantu pengamanan saat Idulfitri.

Kolaborasi lintas iman tersebut juga tampak dalam berbagai festival budaya, seperti Festival Golo Curu, di mana seluruh perbedaan melebur dalam kegembiraan bersama.

Nilai keberagaman itu pun tercermin dalam kehidupan birokrasi sebagai kekuatan pembangunan daerah.

Dalam visi pembangunan Kabupaten Manggarai 2025–2029, Hery Nabit menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk membangun masyarakat yang bersih, sejahtera, berkelanjutan, dan berdaya saing.

Namun demikian, kerukunan sosial harus berjalan seiring dengan kerukunan terhadap alam.

Mengutip semangat ensiklik Laudato Si’, Ia mengingatkan pentingnya merawat bumi sebagai rumah kita bersama. Menurutnya, iman memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Imanlah yang menjaga alam. Merawat lingkungan adalah bagian dari ibadah,” ujarnya.

Mengakhiri sambutannya, Bupati Hery Nabit berharap dialog lintas agama yang digelar FKUB Manggarai dapat menghasilkan gagasan-gagasan segar yang semakin memperkokoh posisi Manggarai sebagai miniatur kerukunan Indonesia.

“Mari kita jaga laboratorium perdamaian ini agar terus menjadi teladan bagi daerah lain di Indonesia, terutama dalam menjaga kedaulatan manusia dan alam Manggarai,” pungkasnya.***

Posting Terkait

Jangan Lewatkan