CIKEAS, SwaraNTT- Kepala Kantor Pertanahan (Kakantah) Kabupaten Manggarai, Eduward Meteo Yamasita Tuka, membagikan kunci keberhasilan pendaftaran tanah ulayat dalam kegiatan Capacity Building Aparatur Sipil Negara (ASN) yang digelar Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian ATR/BPN di Cikeas, Selasa (31/03/2026).
Dalam pemaparannya bertajuk “Dinamika Pendaftaran Tanah Ulayat: Dari Ngada hingga Manggarai”, Eduward menekankan bahwa keberhasilan program Pendaftaran Tanah Ulayat (PPTU) tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga pada pendekatan sosial dan kultural yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat adat.
“Pendaftaran tanah ulayat bukan sekadar menarik garis koordinat di peta. Ini adalah kerja hati. Kita harus hadir di tengah masyarakat, masuk ke rumah adat, mendengar sejarah lisan, dan memastikan bahwa negara hadir untuk melindungi, bukan mengambil hak mereka,” tegasnya di hadapan para peserta.
Sebagai mantan Kakantah Ngada, Eduward membagikan pengalaman sukses pendaftaran tanah ulayat Beo Were dan Suku Karo yang berhasil masuk dalam Daftar Tanah Ulayat (DTU).
![]()
Keberhasilan tersebut, menurutnya, lahir dari kolaborasi erat antara Kantor Pertanahan, Pemerintah Daerah, serta dukungan mitra internasional.
Model pendekatan partisipatif yang diterapkan di Ngada kini mulai direplikasi di Kabupaten Manggarai, dengan penyesuaian terhadap struktur sosial dan kompleksitas adat setempat.
“Setiap wilayah punya karakteristik sendiri. Di Manggarai, struktur adat seperti Gendang Todo memiliki cakupan yang luas dan kompleks. Karena itu, pendekatan yang digunakan harus lebih mendalam, inklusif, dan penuh kehati-hatian,” jelasnya.
Eduward juga mengakui bahwa pelaksanaan pendaftaran tanah ulayat di Nusa Tenggara Timur tidak lepas dari berbagai tantangan.
![]()
![]()
![]()
![]()
