Problematika Pekerja Migran NTT

Sebagian besar pekerja migran dari Nusa Tenggara Timur umumnya terdorong oleh upah yang relatif lebih tinggi dibanding upah yang diterima di daerah asal. Namun, sebagian dari pekerja migran ada yang termotivasi oleh alasan lain, karena dorongan orangtua”. (catatan: White, hanya memberikan kepada saya beberapa lembar hasil penelitiannya. Tulisan ini saya kutip dari penelitiannya atas izin White)

Faktor pendorong dan penarik di atas sebenarnya merupakan hukum ekonomi yang wajar jika prosesnya dilalui berdasarkan kriteria yang dibutuhkan. Persoalan menjadi lain manakala tenaga kerja dari negara pengirim bermigrasi secara ilegal dan/atau tanpa keahlian serta persiapan yang diperlukan. Dalam konteks ini, munculah dua macam migrasi, yaitu yang legal (resmi) dan yang ilegal (gelap). Status gelap inilah yang kemudian menyebabkan pekerja migran sangat rentan mengalami permasalahan sosial-psikologis.

Menurut White, dalam arus migrasi dari Nusa Tenggara Timur ini, terdapat fenomena lain yang disebut “ migration feminism,” yakni, bahwa “migration is increasingly dominated by girls and women. The collapse of the local economic system caused many girls and women to be exposed to global workplaces to make a living” (terjemahan bebas penulis: migrasi semakin didominasi oleh anak gadis dan perempuan. Ambruknya sistem ekonomi lokal menyebabkan banyak anak-anak gadis  dan perempuan yang diekspos ke tempat-tempat kerja global guna mencari penghidupan).

Menurut White, “This situation will intensify in East Nusa Tenggara, which has experienced an economic crisis, especially in East Flores, parts of Timor Island, as Sumba as well as areas that experience domestic conflict and disunity in families. In the context of NTT, this migration feminism occurs in the form of sending large-scale migrant workers to Hong Kong, Saudi Arabia, Malaysia and Singapore” (terjemahan bebas penulis: situasi ini akan semakin menjadi-jadi di Nusa Tenggara Timur yang mengalami krisis ekonomi terutama di Flores Timur, sebagian pulau Timor, sebagai Sumba serta daerah-daerah yang mengalami konflik dalam rumah tangga dan perpecahan dalam keluarga. Dalam konteks NTT, feminisme migrasi ini terjadi dalam bentuk pengiriman TKW besar-besaran antara lain ke Hongkong, Arab Saudi, Malaysia dan Singapura). .

Ada bab yang paling menarik dari hasil penelitian White, di Bab  di bawah judul: Box Off Migrant Workers East Nusa Tenggara (Peti Mati Pekerja Migran Nusa Tenggara Timur), mengatakan begini:

“Most Melanesian races, including East Nusa Tenggara, Alor, Solor, Pantar and Flores have strong body structures. Although the body of this race is classified as small and short but they can walk far with high speeds can reach 80km per day. They can go up and down the mountain by not wearing footwear even though the weather is hot. Their organs include strong and agile. They are close to nature. They concentrate on what is produced by nature. The Lama Holot tribe and the surrounding islands consume a lot of fish”.(terjemahan bebas penulis: Sebagian besar ras Melanesia termasuk, Nusa Tenggara Timur, Alor, Solor, Pantar dan dan Flores mempunyai struktur tubuh yang kuat. Walaupun badan ras ini tergolong kecil dan pendek namun mereka bisa berjalan jauh dengan kecepatan tinggi bisa mencapai 80km per hari. Mereka bisa naik turun gunung dengan tidak memakai alas kaki walau pun cuaca panas. Organ-organ tubuh mereka termasuk kuat dan lincah. Mereka dekat dengan alam. Mereka berkonsum apa yang dihasilkan oleh alam. Suku Lama Holot dan pulau sekitarnya mengkonsum ikan sangat banyak.

Lebih lanjut White mengatakan : All the results of studies in the world say that the Melanesian race’s limbs must be very good. Their organs such as the eyes, teeth, ears, heart, lungs, kidneys, liver are best among other races in the world. The death of migrant workers from East Nusa Tenggara is not caused by a disease, but it is related to the trade in body tissue” (terjemahn bebas penulis: Semua hasil studi di dunia mengatakan bahwa anggota tubuh ras Melanesia pasti baik sekali. Organ-organ tubuh mereka seperti mata, gigi, telinga, jantung, paru-paru, ginjal, liver paling bagus di antara ras lain di dunia. Kematian pekerja migran asal Nusa Tenggara Timur bukan karena disebabkan oleh penyakit, melainkan terkait dengan perdagangan jaringan anggota tubuh).

Menurut White : “The human body trade network not only involves the sending companies of migrant workers but also involves the recipient companies of migrant workers. Receiving country of migrant work as an agent. We are trapped in the framework of economic improvement. It’s actually a small thing. The bigger thing is organ trade. We see in East Nusa Tenggara that there are corpses that are sent to be sure that the first two things should not be opened, second. the condition must not be examined. And I found all of that in my research from 2004 to 2017. All the shipping costs of corpses, including the costs of hosting, were the responsibility of the company. (terjemahan bebas penulis: Jaringan perdagangan anggota tubuh manusia ini tidak saja hanya melibatkan perusahaan pengirim tenaga kerja migran akan tetapi juga melibatkan perusahaan penerima pekerja migran.

Negara penerima pekerja migran sebagai agen. Kita terjebak dalam kerangka perbaikan ekonomi. Sebenarnya itu hal kecil. Hal yang lebih besar adalah perdagangan organ tubuh. Kita lihat di Nusa Tenggara Timur kalau ada korban mayat yang dikirim pasti dua hal pertama peti mati tidak boleh dibuka, kedua. mayat tidak boleh diperiksa kondisinya. Dan Saya menemukan semua itu dalam peneltian saya dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2017. Semua biaya pengiriman jenasah termasuk biaya penguburan menjadi tanggungjawa perusahaan. Diperkirakan setiap nilai jual organ tubuh setiap orang mencapai dua puluh miliyar rupiah”.

Kebanyakan para pekerja migran ini tidak paham hak dan kewajibannya. Kenyataan yang mereka hadapi sangat berbeda dengan gambaran yang mereka peroleh  dari PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) sebelum diberangkatkan ke negara tujuan. Mereka memiliki dua “musuh” yakni majikan dan perusahaan pengerah tenaga kerja.

Penanganan pekerja migran internal selama ini lebih banyak menyentuh aspek hilir ketimbang hulu. Padahal, menyentuh persoalan di hilir saja seperti halnya kegiatan “menyapu sampah di halaman rumah”. Sedangkan, membersihkan penyebab yang mengotori halaman tersebut tidak tersentuh. Dengan demikian, penanganan persoalan pekerja migran perlu dilakukan secara terpadu. Ekoturisme, pengembangan agroindustri, dan penciptaan lapangan kerja di pedesaan, antara lain, dapat memperbaiki kemakmuran desa yang pada gilirannya membantu membatasi laju migrasi ke luar negeri.

Pemberian pelatihan bagi peningkatan produktivitas ekonomi kecil, bantuan permodalan, dan pemberdayaan masyarakat miskin kiranya masih tetap diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kapasitas pekerja migran ini.
Selama ini, kedutaan besar Indonesia di negara-negara lain belum memiliki atase sosial. Oleh karena itu, penempatan atase sosial, terutama di negara-negara yang banyak menerima TKI, perlu dipertimbangkan. Atase sosial ini harus memiliki keahlian yang lengkap mengenai konseling, advokasi, pendampingan sosial, dan teknik-teknik resolusi konflik.

Di dalam negeri, pembekalan terhadap TKI tidak hanya menyangkut “cara-cara bekerja dengan baik” di negara tujuan. Namun, sebaiknya menyangkut pula coping strategies dalam menghadapi persoalan yang mungkin timbul di negara tujuan. Pelatihan mengenai strategi penanganan masalah ini bisa menyangkut pengetahuan mengenai karakteristik politik dan sosial-budaya negara tujuan, serta cara-cara menghadapi burn-out (kebosanan kerja), stress, kesepian, maupun pengetahuan mengenai fungsi dan tugas kedutaan besar.  Semoga Gubernur NTT terpilih memperbanyak penciptaan lapangan kerja, memberi pelatihan bagi kaum ibu dan anak muda dan jaringan kerjasama pasar produk pertanian.

 

Ben Senang Galus, penulis buku: Demokrasi Bumi dan Air, tinggal di Yogyakarta

 

Komentar