Kembangkan Destinasi Wisata Baru, BOPLBF dan MPIG Bangun Kerja Sama

Joseph juga menjelaskan, MPIG akan terus melaksanakan pelatihan-pelatihan bagi para petani kopi yang tergabung dalam MPIG agar dapat makin meningkatkan kemampuan para petani kopi memproduksi kopi sesuai standar yang telah ditetapkan.

“Kami punya master trainer yang melatih para petani secara periodik, dengan begitu para petani makin terbiasa bekerja sesuai standar kualitas yang ditetapkan, mulai dari sejak pasca panen sampai dengan saat mendapatkan green beannya,” jelas Joseph.

Lebih lanjut Joseph menjelaskan, sejauh ini sudah ada 42 kelompok petani yang tergabung dalam MPIG dan sampai saat ini MPIG masih terus berupaya untuk menghimpun lebih banyak lagi petani kopi agar dapat bergabung bersama MPIG.

“Karena semakin banyak mereka bergabung, makin besar kemampuan kami untuk memproduksi kopi specialty yang bercita rasa tinggi untuk kopi Manggarai dengan value added (nilai tambah), bukan cuma dari biji kopi tapi juga wisatanya,” ungkap Joseph.

Sementara itu, Sekertaris MPIG Boni Romas menjelaskan, kelompok petani kopi yang tergabung dalam MPIG tersebar di 3 Kabupaten Manggarai, antara lain 50% di Kab. Manggarai Timur, 30% di Kab. Manggarai, dan 20% di kab. Manggarai Barat dengan karakter masing-masing sesuai dengan kontur wilayah setempat dimana kopi tersebut tumbuh.

Pengembangan destinasi wisata baru kopi tersebut akan berada di 4 lokasi di 3 Kabupaten Manggarai, dan akan menjadi lokomotif bagi salah satu wisata minat khusus ini.

Ke 4 lokasi tersebut, antara lain berada di Wae Garit – Manggarai yang menjadi pusat robusta, Mano – Manggarai Timur yang akan menjadi pusat arabika, Colol – Manggarai Timur yang merupakan aset besar budaya kopi Manggarai sekaligus menjadi pusat festival budaya kopi, dan Labuan Bajo yang akan menjadi etalase pusat informasi dan promosi seluruh jenis biji kopi Flores (bukan berupa kebun).

Dari ke 4 lokasi tersebut, 2 lokasi merupakan lahan milik Keuskupan Ruteng yang disiapkan untuk mendukung pengembangan destinasi wisata baru dan sekaligus merupakan bentuk dukungan gereja terhadap upaya pemberdayaan masyarakat, khususnya para petani kopi. Ke 2 lokasi tersebut terletak di Mano seluas 10 ha dan di Labuan Bajo yang akan menjadi rencana etalase Pusat Informasi dan Promosi Kopi.

Sementara 2 lokasi lainnya merupakan lahan kopi milik masyarakat yang akan didampingi oleh MPIG melalui berbagai pelatihan guna memperkuat kapasitas SDM petani kopi untuk dapat mencapai kualitas kopi yang memenuhi standar.

Selain itu, pengembangan destinasi wisata baru kopi ini juga akan melibatkan kalangan akademisi dari beberapa Universitas dan Perguruan Tinggi yang akan membentuk Tim Terpadu guna melakukan riset dan kajian terhadap keseluruhan rencana pengembangan destinasi wisata baru, antara lain Universitas Brawijaya, Universitas Nusa Cendana Kupang, STKIP St. Paulus Ruteng, dan Kampus Poltekpar El Bajo Commodus.