Selain pembangunan infrastruktur, berbagai inisiatif masyarakat juga berkembang, seperti pembangunan gazebo di Kampung Adat Wogo, pengembangan usaha ternak dan pertanian, serta peningkatan sarana pendidikan dan sanitasi lingkungan. Ini menunjukkan bagaimana keberadaan PLTP dapat mendorong perkembangan sosial-ekonomi masyarakat sekitar.
“Bagi kami, PLTP bukan hanya soal listrik, tapi juga soal bagaimana desa kami berkembang. Dulu jalan ini rusak, akses susah, tapi sejak proyek ini berjalan, desa kami jadi lebih hidup,” ungkap warga setempat.
PLTP Ulumbu: Energi yang Membawa Cahaya ke Pegunungan Poco Leok

Sejak mulai beroperasi pada 2011 dengan kapasitas 4 x 2,5 MW, PLTP Ulumbu di Manggarai telah menjadi sumber energi utama bagi masyarakat sekitar. Hendrik K., warga Desa Lungar, menceritakan bagaimana sebelum adanya listrik stabil, anak-anak mereka terpaksa belajar menggunakan lampu minyak.
“Sekarang listrik stabil, anak-anak bisa belajar lebih nyaman tanpa asap lilin atau generator yang berisik,” ujarnya. Bahkan, pada 20 September 2024, listrik akhirnya mengalir ke Pegunungan Poco Leok untuk pertama kalinya, yang disambut dengan upacara adat congko longkap sebagai perayaan sejarah baru bagi masyarakat setempat.
Selain penerangan, masyarakat Poco Leok juga mulai melihat dampak positif dalam kehidupan sehari-hari. “Sekarang kami bisa menyimpan hasil panen lebih lama dengan alat pendingin, dan usaha kecil-kecilan di desa lebih mudah berkembang,” ujar salah satu warga.
Cerita dari Ahli: Pemanfaatan Panas Bumi di Dunia dan Indonesia
Menurut M. Ali Ashat, peneliti geothermal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Indonesia memiliki potensi energi panas bumi yang luar biasa, mencapai 29.038 MW atau 40% dari cadangan dunia. Ia menyoroti bahwa Indonesia bisa meniru keberhasilan Islandia dalam memanfaatkan energi panas bumi untuk berbagai sektor.
“Islandia sudah berhasil mengembangkan pemanfaatan panas bumi, baik untuk pembangkit listrik maupun industri pariwisata seperti Blue Lagoon. Hal serupa juga terjadi di Wairakei (New Zealand) dan Vogelaer (Belanda), di mana energi geothermal digunakan untuk pertanian dan perkebunan,” jelasnya.
Di sisi lain, masyarakat di Nusa Tenggara Timur masih banyak yang bergantung pada PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel), yang mahal dan kurang ramah lingkungan. Transisi menuju geothermal bukan hanya lebih efisien, tetapi juga lebih berkelanjutan bagi masa depan energi Indonesia.
Dari segi keamanan, teknologi PLTP telah berkembang dengan penerapan sistem pemantauan ketat untuk menghindari risiko lingkungan. Pengelolaan sumur panas bumi dilakukan dengan standar keamanan tinggi, termasuk sistem injeksi ulang fluida untuk menjaga keseimbangan tekanan bawah tanah dan mencegah subsiden atau dampak geologis lainnya. Selain itu, kontrol emisi gas dan pengolahan limbah geothermal diterapkan untuk memastikan tidak ada dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat.
Selain memberikan stabilitas listrik, PLTP juga terbukti aman digunakan di daerah pemukiman. Studi dari berbagai negara seperti Islandia, New Zealand, dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa panas bumi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem setempat. Di Indonesia, regulasi ketat juga diberlakukan untuk memastikan proyek-proyek PLTP berjalan dengan prinsip keberlanjutan dan keamanan bagi masyarakat sekitar.
Kebutuhan Listrik di NTT dan Potensi Panas Bumi: Solusi yang Dibutuhkan
Dari Lahendong hingga Ulumbu dan Mataloko, masyarakat membuktikan bahwa PLTP bukan hanya tentang listrik, tetapi juga membuka berbagai peluang ekonomi dan sosial. Dengan komunikasi yang baik dan pemanfaatan yang optimal, masyarakat dapat terus berkembang bersama energi geothermal.
Seperti yang dikatakan warga Lahendong, “Ketakutan itu wajar untuk sesuatu yang baru, tetapi jika kita terbuka dan melihat manfaatnya, kita bisa hidup berdampingan dan maju bersama.”
Dengan semakin banyaknya masyarakat yang mendukung pemanfaatan energi geothermal, Indonesia semakin dekat dengan masa depan energi bersih dan berkelanjutan yang lebih inklusif untuk semua.
![]()
